Sebuah foto panoramik rahang yang baru dioperasi tampak seperti peta topografi miniatur: garis-garis halus trabekula tulang tersebar di antara logam pelat titanium. Di sinilah pertanyaan peneliti dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM bermula apakah dua lokasi fraktur mandibula yang berbeda punya kecepatan penyembuhan yang berbeda pula. Jawaban yang ditemukan ternyata cukup mengejutkan, bahkan bagi kalangan klinisi sekalipun.
Angka di Balik Bayangan Sinar-X
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Oral Biology and Craniofacial Research (2025) ini dipimpin oleh drg. Poerwati Soetji Rahajoe, Sp.BM(K), bersama tim dari Departemen Bedah Mulut dan Departemen Radiologi Dentomaksilofasial UGM. Mereka menganalisis rekam medis dan foto panoramik 25 pasien fraktur korpus mandibula serta 25 pasien fraktur angulus mandibula yang menjalani operasi ORIF (Open Reduction Internal Fixation) di sebuah rumah sakit antara 2017 hingga 2023.
Alat analisisnya bukan sekadar pengamatan visual biasa. Tim menggunakan fractal dimension analysis melalui perangkat lunak ImageJ metode kuantitatif yang mengukur kompleksitas pola trabekula tulang pada citra radiografis. Semakin tinggi nilai dimensi fraktal (FD), semakin padat dan matang jaringan trabekula yang terbentuk, yang berarti penyembuhan berjalan lebih baik.
Pengamatan dilakukan pada empat titik waktu: hari pertama pascaoperasi, minggu kedua hingga ketiga, minggu ke-8 hingga ke-13, dan lebih dari 13 minggu setelah operasi.
Korpus Lebih Unggul, dan Ada Alasannya
Hasilnya konsisten di semua titik pengamatan: nilai FD fraktur korpus selalu lebih tinggi dibanding fraktur angulus, dengan perbedaan yang signifikan secara statistik. Pada pengamatan terakhir (rata-rata minggu ke-17), nilai FD korpus mencapai 1,46 dibanding 1,35 pada angulus.
Mengapa demikian? Peneliti menunjuk peran otot-otot pengunyahan sebagai penentu utama. Angulus mandibula dikelilingi otot mastikasi utama, masseter, pterigoid medial dan lateral, serta temporalis yang terus menarik fragmen tulang ke arah superior dan medial. Gerakan mikro yang ditimbulkan otot-otot besar ini menghambat pembentukan kalus keras dan memperlambat maturasi trabekula.
Sebaliknya, korpus mandibula hanya dipengaruhi otot-otot aksesori seperti digastrikus dan geniohioid. Tekanan yang lebih kecil berarti stabilitas lebih baik pascafiksasi, dan trabekula pun terbentuk lebih cepat.
“Post ORIF observation of corpus fracture shows a greater trabecula formation value which indicates faster healing when compared to mandibular angulus fracture.” Poerwati Soetji Rahajoe dkk., Journal of Oral Biology and Craniofacial Research, 2025
Temuan ini punya implikasi klinis yang langsung terasa, ketika seorang pasien mengalami fraktur korpus dan angulus sekaligus, waktu pembebasan fiksasi intermaksiler dan pemberian beban mastikasi sebaiknya tidak disamaratakan. Angulus butuh waktu lebih lama.
Bagi dokter bedah mulut, foto panoramik yang selama ini dibaca secara kualitatif kini bisa “dibaca” secara numerik dan angka itu, sekecil apapun selisihnya, bisa mengubah keputusan kapan pasien boleh kembali mengunyah makanan padat.
Reporter: Nanda Ayu – Andri Wicaksono