Unit Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) bersama Unilever menggelar Pelatihan Kader School Health Program (SHP) dalam rangka perayaan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 pada Sabtu, 30 Oktober 2026. Bertempat di Lantai 2 Gedung Dental Learning Center (DLC) FKG UGM, kegiatan edukatif ini menghadirkan para pakar kesehatan gigi untuk memberikan pembekalan mendalam kepada guru dan kader kesehatan sekolah mengenai perawatan rongga mulut serta penanganan darurat medis pada anak.

Sinergi Tiga Pilar dan Urgensi Kesehatan Gigi Anak
Narasumber pertama, Ibu Lenny, menjelaskan struktur anatomi rongga mulut, macam-macam gigi beserta fungsinya, hingga periode pertumbuhan gigi yang terbagi atas fase gigi sulung (susu), gigi bercampur (usia 6–14 tahun), dan gigi permanen. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya menjaga kondisi gigi sulung anak agar tidak mengalami kerusakan prematur.
“Di masa periode gigi sulung itu adalah penentu jalannya pertumbuhan gigi permanen. Jangan dianggap sepele, karena tiga hal anak, orang tua, dan pihak sekolah harus saling mendorong satu sama lain,” tegas Ibu Lenny di hadapan para peserta.
Ibu Lenny juga mendemonstrasikan teknik menyikat gigi yang tepat dari arah gusi ke gigi selama dua menit, anjuran penggunaan dental floss (benang gigi), serta pentingnya pola makan berserat yang kaya vitamin C dan fluor untuk menekan risiko karies.

Analisis Karies dan Solusi Edukatif Kebiasaan Buruk
Sesi dilanjutkan oleh Drg. Muhammad Fahmi Alfian, M.P.H. yang mengulas penyebab karies gigi melalui konsep multifaktorial yang melibatkan interaksi antara gigi, bakteri, substrat (makanan manis dan lengket), serta variabel waktu. Drg. Muhammad Fahmi Alfian, M.P.H.memaparkan bahwa prevalensi karies di Indonesia masih tinggi, sehingga pencegahan dini di sekolah menjadi langkah strategis.
“Tujuan utama kita adalah menekan waktu interaksi antara bakteri dan sisa makanan di rongga mulut. Kuncinya sederhana: bersihkan substrat makanan sesegera mungkin, minimal dengan sikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur. Mempertahankan gigi utuh sampai tua itu sangat mungkin dilakukan,” ujar drg. Fahmi.
Selain karies, Drg. Muhammad Fahmi Alfian, M.P.H.menyoroti kebiasaan buruk yang kerap ditemui pada anak-anak dan remaja, seperti menghisap jempol yang memicu gigitan terbuka (open bite), gigit pensil, minum susu dot hingga tertidur, menggigit bibir, hingga kebiasaan ekstrem membuka tutup botol menggunakan gigi yang dapat memicu gigi patah.

Diskusi Kritis: Penanganan Darurat Trauma Gigi dan Layanan Konsultasi
Pada sesi diskusi kritis dan tanya jawab, para peserta diajak memahami langkah penanganan darurat ketika terjadi trauma pada gigi. Drg. Muhammad Fahmi Alfian, M.P.H.menjelaskan bahwa apabila gigi permanen lepas utuh akibat benturan, bagian akar gigi tidak boleh dipegang langsung. Gigi tersebut sebaiknya segera dibersihkan secukupnya, disimpan di dalam wadah berisi susu UHT atau air liur pasien, lalu dibawa ke fasilitas medis 24 jam seperti Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) UGM agar dapat ditanam kembali (reimplantasi).
Melalui pelatihan ini, FKG UGM berharap para pendidik mampu menjadi perpanjangan tangan tenaga medis dalam membimbing generasi muda menjaga kesehatan gigi dan mulut secara mandiri, akurat, dan berkelanjutan.
Reporter: Andri Wicaksono