News

/

Latest News

Menembus Batas Pembedahan Kanker Mulut: Antara Presisi Bedah, Tantangan Sosiokultural, & Humanisme Rekonstruksi Wajah

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) mengadakan kuliah pakar bidang bedah mulut & maksilofasial. Di hadapan para klinisi, akademisi, dan residen bedah mulut dan maksilofasial, Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D. pakar bedah mulut dan maksilofasial terkemuka dari Yonsei University, Korea Selatan menyampaikan kuliah pakar bertajuk “Principles of Surgical Resection in Oral Cancer: Clear Margins and Choosing the Right Flap for the Right Defect”.

Dalam pemaparannya, Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D. tidak hanya membedah teknis pembedahan onkologi modern, tetapi juga menyuarakan otokritik terhadap tantangan epidemiologi di Asia Tenggara, batas-batas teknologi modern, serta tanggung jawab etis dokter gigi dalam mengembalikan identitas kemanusiaan pasien.

Pembedahan Onkologi: Lebih dari Sekadar Memotong Tumor

Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D. mengawali presentasinya dengan menegaskan kompleksitas anatomi rongga mulut yang terdiri dari gabungan jaringan keras dan lunak mulai dari gigi, tulang, mukosa, otot, hingga saraf dan pembuluh darah. Tidak seperti organ tubuh lainnya, kanker di area maksilofasial membawa dampak psikosomatik yang mendalam karena memapar langsung wajah simbol identitas pribadi seseorang.

“Pembedahan dan rekonstruksi wajah bukan sekadar mengembalikan fungsi masticatory atau estetik belaka, melainkan mengembalikan identitas dan personalitas individu. Ketika kita melakukan reseksi pada jaringan pipi atau rahang, pemulihan psikologis dan kemampuan pasien untuk kembali diterima di masyarakat menjadi taruhan utamanya,” tegas Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D.

Secara klinis, Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D. menguraikan bahwa bedah primary tumor merupakan pilar utama penanganan kanker mulut. Mengingat jaringan tulang tidak terlalu sensitif terhadap radioterapi atau kemoterapi, eksisi bedah dengan clear margins (batas sayatan bebas tumor) menjadi kunci determinan survival pasien.

Kanker Pipi (Buccal Cancer) dan Tradisi Mengunyah Pinang di Asia Tenggara

Salah satu sorotan kritis dalam pemaparan Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D. adalah perbedaan epidemiologis antara Asia Timur dan Asia Tenggara. Di Korea Selatan dan Jepang, insidensi buccal cancer relatif rendah. Sebaliknya, negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, India, Sri Lanka, dan Taiwan menghadapi lonjakan kasus akibat kebiasaan lokal menyirih atau mengunyah biji pinang (betel nut) yang mengandung zat karsinogenik.

“Di Indonesia, angka insidensi kanker mulut diperkirakan mencapai hampir 6.000 kasus baru per tahun lebih dari tiga kali lipat dibanding Korea Selatan yang berada di bawah 2.000 kasus,” ungkap Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D. “Hal ini menuntut para klinisi di Indonesia untuk memiliki penguasaan teknik rekonstruksi flap jaringan lunak yang sangat matang karena defek akibat reseksi buccal cancer sangat memengaruhi fungsionalitas dan kualitas hidup pasien.”

Evolusi Bedah Rekonstruksi: Dari Template Manual hingga Robotik & Jaw in a Day

Berbagi perjalanan karirnya selama lebih dari tiga dekade, Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D. memperlihatkan bagaimana sains bedah berkembang pesat. Ia mengenang masa-masa awal pembedahan pada tahun 1990an saat rekonstruksi defek rahang masih menggunakan bahan cetak putty or template manual.

Kini, integrasi teknologi Virtual Surgical Planning (VSP), pencetakan implan kustom 3D (Patient-Specific Implants), hingga teknik jaw-in-a-Day memungkinkan tim bedah melakukan reseksi tumor, transfer flap tulang (vascularized fibula or iliac crest flap), serta pemasangan implan gigi secara bersamaan dalam satu sesi operasi maraton berdurasi 10 jam.

Selain itu, departemen yang dipimpinnya di Yonsei University menjadi pelopor tunggal di Korea Selatan untuk prosedur robotic neck dissection di bidang bedah mulut dan maksilofasial. Teknologi robotik ini mampu meminimalisir bekas luka operasi di area leher (hiding the scar).

Namun, Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D. secara kritis memberikan catatan batasan teknologi:

“Robotik dan VSP adalah alat bantu yang luar biasa, tetapi teknologi tidak pernah bisa menggantikan intuisi serta kejelian indera klinisi. Di tengah keterbatasan evaluasi penunjang rutin seperti MRI atau CT scan bulanan akibat regulasi asuransi kesehatan, mata dan jari jemari dokter dikombinasikan dengan edukasi pasien yang disiplin tetap menjadi instrumen deteksi dini rekurensi yang paling utama.”

Edukasi Pasien dan Pasca-Operasi: Penyelamatan Kualitas Hidup

Poin penting lain yang disampaikan adalah pentingnya tata laksana pasca-pembedahan (adjuvant therapy) dan pemantauan ketat pada tahun pertama pasca-operasi, di mana mayoritas kasus rekurensi terjadi.

Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D. mengingatkan bahwa tugas dokter bedah tidak selesai saat pasien keluar dari ruang operasi. Efek samping seperti xerostomia (mulut kering), odinofagia (nyeri menelan), disfagia, trismus (keterbatasan membuka mulut), hingga lymphedema leher harus dikelola melalui latihan rehabilitasi mandiri demi memastikan pasien dapat kembali berintegrasi secara sosial.

Pesan Inspiratif: Kolaborasi Interdisiplin dan Dedikasi Tanpa Henti

Mengakhiri kuliahnya, Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D. menekankan bahwa penanganan kanker mulut modern memerlukan kolaborasi erat (multidisciplinary approach) antara ahli bedah mulut, ENT (THT), radionkologi, medik onkologi, hingga spesialis prostodonsia.

“Pembedahan kanker mulut adalah pekerjaan yang berat dan melelahkan. Kami melakukan pembedahan kompleks dari jam 8 pagi hingga 8 malam hampir setiap hari. Ada kalanya kita dihampiri rasa cemas akan komplikasi. Namun, saat melihat pasien bahkan anak usia 10 tahun yang pernah mengalami osteosarcoma dapat kembali bersekolah, bertahan hidup, dan tersenyum dengan rekonstruksi yang baik, di situlah seluruh rasa lelah itu terbayar tuntas,” tutup Prof. Kim Hyung-Jun, Ph.D. dengan haru.

Melalui kuliah pakar ini, UGM dan Yonsei University mempertegas komitmen akademik mereka dalam mempererat kolaborasi riset dan pelayanan medis, demi menjawab tantangan penanganan kanker mulut yang kian kompleks di kawasan Asia.

(Reporter: Andri Wicaksono, Foto: Azahra)

Tags

Share News

Related News
13 August 2026

SI-OBA: Ketika Angka Harus Membuktikan Kompetensi

12 August 2026

Menyibak Tabir Resistensi Kanker Mulut: Rasio Neutrofil-Limfosit & Era Baru Imunoterapi Presisi

12 August 2026

Seleksi Calon Dekan FKG UGM Periode 2026-2031

en_US