Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi dan mulut dinilai masih rendah, padahal dampaknya dapat meluas hingga memicu penyakit serius seperti gangguan jantung dan stroke. Hal ini disampaikan oleh pakar biologi oral, Prof. drg. Tetiana Haniastuti, M.Kes., Ph.D, dalam sebuah pemaparan ilmiah bertajuk “Connecting Oral Biology to Public Needs: Pendekatan Sains untuk Indonesia Sehat.”
Dalam paparannya, Prof. Tetiana menegaskan bahwa biologi oral bukan sekadar ilmu dasar dalam kedokteran gigi, melainkan fondasi penting untuk memahami keterkaitan antara kesehatan mulut dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
“Biologi oral mempelajari struktur, fungsi, hingga proses biologis di rongga mulut, termasuk interaksi mikroorganisme dan respons tubuh. Ini sangat penting untuk menjembatani penelitian sains dengan praktik klinis,” tegasnya.

Bakteri Mulut Bisa Picu Penyakit Jantung
Salah satu temuan penting yang disoroti adalah bagaimana bakteri penyebab penyakit gusi dapat masuk ke aliran darah dan memicu berbagai komplikasi sistemik.
Prof. Tetiana menjelaskan bahwa bakteri seperti Porphyromonas gingivalis dapat berpindah ke pembuluh darah dan berkontribusi terhadap pembentukan plak serta pengerasan arteri.
“Infeksi kronis di rongga mulut dapat menyebabkan peradangan sistemik. Ini menjadi faktor utama dalam kerusakan kardiovaskular,” jelasnya.
Tak hanya itu, kondisi yang lebih serius seperti infective endocarditis juga dapat terjadi ketika bakteri dari mulut menginfeksi katup jantung. Risiko stroke pun meningkat signifikan pada individu dengan penyakit periodontal dan kehilangan gigi.
“Beberapa studi menunjukkan risiko stroke bisa meningkat hingga 86 persen pada pasien dengan masalah gigi yang tidak ditangani,” tambahnya.

Jembatan antara Riset dan Praktik Klinis
Biologi oral juga berperan penting dalam pengembangan teknologi kesehatan, mulai dari perawatan karies hingga inovasi seperti terapi sel punca dan pencetakan 3D dalam kedokteran gigi.
Menurut Prof. Tetiana, pendekatan berbasis sains memungkinkan tenaga medis untuk tidak hanya mengobati, tetapi juga mencegah penyakit sejak dini.
“Kami ingin memastikan bahwa hasil penelitian di laboratorium dapat diterapkan langsung untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” katanya.

Perlu Kesadaran Kolektif
Prof. Tetiana menekankan bahwa peningkatan kesehatan masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada tenaga medis, tetapi juga membutuhkan kesadaran individu.
“Gigi sehat adalah pintu menuju tubuh yang kuat. Jika kita mengabaikan kesehatan mulut, dampaknya bisa sangat luas,” tegasnya.
Dengan semakin jelasnya hubungan antara kesehatan mulut dan penyakit sistemik, biologi oral diharapkan menjadi perhatian utama dalam kebijakan kesehatan nasional. Pendekatan ilmiah yang terintegrasi diyakini mampu mendorong terciptanya masyarakat Indonesia yang lebih sehat secara menyeluruh.
(Reporter: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom, Fotografi: Fajar Budi Harsakti, SE)