Tikus-tikus itu diberi minum sesuatu yang tidak biasa: cairan kental kuning emas dari rimpang temu putih, selama empat belas hari berturut-turut. Ketika pada hari ke-tujuh gingiva mereka mulai diolesi bakteri penyebab peradangan, hasilnya mengejutkan. Gusi tetap tampak sehat, sementara kelompok tikus yang tidak mendapat perlakuan serupa justru menunjukkan tanda-tanda gingivitis nyata.
Itulah inti temuan penelitian Juni Handajani dari Bagian Biologi Mulut FKG UGM, yang diterbitkan dalam Majalah Kedokteran Gigi edisi Juni 2013. Penelitian ini menguji kemampuan minyak atsiri temu putih (Curcuma zedoaria Rosc.) dalam meredam respons inflamasi gingiva yang dipicu oleh Aggregatibacter actinomycetemcomitans, bakteri Gram-negatif yang kerap ditemukan pada poket gingiva dan sulkus gingiva penderita periodontitis agresif maupun kronis.
Ketika Sel Imun Menjadi Penanda Peradangan
Parameter utama yang diukur dalam penelitian ini adalah ekspresi CD4+, glikoprotein permukaan sel T helper yang jumlahnya meningkat signifikan saat gingiva mengalami inflamasi. Menggunakan pewarnaan imunohistokimia metode Avidin Biotin dengan antibodi dari Santa Cruz Biotechnology, jaringan gingiva anterior mandibula tikus diamati di bawah mikroskop cahaya.
Hasilnya gamblang. Pada kelompok kontrol yang hanya diberi akuabides, ekspresi CD4+ tampak positif kuat di lamina propria dan stratum basale, sejalan dengan gambaran klinis gingiva yang masih meradang pada hari ke-14. Sebaliknya, kelompok yang diberi minyak atsiri temu putih dosis 30,6 μl/ml hanya menunjukkan ekspresi positif lemah di area lamina propria saja, disertai gambaran histologis gingiva yang normal.
“Induksi minyak atsiri temu putih dapat menurunkan inflamasi gingiva ditandai dengan penurunan ekspresi CD4+.” — Juni Handajani, Bagian Biologi Mulut FKG UGM
Tiga Jalur yang Diduga Bekerja Bersamaan
Peneliti mengajukan tiga mekanisme yang mungkin menjelaskan fenomena ini. Pertama, minyak atsiri temu putih diduga memiliki daya antimikroba langsung terhadap A. actinomycetemcomitans, sehingga inflamasi tidak sempat terpicu. Kedua, kandungan furanodiene dan furanodienone dalam minyak atsiri ini diketahui bersifat anti-inflamasi, mampu menghambat kaskade peradangan meski bakteri sudah terpapar. Ketiga, fraksi aktif temu putih diduga meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag, memperkuat imunitas bawaan sebelum infeksi berkembang.
Minyak atsiri yang digunakan dalam penelitian ini disuling di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM dari 2.833 gram rimpang segar, menghasilkan 3 ml minyak konsentrasi 100%. Determinasi tanaman dilakukan di Bagian Biologi Farmasi Fakultas Farmasi UGM, memastikan keabsahan bahan uji.
Tentu, penelitian ini masih berskala hewan coba dengan jumlah sampel terbatas. Namun data imunohistokimia yang dihasilkan membuka pintu yang selama ini hanya dikira-kira: bahwa tanaman rimpang yang sudah berabad-abad dipakai nenek moyang sebagai obat luka dan ulcer ternyata menyimpan mekanisme kerja yang bisa dijelaskan secara molekuler. Pertanyaan berikutnya, apakah efek yang sama bisa direplikasi pada jaringan periodontal manusia, kini menjadi pekerjaan rumah yang menunggu untuk dijawab.
Penulis: Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto: ChatGPT