News

/

Latest News

SI-OBA: Ketika Angka Harus Membuktikan Kompetensi

Transformasi pendidikan tinggi tidak lagi cukup diukur dari berapa banyak Satuan Kredit Semester (SKS) yang ditempuh mahasiswa atau seberapa tinggi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tercetak di transkrip. Di balik tuntutan administrasi akademik yang semakin terdigitalisasi, perguruan tinggi menghadapi pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa sebenarnya kompetensi yang mampu dibuktikan mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikannya?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu isu penting dalam penerapan Outcome-Based Education (OBE) di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), melalui Workshop Pembuatan Portofolio dan Pengisian Sistem Informasi Outcome-Based Assessment (SI-OBA) yang digelar 12–13 Agustus 2026 di Gedung Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM.

Membuka lokakarya secara resmi, Wakil Dekan Bidang Akademik FKG UGM, Prof. drg. Rosa Amalia, M.Kes.,Ph.D menegaskan esensi utama dari peralihan sistem kurikulum ini. Beliau mengingatkan seluruh staf pengajar dan pengelola kurikulum agar tidak terjebak pada persepsi dangkal bahwa pengisian SiOBE hanyalah pemenuhan administrasi tanpa dampak klinis maupun akademik yang nyata.

“Sebetulnya mahasiswa kita itu akan kita jadikan apa? Setelah lima tahun nanti kita bertemu mahasiswa yang lulus, kita tidak hanya ingin mendengar mereka mengatakan ‘Saya dapat IPK sekian’ atau ‘Saya mendapat pembelajaran dengan 158 SKS selama saya kuliah.’ Tapi kita ingin mendengar bahwa ‘Saya sudah jadi dokter gigi yang belajar berpikir, punya pikiran kritis, dan komunikatif dengan baik,'” Urai Prof.Rosa.

Lebih lanjut, Prof. Rosa menguraikan bahwa seluruh rangkaian proses pembelajaran, pemberian materi, hingga pelaksanaan ujian tidak boleh berhenti pada sebatas formalitas proses. Pengukuran outcome melalui SiOBE menjadi kunci utama untuk mengenali kesenjangan (gap) antara harapan kompetensi dan capaian riil mahasiswa.

“Ini sebenarnya pentingnya Bapak/Ibu. Ini bukan pekerjaan administratif biasa di mana kita sekadar mengisi sistem, tetapi kita akan melihat capaian mahasiswa, melihat mana yang sudah bagus dan belum, lalu mengenali gap-nya untuk kemudian kita perbaiki. Kita memastikan pembelajaran yang kita berikan betul-betul menjadi basis kompetensi mereka kelak dan semoga menjadi amal jariyah bagi kita,” tambah Prof Rosa.

Workshop tersebut bukan sekadar pelatihan teknis pengisian sistem digital. Dalam TOR kegiatan, FKG UGM menempatkan SI-OBA sebagai instrumen untuk mengintegrasikan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga penjaminan mutu pembelajaran. Karena itu, kemampuan dosen dan pengelola program studi dalam menyusun Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS) serta portofolio menjadi bagian penting dari agenda peningkatan mutu akademik.

Kegiatan ini melibatkan ketua dan sekretaris program studi serta penanggung jawab mata kuliah dan topik dari berbagai jenjang pendidikan di FKG UGM, termasuk program sarjana, magister, doktor, serta sejumlah program spesialis. Agenda workshop dirancang tidak berhenti pada pemaparan materi, tetapi dilanjutkan dengan diskusi, praktik langsung, dan pendampingan pengisian SI-OBA.

Administrasi Menuju Bukti Kompetensi

Dalam konsep Outcome-Based Education (OBE), titik berangkat pembelajaran bukan lagi semata-mata materi apa yang harus disampaikan dosen, melainkan kompetensi atau learning outcomes. apa yang harus dicapai mahasiswa.

Pimpinan pementor dalam pembukaan workshop menegaskan bahwa perubahan paradigma tersebut menuntut perguruan tinggi melihat keberhasilan pendidikan secara lebih substantif.

“Kita tidak hanya ingin mendengar lulusan mengatakan ‘Saya dapat IPK sekian’ atau ‘Saya dapat pembelajaran 158 SKS’. Tapi kita ingin mendengar ‘Saya sudah jadi dokter gigi yang berpikir kritis dan komunikatif.’ Ini bukan pekerjaan administratif biasa, tetapi cara kita mengenali gap capaian mahasiswa untuk perbaikan berkelanjutan.”

Pernyataan tersebut memperlihatkan persoalan utama yang hendak dijawab melalui SI-OBA. Sistem informasi pada akhirnya bukan tujuan, melainkan instrumen untuk mengetahui apakah proses pembelajaran benar-benar menghasilkan kompetensi sebagaimana dirancang.

Secara kelembagaan, penerapan OBE di UGM juga bukan agenda yang berdiri sendiri. Bahan yang digunakan dalam workshop menyebutkan bahwa penerapan OBE telah memiliki landasan Peraturan Rektor sejak 2020 dan berjalan selaras dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) serta Standar Nasional Pendidikan Tinggi.

drg. Fimma Naritasari, MDSc selaku narasumber kurikulum UGM, menjelaskan bahwa prinsip utama OBE adalah memastikan seluruh proses pembelajaran dan asesmen bergerak menuju capaian lulusan yang telah ditetapkan.

“Semua panah berasal dari learning outcomes.. Tujuannya dirancang di awal, lalu aktivitas pembelajaran dan asesmen wajib mengukur tujuan tersebut secara presisi. Jangan sampai tujuannya mahasiswa bisa scaling atau tindakan klinis, tetapi pengujiannya hanya berupa tes tertulis di atas kertas,” ujar drg. Fima.

Di titik ini, OBE membawa konsekuensi yang cukup serius bagi desain pembelajaran. Jika kompetensi yang ditargetkan bersifat klinis, maka asesmen idealnya juga harus mampu menangkap kemampuan klinis tersebut. Tes tertulis semata berisiko menghasilkan gambaran yang tidak utuh mengenai kompetensi mahasiswa.

Ketika Kompetensi Dikonversi Menjadi Angka

Namun, justru pada tahap implementasi itulah persoalan kritis muncul. Pengisian data nilai, pemetaan CPMK, hingga verifikasi keterkaitan antara soal dan CPL dapat menjadi pekerjaan yang memakan waktu. Bahan berita workshop mencatat adanya kegelisahan dari peserta mengenai apakah angka yang dihasilkan sistem benar-benar mampu menggambarkan kompetensi mahasiswa.

Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D. menanyakan persoalan tersebut.“Apakah ada standarnya seseorang itu mencapai kompetensi atau tidak? Karena yang dikeluarkan oleh sistem kan berupa angka. Padahal tujuan akhirnya adalah mencerminkan perkembangan studi mahasiswa,”

Pertanyaan tersebut penting karena menyentuh paradoks dalam sistem penilaian berbasis data. Di satu sisi, digitalisasi membutuhkan data yang terstruktur dan dapat diolah. Di sisi lain, kompetensi professional, terlebih dalam pendidikan kedokteran gigi, tidak selalu mudah dikonversi menjadi suatu angka.

Jika sistem terlalu menitikberatkan pada angka, terdapat risiko bahwa OBE justru berubah menjadi bentuk baru dari administrasi akademik: data lengkap, tabel terisi, tetapi makna kompetensi yang hendak diukur menjadi kabur.

Persoalan itu diakui oleh drg. Fima. Menurutnya, penggunaan angka dalam SI-OBA merupakan bentuk penyederhanaan sistemik agar satu sistem dapat digunakan oleh berbagai program studi dengan karakteristik yang berbeda.

Karena itu, ia menyarankan penggunaan scoring rubric and standard setting untuk memastikan batas pencapaian tidak sekadar menjadi angka matematis, tetapi benar-benar merepresentasikan kompetensi.

“Sebetulnya kalau bicara kompetensi, kategorinya adalah kompeten dan tidak kompeten. Angka hanya pendekatan. Batas itu bisa diperjelas lewat rubrik penilaian yang ketat sejak awal,” tambah drg. Fima.

Tantangan Lebih Besar Pada Pendidikan Profesi

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika sistem yang bersifat generik diterapkan pada pendidikan profesi dan spesialis. Pendidikan klinis memiliki karakter yang berbeda dari pembelajaran berbasis mata kuliah konvensional. Perkembangan mahasiswa berlangsung melalui pengalaman klinis, stase, praktik, observasi, umpan balik, dan evaluasi yang berlangsung secara berkelanjutan.

Bahan workshop mencatat bahwa siklus SI-OBA yang berbasis semester dinilai kurang fleksibel untuk menangkap dinamika tersebut. Jadwal dan stase klinis dapat bergerak cepat, sementara perkembangan kompetensi mahasiswa lebih tepat dipahami sebagai proses individual yang berlangsung longitudinal.

Karena itu, muncul wacana jangka panjang mengenai pengembangan e-Portfolio terintegrasi. Instrumen tersebut diharapkan mampu merekam perkembangan mahasiswa secara longitudinal, termasuk refleksi diri dan umpan balik.

(Reporter: Andri Wicaksono, Photo: Fajar Budi Harsakti)

Tags

Share News

Related News
12 August 2026

Menembus Batas Pembedahan Kanker Mulut: Antara Presisi Bedah, Tantangan Sosiokultural, & Humanisme Rekonstruksi Wajah

12 August 2026

Menyibak Tabir Resistensi Kanker Mulut: Rasio Neutrofil-Limfosit & Era Baru Imunoterapi Presisi

12 August 2026

Seleksi Calon Dekan FKG UGM Periode 2026-2031

en_US