Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), melalui Program Studi Spesialis Kedokateran Gigi Anak bersama Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia (IDGAI) menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang ramah dan setara bagi seluruh lapisan masyarakat. Langkah nyata tersebut diwujudkan melalui kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Setiap Anak Berhak Mendapatkan Senyum Sehat: Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut bagi Anak dengan Penyakit Kronis dan Anak dengan Kebutuhan Khusus”. Acara berskala besar ini berlangsung pada Minggu, 1 November 2026, berpusat di Atrium Gedung OECF Lantai 1 FKG UGM.
Sebanyak 83 anak yang menyandang penyakit kronis serta anak berkebutuhan khusus (ABK) hadir menjadi penerima manfaat utama. Para peserta mencakup anak-anak dengan kondisi medis khusus seperti hemofilia, Down syndrome, cerebral palsy, epilepsi, thalasemia, asma anak, penyakit nefrologi (ginjal), hingga anak dengan hambatan pendengaran. Pelayanan terpadu yang diberikan meliputi edukasi kesehatan gigi dan mulut, pemeriksaan medis mendalam, konsultasi, hingga tindakan preventif aplikasi topikal fluorida. Penanganan klinis dilakukan langsung secara profesional oleh 171 dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak (Sp.KGA) serta didukung para dokter gigi residen.
Wujud Nyata Nilai Inklusivitas Civitas Akademika

Ketua Panitia Kegiatan sekaligus Ketua Departemen Kedokteran Gigi Anak FKG UGM, drg. Anrizandy Narwidina, MDSc, Sp.KGA, Ph.D. menyampaikan bahwa program pengabdian masyarakat ini dirancang secara khusus untuk menerjemahkan nilai inklusivitas yang diusung oleh pimpinan FKG UGM. Seluruh rangkaian pelayanan disesuaikan dengan karakteristik fisik, medis, maupun psikologis masing-masing anak.
“Pengabdian masyarakat ini bersifat inklusif, selaras dengan prinsip kedokteran gigi inklusif yang terus dikembangkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Kami berupaya agar anak-anak dengan kondisi kesehatan khusus mendapatkan pelayanan klinis yang optimal, aman, serta memicu pengalaman medis yang menyenangkan.” sambung drg. Sandy.
Kehadiran 10 komunitas pendamping orang tua dan anak, seperti Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI), Wahana Keluarga Cerebral Palsy, hingga Yayasan Kesatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (YPOTADS) menjadi bukti kuatnya sinergi sosial dalam mengawal kesehatan generasi muda Indonesia.
Apresiasi dan Sinergi Lintas Sektor
Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman menyambut hangat inisiatif strategis ini. Mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dan Bupati Sleman, drg. Ratih Susila, M.P.H. (saat ini menjabat sebagai Direktur RSUD Prambanan), menggarisbawahi pentingnya empati mendalam dalam pelayanan kesehatan anak-anak istimewa.
“Melayani anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan lebih dari sekadar kompetensi medis. Diperlukan ketelatenan, kesabaran, empati, serta keikhlasan yang luar biasa. Senyum adalah hak setiap anak dan setiap manusia tanpa memandang keterbatasan maupun latar belakang mereka. Sinergi bersama FKG UGM ini diharapkan terus berlanjut demi menjaga rasa percaya diri anak-anak kita.” pungkas drg. Ratih Susila, M.P.H.
Sinergi antara institusi pendidikan tinggi dan pemerintah daerah dinilai menjadi kunci utama untuk menjangkau kelompok rentan yang memerlukan intervensi khusus.
Tindakan Konkret dan Penurunan Angka Karies Anak
Dari sudut pandang organisasi profesi, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia (PP IDGAI), drg. Iwan Ahmad Musnamirwan, Sp.KGA., Subsp.KKA (K), menyoroti fokus kegiatan yang berorientasi pada tindakan klinis nyata (action-oriented). Pihaknya terus mendukung implementasi pengabdian masyarakat spesialis yang terstruktur.
“Kesehatan gigi dan mulut adalah pintu utama asupan nutrisi anak. Ketika kondisi gigi terjaga, proses pengunyahan berjalan lancar sehingga kualitas tumbuh kembang dan gizi anak-anak istimewa ini terjamin secara optimal. Dedikasi para dokter spesialis dan residen dalam tugas suci ini adalah fondasi penting pelayanan inklusif di tanah air.” ungkap drg. Iwan.
Tindakan pencegahan melalui pemberian lapisan topikal fluorida pada seluruh gigi anak menjadi agenda vital. Langkah preventif ini terbukti secara ilmiah mampu memperkuat lapisan email gigi sehingga kebal terhadap asam penyebab gigi berlubang.
Jemput Bola Layanan Spesialis Unggulan
Ketua Kolegium Kedokteran Gigi Anak Indonesia, Prof. Dr. Eriska Riyanti, drg., Sp.KGA, Subsp.AIBK (K), menerangkan bahwa kegiatan pengabdian spesialis tidak boleh berhenti pada tahap penyuluhan pasif semata.
“Kami tidak hanya menunggu masyarakat datang ke rumah sakit. Kami harus berinisiatif ‘jemput bola’ menghampiri keluarga dan anak-anak yang membutuhkan penanganan khusus. Aplikasi fluorida ini dilakukan untuk menurunkan laju indeks karies nasional. Melalui keberadaan RSGM Prof. Soedomo FKG UGM serta konsentrasi dokter spesialis yang tinggi di DIY-Jateng, kami optimistis derajat kesehatan gigi anak Indonesia akan meningkat secara berkelanjutan.” tutup Prof. Dr. Eriska.
Edukasi Berkelanjutan Bagi Orang Tua dan Pengasuh

Selain intervensi medis di kursi periksa gigi, pengabdian masyarakat ini menekankan pentingnya edukasi bagi para orang tua, wali, dan pengasuh. Kebiasaan menyikat gigi yang tepat menggunakan pasta gigi berfluorida dua kali sehari, setelah sarapan dan sebelum tidur, harus dibiasakan sejak dini di lingkungan rumah. Bagi anak dengan keterbatasan motorik atau sensorik, dokter spesialis memberikan wawasan tata cara pembersihan khusus agar kebersihan rongga mulut tetap terjaga secara konsisten.
Melalui semangat sinergi universal ini, FKG UGM dan IDGAI membuktikan bahwa keterbatasan fisik maupun medis tidak boleh menjadi penghalang bagi seorang anak untuk mendapatkan senyum yang sehat, kuat, dan penuh percaya diri.
Dokumentasi: Tim Humas FKG UGM