News

/

Latest News

Transformasi Digital Prostodonsia

Dunia kedokteran gigi, khususnya bidang prostodonsia, tengah mengalami lompatan besar melalui digitalisasi. Peralihan dari metode konvensional menuju sistem berbasis digital tidak hanya mengubah cara kerja klinisi, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan, efisiensi, dan pengalaman pasien secara signifikan.

Dalam sebuah pemaparan ilmiah bertajuk Strategi Digitalisasi Gigi Tiruan untuk Praktik Klinis Masa Depan, yang dibawakan oleh Prof. Dr. drg. Titik Ismiyati, M.S., Sp.Pros, Subsp. CPDI(K) menegaskan bahwa transformasi ini menyentuh seluruh alur kerja prostodonsia, dari pengambilan data hingga produksi restorasi.

“Digital workflow menghadirkan presisi yang lebih tinggi dan hasil yang lebih konsisten. Ini bukan sekadar inovasi, tetapi perubahan paradigma dalam praktik kedokteran gigi modern,” ujar Prof. Titik

Dari Cetakan Manual ke Model 3D Real-Time

Salah satu titik penting dalam transformasi ini adalah penggunaan intra oral scanner (IOS). Teknologi ini memungkinkan perekaman kondisi rongga mulut secara langsung dalam bentuk model 3D tanpa cetakan konvensional yang sering kali tidak nyaman bagi pasien.

Data digital tersebut kemudian diproses melalui sistem CAD (Computer-Aided Design) dan CAM (Computer-Aided Manufacturing), yang memungkinkan pembuatan restorasi secara otomatis dengan tingkat akurasi tinggi.

“Dengan IOS, kita bisa mengurangi distorsi yang sering terjadi pada metode cetak tradisional. Data juga dapat langsung dikirim dan diproses secara real-time, sehingga mempercepat keseluruhan proses,” jelas narasumber.

Efisiensi dan Pengalaman Pasien Meningkat

Digitalisasi tidak hanya berdampak pada aspek teknis, tetapi juga pada efisiensi layanan. Banyak tahapan kerja laboratorium yang dapat dipangkas, sehingga waktu perawatan menjadi lebih singkat.

“Pasien sekarang tidak perlu menjalani prosedur yang panjang dan tidak nyaman. Kunjungan klinis dapat dikurangi, sementara hasilnya justru lebih prediktabel,” tambahnya.

Selain itu, dalam pembuatan gigi tiruan lepasan sebagian dan gigi tiruan lengkap, sistem digital memungkinkan analisis otomatis seperti undercut, jalur insersi optimal, hingga simulasi oklusal. Hal ini berujung pada adaptasi yang lebih baik dan minim penyesuaian klinis.

Material Modern dan Tingkat Keberhasilan Tinggi

Kemajuan ini juga didukung oleh material digital modern seperti zirconia multilayer, lithium disilikat, hingga resin berbasis 3D printing. Material-material ini menawarkan kekuatan tinggi sekaligus estetika yang lebih natural.

Hasilnya, tingkat keberhasilan perawatan (survival rate) dilaporkan dapat mencapai lebih dari 95 persen.

“Material digital saat ini tidak hanya kuat secara mekanis, tetapi juga unggul secara estetika. Ini menjawab tuntutan pasien yang semakin tinggi terhadap kualitas hasil perawatan,” ungkap Prof. Titik.

Investasi dan Adaptasi SDM

Meski menjanjikan, transformasi digital bukan tanpa hambatan. Investasi awal yang besar, kebutuhan pelatihan intensif, serta kurva belajar teknologi menjadi tantangan utama bagi klinik.

“Digitalisasi memerlukan komitmen, baik dari sisi finansial maupun sumber daya manusia. Tidak bisa instan, harus bertahap,” tegasnya.

Namun di balik tantangan tersebut, peluang yang ditawarkan sangat besar. Efisiensi waktu dapat meningkatkan kapasitas praktik, sementara dokumentasi digital membuka peluang analisis dan evaluasi yang lebih baik.

Strategi Implementasi: Bertahap dan Terukur

Untuk mengadopsi teknologi ini, disarankan agar klinik memulai secara bertahap, dimulai dari penggunaan intraoral scanner, diikuti pelatihan tim, hingga membangun alur kerja digital yang terintegrasi dengan laboratorium.

“Fokus utama harus pada nilai klinis dan return on investment. Jangan sekadar mengikuti tren, tetapi pastikan teknologi benar-benar meningkatkan kualitas layanan,” pungkas Prof. Titik.

Transformasi digital dalam kedokteran gigi bukan lagi pilihan, melainkan suatu keharusan. Klinik yang mampu beradaptasi dengan perkembangan jaman, sementara yang tertinggal berisiko kehilangan relevansi di tengah kompetisi yang semakin ketat.

(Reporter: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom, Fotografi: Fajar Budi Harsakti, SE)

Tags

Share News

Related News
22 April 2026

Penilaian Kampus Hijau Butuh Bukti Eksekusi Program di Lapangan

22 April 2026

‘SIM’ Baru Lulusan Pascasarjana FKG UGM

21 April 2026

Inovasi Obat Kumur Nanoemulsi Herbal untuk Ibu Hamil, Terobosan Baru dari FKG Universitas Gadjah Mada

en_US