Pengelolaan sampah yang efektif membutuhkan data yang akurat. Tanpa mengetahui jumlah dan jenis sampah yang dihasilkan, upaya pengurangan maupun pengolahan sampah akan sulit dilakukan secara tepat. Untuk mendukung pengelolaan sampah berbasis data, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM mengikuti sosialisasi penggunaan timbangan sampah berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan oleh tim Fakultas Teknik UGM.
IDE AWAL
Pengembangan timbangan IoT diawali melalui proyek percontohan di Fakultas Teknik UGM yang telah berjalan selama kurang lebih dua tahun. Pada tahap awal, tim pengembang berupaya mencari cara untuk mengetahui jumlah sampah yang dihasilkan sekaligus memahami komposisi sampah dari masing-masing unit kerja.
Dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM, Dr. Ir. Thomas Oka Pratama, S.T., M.Eng., menjelaskan bahwa kebutuhan tersebut menjadi titik awal lahirnya sistem timbangan IoT yang saat ini mulai diperkenalkan ke berbagai fakultas di lingkungan UGM.
“Awalnya Fakultas Teknik itu ingin melakukan pengukuran sampahnya. Dari situ kami membuat timbangan dan berdiskusi bagaimana cara memantau timbangan sekaligus mengetahui komponen atau jenis-jenis sampah yang dihasilkan,” ujarnya (3/6).
Setelah implementasi awal menunjukkan hasil yang baik, sistem tersebut mulai diperkenalkan ke berbagai fakultas dan unit kerja di UGM agar proses pendataan sampah dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih terintegrasi. Sosialisasi yang diikuti FKG UGM menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan sistem tersebut di lingkungan universitas.
FITUR TIMBANGAN IoT
Salah satu kemampuan utama timbangan IoT adalah memetakan jenis dan volume sampah yang dihasilkan oleh setiap unit. Setiap sampah yang masuk dapat dikelompokkan berdasarkan kategorinya, seperti residu, plastik, kertas, maupun sampah organik. Data tersebut kemudian dikombinasikan dengan informasi berat sampah sehingga pengguna dapat melihat komposisi sampah secara lebih rinci.
Melalui data yang terkumpul, kampus dapat mengetahui jenis sampah yang paling dominan pada masing-masing unit kerja. Informasi tersebut dapat digunakan untuk melihat pola timbulan sampah sekaligus mengevaluasi praktik pemilahan sampah yang telah dilakukan.
“Kita akan tahu, misalnya suatu departemen sampah yang paling banyak itu apa. Apakah residu, anorganik, atau jenis lainnya. Dari data itu nantinya manajemen bisa melihat kondisi yang ada dan membuat kebijakan yang sesuai,” kata Thomas.
Selain menghasilkan data yang lebih detail, sistem ini juga dilengkapi dengan dashboard pemantauan yang memungkinkan informasi ditampilkan dalam satu platform. Dashboard tersebut menjadi sarana bagi pengelola untuk melihat perkembangan timbulan sampah dari berbagai unit tanpa harus melakukan rekapitulasi secara manual.


Keberadaan dashboard membuat data yang sebelumnya tersebar dapat dihimpun dalam satu sistem yang lebih mudah dipantau. Dengan demikian, pengguna dapat membandingkan data antarunit, melihat perubahan volume sampah dalam periode tertentu, serta mengidentifikasi jenis sampah yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Kemampuan lain yang menjadi keunggulan sistem ini adalah penyajian data secara real-time. Setiap kali sampah ditimbang, data berat dan kategorinya langsung terkirim ke dashboard yang terhubung dengan sistem. Proses tersebut memungkinkan informasi diperbarui secara otomatis tanpa menunggu pencatatan ulang maupun rekapitulasi berkala.
Melalui mekanisme tersebut, pengelola dapat memantau perkembangan timbulan sampah sewaktu-waktu. Informasi mengenai jenis sampah yang paling dominan maupun perubahan volume sampah dapat diketahui lebih cepat sehingga memudahkan proses evaluasi dan pengambilan keputusan.
Thomas menambahkan bahwa data yang diperoleh dari sistem ini tidak berhenti pada proses pencatatan. Informasi yang tersedia dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah pengelolaan sampah berikutnya, termasuk pemilahan dan pengolahan sesuai karakteristik masing-masing jenis sampah.
“Kalau sampahnya sudah dipisahkan, kita tahu mana plastik, mana kardus, mana sisa makanan. Setelah itu proses pengolahannya akan lebih mudah. Data dari timbangan ini menjadi dasar untuk langkah berikutnya,” jelasnya.
Melalui pemanfaatan teknologi IoT, kampus memiliki sarana untuk memantau jenis dan volume sampah secara lebih akurat. Data yang tersaji secara real-time diharapkan dapat membantu berbagai unit dalam menyusun strategi pengelolaan sampah yang lebih efektif sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan kampus yang berkelanjutan.
Author: Fajar Budi Harsakti
Photo: Fajar Budi Harsakti