News

/

Latest News

Prof. Yasuhiko Tabata Bagikan Dinamika Biomaterial & Regenerative Medicine di FKG UGM

“Saya tidak ingin berhenti sampai publikasi, saya ingin teruskan sampai kita bisa membuat produk. Kita harus membuat produk yang akan digunakan, bukan hanya produk yang bisa diberikan di pembukuan akademik semata.”

Prof. Yasuhiko Tabata, D.Eng., D.Med., D.Pharm

Di tengah meningkatnya tantangan dinamika & tantangan keilmuan kedokteran gigi global, seperti  resistansi antibiotik, infeksi pascaoperasi, hingga kebutuhan teknologi regeneratif yang lebih aman, Prof. Yasuhiko Tabata muncul sebagai salah satu ilmuwan di Asia yang berpengaruh dalam bidang biomaterial, Drug Delivery System (DDS), dan regenerative medicine.

Kunjungan dan diskusi intensif Prof. Tabata begitu akrab disapa, diterima oleh Wakil Dekan FKG UGM Bidang SDM, Aset, & Keuangan drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech, Ph.D. Wakil Dekan FKG UGM Bidang Riset, Kerjasama & Pengabdian Masyarakat drg. Trianna Wahyu Utami, MD.Sc, Ph.D, Kaprodi S3 Ilmu Kedokteran Gigi, Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D beserta jajaran dosen & staf FKG UGM.  Perbincangan panjang terkait kolaborasi riset, transfer teknologi, pengembangan biomaterial halal, hingga hilirisasi produk medis menunjukkan arah baru diplomasi bidang sains di Asia, riset tidak lagi berhenti di publikasi, tetapi harus menjadi produk yang menyentuh pasien dan industri.

Ilmuwan yang Menyatukan Sains Dasar & Industri

Prof. Tabata dikenal luas sebagai pionir biomaterial modern di Jepang. Berdasarkan profil akademiknya, ia merupakan Professor Emeritus Kyoto University dan memimpin kelompok riset “Cell Biotechnology” di Graduate School of Medicine, Kyoto University. Ia memiliki rekam jejak mendalam & bedampak dalam akademik, lebih dari 1.700 publikasi ilmiah, 130 karya paten, serta berbagai penghargaan internasional dalam bidang biomaterial dan regenerative medicine.

Karier akademiknya dibangun dari kajian multidisiplin seperti: kimia polimer, farmasi, biologi sel, kedokteran regeneratif, hingga teknologi diagnostik medis. Ia juga pernah menjadi visiting scientist di Massachusetts Institute of Technology (MIT) bersama Robert Langer, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia bioengineering modern.

Namun yang membuat Prof. Tabata berbeda bukan hanya produktivitas ilmiahnya, melainkan obsesinya pada translational riset yang menjembatani lebih signifikan antara laboratorium dengan kebutuhan klinis & industri.

In courtesy meeting bersama FKG UGM, Prof. Tabata menjelaskan filosofi risetnya:

“Saya tidak ingin berhenti sampai publikasi, saya ingin teruskan sampai kita bisa membuat produk. Kita harus membuat produk yang akan digunakan, bukan hanya produk yang bisa diberikan di pembukuan akademik semata.”

Pernyataan itu terasa seperti otokritik terhadap kultur akademik yang sering terjebak pada jumlah publikasi tanpa keberanian menjadikannya menuju produk nyata.

Biomaterial, Antibiotik, dan Potensi Krisis Kesehatan Masa Depan

Salah satu fokus diskusi paling penting adalah ancaman resistansi antibiotik dan hospital acquired infection, suatu infeksi yang muncul setelah tindakan medis di rumah sakit.

Prof. Ika menjelaskan bahwa teknologi scaffold dan hidrogel untuk regenerasi jaringan sebenarnya berkembang sangat cepat. Namun tantangan terbesar muncul ketika material tersebut digunakan pada area infeksi seperti periodontitis atau osteomielitis.

"Scaffold ini sangat bagus untuk meningkatkan regenerasi, tapi jika terjadi infeksi, degradasinya menjadi sangat cepat dan sulit dikendalikan,” ungkap salah satu peneliti dalam forum tersebut.

Prof. Tabata menanggapi, “Biomaterial tidak cukup hanya bersifat struktural, tetapi harus mampu ‘berkomunikasi’ dengan sistem biologis tubuh.

Ia mendorong kombinasi antara hidrogel, sistem pelepasan antibiotik lokal, aktivasi makrofag, dan pengendalian inflamasi kronis. Menurutnya, masa depan regenerative medicine bukan hanya memperbaiki jaringan, tetapi mengatur respon imun tubuh secara presisi.

“Kita harus mengaktifkan makrofag. Itu sangat bagus untuk mengendalikan inflamasi kronis,” kata Prof. Tabata.

Pendekatan ini menunjukkan pergeseran paradigma besar dalam biomaterial modern, dari biomaterial pasif menuju biomaterial cerdas.

Indonesia Dilihat Sebagai Mitra Strategis

Yang menarik, Indonesia tidak diposisikan sekadar sebagai “pasar” teknologi Jepang. Dalam diskusi tersebut, Indonesia justru dipandang memiliki potensi strategis sebagai produsen biomaterial dan medical devices. Beberapa faktor yang disebutkan antara lain: sumber daya manusia yang kompetitif, fasilitas technopark dan sterilisasi, jaringan standardisasi, serta peluang pengembangan produk biomaterial halal untuk pasar muslim global.

In courtesy meeting muncul pembahasan signifikan mengenai peluang produksi biomaterial berbasis silk elastin hybrid protein education in Indonesia.

Diskusi berkembang melangkah lebih jauh, produk biomaterial halal dinilai berpotensi besar masuk ke pasar Asia Tenggara, Timur Tengah, bahkan Eropa.

Prof. Tabata menyambut gagasan tersebut dengan antusias. “Oh, itu berita yang sangat baik,” katanya ketika mendengar potensi standardisasi dan sertifikasi halal di Indonesia. Suatu potensi strategis yang perlu dikaji lebih lanjut.

Terapi Mitokondria & Masa Depan Kedokteran Gigi Regeneratif

Di bagian lain diskusi, Prof. Tabata juga menyinggung tema yang jauh lebih futuristik, yakni terapi mitokondria. Ia menjelaskan bagaimana transplantasi mitokondria mulai dipandang sebagai pendekatan baru dalam regenerative medicine.

“Mitokondria adalah rumah energi,” katanya.

Menurutnya, tantangan terbesar terapi ini adalah bagaimana menjaga kompatibilitas biologis dan mengantarkan mitokondria secara efektif ke jaringan target. Di sinilah biomaterial kembali memainkan peran sentralnya.

Topik ini memperlihatkan bahwa regenerative medicine generasi berikutnya kemungkinan tidak lagi hanya berbicara tentang stem cells, tetapi juga rekayasa organel seluler, nano delivery system, dan biomaterial cerdas.

Dari Kyoto ke Yogyakarta, Meniti Masa Depan Biomaterial

Perbincangan juga menyororti bagaimana jejaring ilmuwan asia sedang mencoba membangun poros baru ilmu pengetahuan yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dunia barat.

Prof. Tabata adalah salah satu pendiri Asian Biomaterial Federation (ABF) dan aktif membangun jaringan biomaterial Asia selama puluhan tahun. Dalam courtesy meeting tersebut, muncul gagasan: pertukaran mahasiswa, mentoring dari laboratorium Kyoto, onference biomaterial Asia, hingga penguatan jejaring riset regeneratif lintas negara.

Prof. Tabata membuka peluang bagi dosen & mahasiswa FKG UGM untuk belajar langsung di laboratoriumnya di Kyoto, Jepang.

“Of course. Because our lecturer also need some training and also some new insight,” ujarnya ketika ditanya kemungkinan pendampingan dosen dan mahasiswa sekaligus.

Sikap itu menunjukkan karakter penting kepemimpinan ilmiah di kawasan asia, yakni membangun generasi baru melalui transfer pengalaman, bukan sekadar transfer teknologi.

Kritik Terhadap Dunia Akademik

Di balik percakapan santai itu, tersirat kritik erhadap dunia riset modern. Prof. Tabata berulang kali menekankan pentingnya keberlanjutan kolaborasi industri-akademik. Ia menyebut bahwa banyak laboratorium kesulitan memperoleh pendanaan karena hubungan dengan industri tidak dibangun dalam jangka panjang.

“Sangat sulit mendapatkan pendanaan. Saya merasa beruntung karena punya sejarah panjang kolaborasi dengan perusahaan lebih dari 20 tahun,” ungkapnya.

Pesan ini sangat relevan bagi dunia akademik di Indonesia yang masih sering terjebak pada proyek jangka pendek dan orientasi administratif semata.

Dalam paradigma Prof. Tabata, reputasi ilmiah dibangun melalui: konsistensi, kepercayaan industri, keberanian translasi teknologi dan jejaring internasional yang hidup. Bukan semata-mata indeks sitasi.

Inspirasi bagi Generasi Muda Asia

Meski memiliki telah bereputasi global, Prof. Tabata tetap menunjukkan perhatian besar terhadap generasi muda. Ia membicarakan pentingnya student exchange, mentoring internasional, dan pembentukan ekosistem kolaboratif lintas disiplin.

Bagi Prof. Tabata, masa depan biomaterial dan regenerative medicine tidak bisa dibangun oleh satu disiplin ilmu saja. Kimiawan, dokter, mikrobiolog, insinyur, farmasis, dan industri harus bekerja dalam satu ekosistem.

Kota Kyoto bukan saja dikenal dengan The Brilliant Green ataupun 10-FEET pesohor band rock papan atas asal Jepang, namun juga melahirkan sosok Prof. Yasuhiko Tabata yang telah mewarnai Asia dengan keilmuannya Cell Biotechnology di Graduate School of Medicine, Kyoto University.

Kolaborasi menjadi kunci, sinergi menjadi esensi, dan ego sektoral kiranya harus direduksi, demi perwujudan nyata riset menuju hilirisasi.

(Reporter: Andri Wicaksono, Photographer: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Share News

Related News
20 May 2026

Deteksi Dini Gangguan Psikiatri, FKG UGM Wajibkan Mahasiswa Ikuti Screening MMPI Jelang Koas

19 May 2026

Seleksi Ketat, Transparan, & Berintegritas Dalam Penerimaan PPDGS FKG UGM Gelombang II 2026

19 May 2026

Beasiswa Dentes, Merajut Asa Koas FKG UGM Menjadi Dokter Gigi

en_US