Sebuah temuan dari riset kolaborasi internasional mengungkap fakta yang selama ini luput dari perhatian banyak klinisi. Tambalan gigi dari bahan resin komposit yang sudah lama terpasang di mulut, tanpa disadari, terus-menerus diserang oleh lapisan bakteri yang disebut biofilm. Dan serangan itu bukan hanya merusak permukaan tambalan, tapi juga mengancam keberhasilan prosedur tambal ulang. Penelitian yang diterbitkan di Journal of Dental Research (2010) ini melibatkan drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG(K)., Ph.D., dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi FKG Universitas Gadjah Mada, bersama tim peneliti dari University Medical Center Groningen (Belanda) dan University of Zürich (Swiss). Hasilnya memberi jawaban tegas atas pertanyaan yang selama ini belum terjawab, metode apa yang paling efektif untuk memperbaiki tambalan lama yang sudah terdegradasi?
Resin komposit adalah bahan tambal gigi yang paling umum digunakan saat ini karena tampilannya menyerupai warna gigi asli. Namun bahan ini bukan tanpa kelemahan. Seiring waktu, permukaan resin komposit mengalami keausan akibat tekanan kunyah, paparan makanan asam, perubahan suhu, dan yang paling krusial paparan biofilm oral.
Biofilm adalah lapisan tipis mikroorganisme yang menempel pada hampir semua permukaan di dalam mulut, termasuk permukaan tambalan. Bakteri dalam biofilm menghasilkan asam organik yang secara perlahan merusak matriks polimer resin komposit. Akibatnya, permukaan tambalan menjadi lebih kasar, partikel pengisi (filler) yang seharusnya terlindungi oleh matriks menjadi terpapar, dan secara keseluruhan kualitas permukaan menurun drastis.
Dalam kondisi seperti ini, dokter gigi sering memilih untuk memperbaiki tambalan yang rusak secara minimal, cukup melapisi ulang bagian yang aus dengan material baru di atas yang lama, tanpa harus mencabut seluruh restorasi. Prosedur ini lebih hemat jaringan gigi sehat. Masalahnya, belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk menjawab, seberapa kuat ikatan antara tambalan baru dan tambalan lama yang sudah “dimakan” biofilm?
Tim peneliti, termasuk drg. Rinastiti, merancang eksperimen yang mensimulasikan kondisi mulut secara laboratoris. Empat jenis resin komposit diuji: mikrohibrid, nanohybrid (dua jenis berbeda), dan nanofill. Masing-masing spesimen dipaparkan selama 14 hari pada biofilm campuran enam spesies mikroorganisme oral yang umum ditemukan di rongga mulut, termasuk Streptococcus oralis, Streptococcus sobrinus, Actinomyces naeslundii, Fusobacterium nucleatum, Veillonella parvula, and Candida albicans.
Setelah paparan biofilm, permukaan tambalan kemudian dikondisikan dengan dua metode yang berbeda sebelum ditambal ulang. Pertama, metode konvensional menggunakan resin adhesif antara (intermediate adhesive resin/IAR), yakni lapisan perekat yang diaplikasikan langsung ke permukaan lama. Kedua, metode silica-coating (SC), yaitu permukaan disemprot dengan partikel alumina berlapis silika menggunakan alat abrasif khusus, lalu diberi agen silane, dan baru kemudian diaplikasikan resin adhesif.
Kekuatan ikatan diuji dengan mesin uji geser, dan pola kegagalan diamati di bawah mikroskop cahaya. Hasilnya cukup mengejutkan. Sebelum paparan biofilm, kedua metode menghasilkan kekuatan ikatan yang setara. Tapi setelah tambalan tua dipapar biofilm, hasilnya berubah.
“Kekuatan ikatan rata-rata komposit yang dikondisikan dengan resin adhesif antara (IAR) turun secara signifikan setelah penuaan akibat paparan biofilm, sementara silica-coating mampu mempertahankan kekuatan ikatan pada level yang sama seperti sebelum penuaan.”
Tidak hanya soal angka kekuatan, pola kegagalannya pun berbeda. Tambalan yang diproses dengan silica-coating cenderung mengalami kegagalan kohesif, artinya yang retak adalah material tambalan itu sendiri, bukan ikatan antarmuka antara tambalan lama dan baru. Ini justru yang diinginkan secara klinis, karena menunjukkan bahwa sambungan ikatan bukan titik terlemah. Sebaliknya, metode IAR lebih sering menghasilkan kegagalan adhesif, tambalan baru lepas dari permukaan lama.
Peneliti juga mengonfirmasi bahwa paparan biofilm di laboratorium menghasilkan perubahan permukaan yang sebanding dengan keausan klinis nyata yang diukur dari spesimen yang dipasang pada alat palatal selama 180 hari. Ini menegaskan bahwa model biofilm laboratoris adalah cara yang valid dan relevan secara klinis untuk mensimulasikan kondisi tambalan tua di mulut.
Temuan ini punya implikasi langsung bagi praktik sehari-hari. Selama ini, prosedur tambal ulang yang sederhana sering hanya mengandalkan aplikasi resin adhesif antara mudah, cepat, dan tidak membutuhkan alat tambahan. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa pada tambalan lama yang sudah terdegradasi akibat biofilm, metode tersebut tidak memadai.
Alasan mengapa silica-coating lebih unggul berkaitan langsung dengan mekanisme kerusakan yang ditimbulkan biofilm. Asam yang dihasilkan bakteri menyebabkan pembengkakan matriks permukaan resin, kondisi ini justru menciptakan lebih banyak rongga mikro yang memudahkan partikel silika menancap dan membentuk kunci mekanis yang lebih kuat dengan adhesif. Sederhananya: kerusakan yang ditimbulkan biofilm justru bisa dimanfaatkan oleh teknik silica-coating untuk menciptakan ikatan yang lebih kokoh.
Penelitian ini juga mencatat bahwa jenis resin komposit memengaruhi seberapa banyak biofilm yang menempel. Komposit nanohybrid jenis Grandio dan mikrohybrid Anterior Shine menarik jumlah biofilm hampir dua kali lebih banyak dibandingkan dua jenis lainnya. Perbedaan ini kemungkinan berkaitan dengan kandungan elemen anorganik bermuatan positif pada permukaan masing-masing material.
Pada akhirnya, riset ini bukan sekadar persoalan teknis bahan tambalan. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih fundamental, seberapa besar kita memahami apa yang sesungguhnya terjadi di dalam mulut pasien, antara satu kunjungan dokter gigi dan kunjungan berikutnya? Tambalan yang tampak utuh di permukaan bisa saja sedang mengalami degradasi diam-diam dan pilihan metode perbaikan yang tepat bisa menjadi pembeda antara restorasi yang tahan lama dan yang gagal sebelum waktunya.
Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti
Foto : FreePik
Sumber DOI : https://doi.org/10.1177/0022034510381395