Sebagai langkah preventif untuk mendeteksi ada atau tidaknya gangguan psikiatri pada calon dokter gigi, Program Studi S1 Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menyelenggarakan tes wawancara Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) pada Senin (18/5/2026). Asesmen kejiwaan ini diwajibkan bagi mahasiswa yang akan segera memasuki tahapan pendidikan profesi (koas).
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), dr. Shinta Retno Kusumowati, Sp.KJ., menjelaskan bahwa tes wawancara MMPI merupakan instrumen untuk screening awal. Mengingat isu kesehatan mental di lingkungan pendidikan saat ini menjadi sorotan utama, langkah deteksi dini ini dinilai tepat untuk diterapkan.
“Melalui proses wawancara klinis, akan terlihat jelas apakah ada indikasi gangguan psikiatri pada mahasiswa saat pemeriksaan dilakukan. Sifat dari gejala kejiwaan ini sangat dinamis dan bisa berubah seiring berjalannya waktu, sehingga hasil screening ini memotret kondisi kejiwaan secara real-time atau pada hari tersebut,” terang dr. Shinta.
Secara garis besar, penggolongan gangguan kejiwaan terbagi menjadi gangguan ringan, seperti munculnya gejala cemas dan depresi tanpa hilangnya penilaian terhadap realita, serta gangguan berat atau psikotik, di mana seseorang tidak mampu lagi membedakan antara kenyataan nyata dan fantasi.
“Mencari bantuan psikologis ke psikolog atau psikiater bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan. Hal itu menunjukkan bahwa seseorang memiliki kesadaran diri yang tinggi bahwa ia membutuhkan bantuan dari orang lain. Pelabelan dari masyarakat yang menderita gangguan jiwa hanya karena ‘kurang ibadah’ juga harus dihindari, karena penghakiman semacam itu berisiko justru menjadi pemicu stres yang malah akan menambah depresi,” tegasnya.






Sementara itu, Ketua Program Studi S1 Pendidikan Dokter Gigi FKG UGM, drg. Aryan Morita, M.Sc., Ph.D., mengungkapkan bahwa kebijakan MMPI ini telah diinisiasi sejak tahun 2025. Sebelumnya, hanya menggunakan metode asesmen potential review yang fokus pada penilaian hubungan sosial. Namun seiring berjalannya waktu, instrumen tersebut dirasa belum cukup memadai untuk memotret kondisi psikologis mahamahasiswa secara utuh.
Lebih lanjut drg. Aryan bilang beban dan tekanan saat koas itu sangat berbeda. Reaksi individu juga beragam; ada yang semakin ditekan justru potensinya bisa muncul keluar, namun ada pula yang merasa tidak sanggup hingga depresi.Sebagai rencana tindak lanjut ke depan, prodi berencana menerapkan skema evaluasi exit test bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan masa profesi (koas). “Dengan demikian, kami dapat membandingkan profil kesehatan mental mahamahasiswa saat pertama kali masuk dan saat mereka bersiap lulus,” pungkas drg. Aryan.
Author: Fajar Budi Harsakti
Photo: Fajar Budi Harsakti