YOGYAKARTA (9/26) – Dunia kedokteran gigi internasional kini tengah mengalami pergeseran paradigma yang masif, beralih dari pendekatan kuratif-tradisional yang berfokus pada pembuangan jaringan keras gigi menuju filosofi Kedokteran Gigi Intervensi Minimal atau Minimal Intervention Dentistry (MID). Pendekatan mutakhir ini mengedepankan deteksi dini penyakit sebelum terbentuknya kavitas (lubang gigi), evaluasi risiko holistik pada pasien, serta pelestarian jaringan asli gigi guna mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, drg. Silva Eliana Aspriyanti, Sp.K.G. membagikan studi kasus pasien berusia 30 tahun yang mendapatkan restorasi direct composite veneer langsung pada lesi bintik putihnya (white spot). Tujuh tahun kemudian,restorasi estetis tersebut gagal total akibat diskolorasi, kebocoran margin, gingivitis, dan bau mulut. Kegagalan ini dipicu kelalaian diagnosis holistik, di mana pasien ternyata memiliki riwayat bruxism karena stres kerja, kebiasaan konsumsi kafein/gula tinggi, serta efek obat hipertensi yang menurunkan laju aliran saliva rongga mulut. Penurunan saliva menghilangkan proteksi alami gigi dan mempercepat demineralisasi enamel.
“Setiap kali restorasi diganti, jaringan sehat gigi akan terkikis, memperbesar lubang, dan memicu tooth death spiral (pusaran kematian gigi). Goal utama adalah mempertahankan gigi alami seumur hidup.”— drg. Silva Eliana Aspriyanti, Sp.K.G.
Lima Pilar Utama Kedokteran Gigi Intervensi Minimal (MID):
1.Deteksi Dini (Early Detection): Menolak penggunaan sonde tajam yang merusak karies dini. Memanfaatkan system visual ICDAS dibantu teknologi pencahayaan objektif (seperti laser fluoresensi atau AI) untuk mendeteksi demineralisasi sebelum terbentuk lubang gigi.
2. Penilaian Risiko Karies (Caries Risk Assessment): Mengelompokkan status risiko pasien (rendah, sedang, tinggi) lewat bagan CAMBRA/ADA dengan menimbang pola makan, air liur, tingkat stres, dan rekam penyakit sistemik.
3. Pencegahan (Prevent): Mengendalikan lingkungan mikro mulut dengan terapi topikal profesional fluorida larut tinggi (seperti CleanPro) yang meresap cepat dalam 15 menit untuk menghentikan laju demineralisasi.
4. Intervensi Operatif Paling Minimal (Minimal Invasive Treatment): Apabila restorasi lama gagal, pembuangan karies memakai bor polimer (smart prep burs) atau agen kemo-mekanis (Papacarie) untuk memotong dentin terinfeksi saja.Penambalan menggunakan universal adhesive berbasis monomer 10-MDP demi ikatan kimia yang stabil.
5.Pengawasan Berkala (Follow-Up): Mengingat karies adalah infeksi biofilm kronis, pasien risiko tinggi wajib control berkala setiap 3–6 bulan sekali untuk re-evaluasi status risiko mulut yang dinamis.
Reporter : Nanda , Andri
Foto : Tangkapan Layar Zoom Meeting