Sebanyak 58 siswa Abata Indonesia Temanggung mengikuti edukasi kesehatan gigi dan mulut serta pemeriksaan kesehatan gigi yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Gigi Klinis (IKGK) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) pada 6 Juni 2026. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut juga diisi dengan pendampingan sikat gigi bersama yang melibatkan dosen dan mahasiswa residen Magister IKGK.
Ketua Program Studi Magister IKGK FKG UGM, drg. Asikin Nur, M.Kes., Ph.D., menjelaskan bahwa anak-anak dengan hambatan pendengaran memiliki kebutuhan yang perlu mendapat perhatian dalam pelayanan kesehatan, termasuk kesehatan gigi dan mulut. Menurutnya, keterbatasan komunikasi dapat menjadi tantangan dalam proses pemeriksaan maupun penyampaian edukasi kesehatan. Karena itu, tenaga kesehatan perlu memahami pendekatan yang sesuai agar informasi kesehatan dapat diterima dengan baik oleh anak-anak berkebutuhan khusus.
“Setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas. Melalui kegiatan ini kami ingin memahami kebutuhan mereka secara lebih dekat, sekaligus memberikan edukasi dan pemeriksaan kesehatan gigi yang sesuai dengan kondisi serta karakteristik peserta,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti pada pemberian pemeriksaan gigi saja. Data dan temuan yang diperoleh selama kegiatan akan menjadi bahan evaluasi untuk menyusun program lanjutan yang lebih tepat sasaran.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa mendapatkan penyuluhan mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Setelah itu, tim melakukan pemeriksaan kesehatan gigi untuk mengetahui kondisi rongga mulut peserta. Materi yang diberikan kemudian dipraktikkan melalui kegiatan sikat gigi bersama yang didampingi langsung oleh mahasiswa residen Magister IKGK.
Abata Indonesia merupakan lembaga pendidikan berbasis asrama yang mendampingi anak-anak tunarungu melalui pendidikan formal, pendidikan agama, serta pembinaan kemandirian. Saat ini, lembaga yang berdiri sejak tahun 2016 tersebut membina puluhan siswa dari berbagai daerah.
Kepala Sekolah Abata Indonesia, Erlita Agustia, S.Pd., menyambut baik pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dari FKG UGM. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi para siswa, terutama dalam meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan diri, termasuk kesehatan gigi dan mulut.
Selain melakukan penyuluhan dan pemeriksaan, para mahasiswa residen juga mendampingi siswa dalam kegiatan sikat gigi bersama. Pendampingan dilakukan secara langsung agar siswa dapat mempraktikkan cara menyikat gigi yang baik dan benar sesuai materi yang telah diberikan.









Bagi mahasiswa residen, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada anak berkebutuhan khusus. Salah satu mahasiswa residen Magister IKGK FKG UGM, drg. Nafisah Elok, mengaku mendapatkan banyak pelajaran selama berinteraksi dengan para siswa Abata Indonesia.
“Sebagai operator, saya merasa kegiatan ini sangat berkesan. Menghadapi pasien anak tentu membutuhkan kesabaran, apalagi anak-anak tunarungu yang memerlukan cara komunikasi berbeda. Namun anak-anak atau teman tuli juga sangat kooperatif dan antusias sehingga saya senang bisa memeriksa mereka,” ucapnya.
Menurut Elok, tantangan utama selama pemeriksaan terletak pada proses komunikasi. Meski demikian, berbagai bentuk komunikasi nonverbal justru menjadi jembatan yang membantu membangun kedekatan dengan peserta.
“Kesulitan komunikasi tentu ada, terutama saat memberi instruksi seperti membuka mulut atau menjelaskan tindakan. Namun saya belajar bahwa komunikasi tidak selalu harus dengan kata-kata. Senyuman, kontak mata, bahasa tubuh, dan bantuan guru atau pendamping sangat membantu membuat anak merasa nyaman,” katanya.
Pengalaman yang paling membekas baginya adalah ketika anak-anak yang awalnya tampak ragu mulai merasa nyaman dan bersedia bekerja sama selama pemeriksaan berlangsung.
“Hal yang paling membekas dari kegiatan ini adalah ketika anak-anak mulai merasa nyaman dan mau bekerja sama setelah awalnya tampak takut saat akan diperiksa. Dari kegiatan ini saya belajar bahwa pelayanan kesehatan gigi pada anak, khususnya anak berkebutuhan khusus, tidak hanya membutuhkan keterampilan klinis, tetapi juga empati, kesabaran, dan kemampuan memahami kebutuhan pasien secara lebih luas. Pengalaman ini menjadi pengingat bagi saya bahwa setiap anak berhak mendapatkan pelayanan kesehatan gigi yang aman, nyaman, dan penuh perhatian,” pungkasnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran kesehatan gigi dan mulut pada anak-anak tunarungu sekaligus memperoleh gambaran awal mengenai kondisi kesehatan peserta. Hasil pemeriksaan yang dilakukan diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan program tindak lanjut yang sesuai dengan kebutuhan mitra.
Author: Fajar Budi Harsakti
Photo: Fajar Budi Harsakti