News

/

Latest News

Gelombang Lansia Mengubah Wajah Praktik Kedokteran Gigi

Pergeseran demografi menuju masyarakat menua (aging society) bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang sudah di depan mata. Dalam The 78th Annual Symposium of the Faculty of Dentistry Universitas Gadjah Mada, para pakar menegaskan bahwa praktik kedokteran gigi di Indonesia harus segera bertransformasi bukan hanya secara klinis, tetapi juga sistemik, struktural, dan filosofis.

Dalam sesi utama bertajuk “Preparing Your Dental Practice for the Demographic Shift and the Longevity Trend”, dibawakan oleh Dr. Matana Kettratad Pruksapong dari Thammasat University, Thailand mengingatkan bahwa perubahan profil pasien akan menjadi tantangan terbesar dalam dekade mendatang. Materi yang dimoderatori oleh drg. Elastria Widita, M.Sc., Ph.D memberi warna yang berbeda, dinamika kesehatan gigi & mulut lansia menjadi sudut pandang menarik dalam diskusi ini

“Kita akan melihat semakin banyak pasien dengan kondisi medis kompleks, frailty, disabilitas, hingga gangguan kognitif. Ini bukan lagi pengecualian, tapi akan menjadi norma baru dalam praktik kedokteran gigi,” ujar Matana dalam paparannya.

Bonus Demografi yang Menyusut, Beban yang Membesar

Indonesia saat ini memang masih menikmati bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding nonproduktif. Namun, data menunjukkan bahwa fase ini akan berakhir sekitar tahun 2036.

Rasio ketergantungan lansia pun terus meningkat saat ini mencapai sekitar 17 lansia per 100 penduduk usia kerja. Di sisi lain, angka fertilitas yang stagnan di kisaran 2,1 bahkan diproyeksikan turun menjadi 1,97 pada 2045.

Konsekuensinya, beban pelayanan kesehatan, termasuk kesehatan gigi dan mulut, akan melonjak tajam.

Lebih jauh, lansia di Indonesia rata-rata hidup sekitar 4,5 tahun dalam kondisi disabilitas, yang berarti kebutuhan perawatan jangka panjang menjadi krusial.

Pasien Geriatri: Kompleks, Rentan, dan Multidimensi

Simposium ini menyoroti perubahan dramatis dalam profil pasien. Pasien tidak lagi datang hanya dengan masalah karies atau periodontal sederhana, melainkan dengan kondisi yang saling berkelindan: Penyakit kronis multiple. Ketergantungan obat (polypharmacy). Risiko aspirasi dan jatuh. Gangguan menelan (dysphagia). Penurunan kognitif hingga demensia

“Dokter gigi masa depan harus memahami pasien sebagai sistem biologis dan sosial yang kompleks, bukan sekadar rongga mulut,” tegas Matana.

Pasien juga akan semakin banyak berasal dari berbagai setting pelayanan:
mulai dari rawat jalan, rawat inap, rehabilitasi, hingga long-term care dan hospice.

Klinik Gigi Harus Berubah: Dari Estetika ke Inklusivitas

Salah satu kritik tajam dalam simposium ini adalah terhadap desain klinik gigi yang masih berorientasi pada pasien “ideal” sehat, mandiri, dan mobile.

Padahal realitasnya, banyak pasien lansia mengalami keterbatasan mobilitas. Konsep inclusive philosophy menjadi kunci transformasi, meliputi: Desain universal (akses kursi roda, jalur terbuka). Kursi dental yang adaptif untuk pasien dengan paresis. Area tunggu dan resepsionis ramah lansia. Sistem komunikasi digital yang memudahkan pemantauan risiko

“Bahkan hal sederhana seperti sandaran kaki bisa menjadi hambatan besar bagi pasien frail. Desain klinik harus empatik, bukan sekadar fungsional,” ungkapnya.

Era Kolaborasi Multidisiplin

Transformasi tidak berhenti pada infrastruktur. Tantangan terbesar justru terletak pada sumber daya manusia.

Simposium menegaskan bahwa pelayanan kesehatan gigi lansia tidak bisa lagi bersifat soliter.

Dibutuhkan kolaborasi lintas disiplin, melibatkan: Dokter geriatric. Perawat geriatric. Terapis okupasi. Terapis wicara dan speech pathologist. Tenaga ICU dan rehabilitasi. Psikiater geriatri

“Kedokteran gigi harus masuk dalam ekosistem perawatan lansia secara holistik. Tanpa itu, kita hanya mengobati sebagian kecil dari masalah,” kata Matana.

Kesiapan Indonesia: Antara Strategi dan Realitas

Pemerintah Indonesia sendiri telah mencanangkan strategi nasional menuju lansia yang “berdaya, mandiri, dan bermartabat” pada 2045.

Namun, simposium ini secara implisit mengkritik kesiapan sektor kesehatan gigi yang dinilai masih tertinggal: Kurikulum pendidikan belum sepenuhnya adaptif terhadap geriatric. Distribusi tenaga kesehatan masih timpang. Infrastruktur klinik belum ramah lansia. Literasi masyarakat tentang kesehatan mulut lansia masih rendah

Krisis yang Terlihat, Namun Belum Direspons Optimal

Apa yang disampaikan dalam forum ilmiah ini sesungguhnya adalah alarm keras.

Indonesia sedang bergerak menuju aging society, tetapi sistem pelayanan kesehatan terutama kedokteran gigi masih beroperasi dengan paradigma lama.

Yang menjadi sorotan adalah gap antara tren demografi dan kesiapan system. Data sudah jelas, tetapi transformasi berjalan lambat. Dominasi pendekatan kuratif, Padahal lansia membutuhkan pendekatan preventif, promotif, dan paliatif. Minimnya integrasi lintas disiplin
Sementara kompleksitas pasien justru menuntut kolaborasi.

Masa Depan Kesehatan Mulut & Gigi Geriatri Dimulai Sekarang

Simposium ke-78 FKG UGM bukan sekadar forum akademik, melainkan panggilan perubahan.

Jika tidak ada langkah cepat dan sistematis, praktik kedokteran gigi berisiko tertinggal dari realitas demografi yang terus bergerak.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan ini akan terjadi, tetapi apakah kita siap menghadapinya,” pungkas Matana.

(Reporter: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom, Fotografi: Fajar Budi Harsakti, SE)

Tags

Share News

Related News
20 April 2026

Kolaborasi Interdisipliner, Kunci Penanganan Bibir Sumbing dan Kelainan Rahang Terkini

20 April 2026

‘Pamor’ Ketumbar Mendobrak Kosmetik Impor, Ujian Nyata Hilirisasi Riset Kampus

20 April 2026

Dari Perencanaan Virtual ke Realitas Bedah Mulut: Lompatan Presisi dalam Implantologi Digital

en_US