News

/

Latest News

Inovasi Obat Kumur Nanoemulsi Herbal untuk Ibu Hamil, Terobosan Baru dari FKG Universitas Gadjah Mada

Upaya meningkatkan kesehatan gigi dan mulut pada ibu hamil memasuki babak baru. Dalam Simposium Dies Natalis ke-78 FKG UGM, sebuah inovasi berbasis biomaterial diperkenalkan, obat kumur nanoemulsi herbal yang dirancang khusus untuk kebutuhan maternal.

Penelitian yang dipaparkan oleh Dr. drg. Friska Ani Rahman, MDSc. dari Departemen Biomaterial FKG UGM, menyoroti tingginya prevalensi gangguan gingiva pada ibu hamil. Data menunjukkan, sekitar 73 % ibu hamil mengalami gingivitis, terutama pada trimester kedua dan ketiga, seiring perubahan hormonal yang memengaruhi kondisi jaringan gingiva.

“Perubahan hormon seperti estrogen dan progesteron berkontribusi pada peningkatan inflamasi gingiva. Ditambah kondisi mual dan kelelahan, motivasi menjaga kebersihan mulut pun menurun,” ujar Friska dalam paparannya.

Keterbatasan Obat Kumur Konvensional

Selama ini, klorheksidin dikenal sebagai gold standard dalam pengendalian plak dan gingivitis. Namun, penggunaannya tidak sepenuhnya ideal, terutama bagi ibu hamil. Efek samping seperti rasa pahit, gangguan pengecapan, hingga pewarnaan gigi menjadi kendala. Selain itu, kandungan alkohol pada sebagian produk komersial juga tidak dianjurkan bagi ibu hamil.

Kondisi ini mendorong perlunya alternatif yang lebih aman, efektif, dan berbasis bahan alami.

Nanoemulsi: Teknologi Kunci

Inovasi yang ditawarkan terletak pada penggunaan teknologi nanoemulsi—sistem dengan ukuran partikel sangat kecil (20–200 nm) yang memungkinkan distribusi zat aktif lebih optimal. Menurut Friska, teknologi ini memiliki sejumlah keunggulan:

  • Stabilitas tinggi tanpa pemisahan fase.
  • Peningkatan bioavailabilitas zat aktif.
  • Efektivitas antibakteri dan antiinflamasi yang lebih baik.
  • Tampilan produk yang jernih dan lebih estetis.

“Dengan ukuran partikel nano, luas permukaan meningkat sehingga penyerapan zat aktif menjadi lebih cepat dan efektif,” jelasnya.

Mengangkat Potensi Herbal Lokal

Yang menarik, formulasi obat kumur ini memanfaatkan bahan herbal khas Indonesia, yakni minyak serai wangi (Cymbopogon winterianus) dan minyak lemon (Citrus limon). Kedua bahan ini kaya akan senyawa aktif seperti limonene, citronellal, dan geraniol yang memiliki sifat antibakteri dan antiinflamasi.

Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen utama minyak serai wangi di dunia, menjadikan inovasi ini tidak hanya relevan secara medis, tetapi juga strategis dari sisi kemandirian bahan baku.

“Kombinasi minyak serai wangi dan lemon berpotensi menjadi solusi lokal yang aman, efektif, dan berkelanjutan,” kata Friska.

Hasil Uji: Menjanjikan, Tapi Perlu Validasi Lanjut

Dalam pengujian laboratorium, formula nanoemulsi menunjukkan stabilitas yang baik dengan ukuran partikel sekitar 215 nm, tingkat kejernihan tinggi (82% transmitan), serta tanpa pemisahan fase (creaming index 0).

Secara biologis, obat kumur ini terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit periodontal, baik Gram positif (Streptococcus sanguinis) maupun Gram negatif (Porphyromonas gingivalis).

Pengujian in vivo pada hewan bunting juga menunjukkan hasil signifikan:

  • Penurunan skor inflamasi gingiva (MGI)
  • Berkurangnya infiltrasi neutrofil
  • Penekanan ekspresi sitokin proinflamasi IL-1β

“Ini menunjukkan bahwa formula tidak hanya bersifat antibakteri, tetapi juga mampu mengendalikan respons inflamasi,” ujar Friska.

Tantangan Selanjutnya

Meski hasil awal tergolong menjanjikan, Friska menegaskan bahwa uji klinis pada manusia masih diperlukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas jangka panjang.

Selain itu, penelitian lanjutan juga dibutuhkan untuk memenuhi standar regulasi, termasuk pengujian stabilitas sesuai ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Menuju Solusi Kesehatan Maternal yang Inklusif

Inovasi ini menjadi contoh bagaimana riset biomaterial dapat menjawab kebutuhan spesifik kelompok rentan, seperti ibu hamil. Lebih jauh, pendekatan berbasis herbal lokal juga membuka peluang pengembangan industri kesehatan yang mandiri dan berkelanjutan.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, terobosan ini bukan sekadar produk baru, tetapi langkah strategis menuju peningkatan kualitas hidup ibu dan anak sejak masa kehamilan.

“Kami berharap inovasi ini dapat menjadi solusi nyata yang aman dan dapat diakses luas, khususnya bagi ibu hamil,” pungkas Friska.

(Reporter: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom, Fotografi: Fajar Budi Harsakti, SE)

Tags

Share News

Related News
22 April 2026

Transformasi Digital UGM, Sinergikan Teknologi Informasi dengan Fungsi Jurnalisme Kehumasan

22 April 2026

Penilaian Kampus Hijau Butuh Bukti Eksekusi Program di Lapangan

22 April 2026

‘SIM’ Baru Lulusan Pascasarjana FKG UGM

en_US