Siapa sangka, di balik senyum cemerlang hasil restorasi gigi modern, ada harga ekologis mahal yang harus dibayar bumi? Fakta mengejutkan inilah yang dikupas tuntas dalam webinar internasional International Dental Summer Course (IDSC) 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) pada Kamis (9/7/26).
Tak tanggung-tanggung, acara virtual yang berlangsung dari pukul 09:00 hingga 10:30 WIB ini berhasil menyedot perhatian 461 akademisi dan praktisi kedokteran gigi dari berbagai belahan dunia. Mereka berkumpul demi menyimak paparan revolusioner dari pakar prostodonsia terkemuka asal Tohoku University Jepang, Prof. Guang Hong, MD, DDS, PhD.
Sisi Gelap Zirkonia: Estetika Mewah, Limbah Melimpah
Dalam presentasi bertajuk “Sustainability in Dentistry: Recycle and Reuse of Dental Materials”, Prof. Guang Hong membongkar “dosa tak disengaja” di dunia kedokteran gigi klinis. Saat ini, material zirkonia menjadi primadona untuk mahkota gigi karena kekuatannya dan warnanya yang sangat mirip dengan gigi asli. Namun, proses pembuatannya menggunakan teknologi cetak digital CAD/CAM ternyata menyisakan borok lingkungan.
“Bayangkan, dari satu cakram zirkonia utuh yang dipotong di laboratorium dental, hanya 20% yang berakhir di dalam mulut pasien sebagai mahkota gigi. Sebanyak 80% sisanya? Menjadi sampah blok dan bubuk mikro. Secara global, dari perputaran uang pasar zirkonia sebesar 280 juta dolar AS, ada lebih dari 200 juta dolar AS yang dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir sebagai limbah abadi,” ungkap Prof. Guang Hong.

Bergerak dari keresahan tersebut yang juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs) poin 12 dan 13 tim riset Prof. Guang Hong berhasil menciptakan keajaiban sains. Melalui metode penggilingan mekanis bernama ball milling selama 6 jam, limbah zirkonia yang tadinya kasar dan tak berguna disulap menjadi serbuk halus berukuran 0,6 mikrometer.
Setelah dibakar kembali, zirkonia daur ulang ini memiliki kekuatan fraktur menakjubkan (di atas 600 MPa) serta tingkat transparansi estetis yang sama persis dengan zirkonia baru yang mahal. Artinya, bahan ini terbukti aman dan siap dipakai kembali untuk merawat gigi pasien.
Dari Polusi Hujan Asam Menjadi Kalsium Karbonat
Bukan cuma zirkonia, Prof. Guang Hong juga menembak target limbah terbesar kedua di klinik gigi: gips atau dental stone. Selama ini, hampir 100% gips bekas cetakan gigi dibuang begitu saja. Jika dibakar secara konvensional, limbah gips melepaskan gas sulfur dioksida () yang menjadi biang kerok hujan asam dan polusi udara.
Solusi jenius kembali ditawarkan. Bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Lingkungan, tim peneliti merekayasa proses kimia karbonasi untuk mengubah kalsium sulfat pada gips bekas menjadi kalsium karbonat () murni. Langkah ini tidak hanya melenyapkan sampah padat, tetapi juga efektif mengunci emisi karbon demi mengejar target net-zero emissions.

Bukan Sekadar Dokter Gigi, tapi Pemimpin Masa Depan
Kuliah interaktif selama 90 menit ini kian hidup saat sesi tanya jawab yang dipandu oleh Dr. Kad selaku moderator. Prof. Guang Hong—yang universitasnya (Tohoku University) baru saja dinobatkan sebagai peringkat 1 di Jepang versi Times Higher Education dan mendapat kucuran dana riset fantastis sebesar 100 juta dolar AS per tahun dari pemerintah Jepang menekankan pentingnya konsep Multimodal Education.
“Dunia kedokteran gigi masa depan tidak boleh egois. Mahasiswa tidak hanya dididik untuk menambal gigi di klinik, tetapi harus punya wawasan global, peka terhadap perbedaan budaya, dan paham cara mengelola kebijakan lingkungan,” tegasnya menanggapi pertanyaan kritis dari salah satu mahasiswa UGM.
Acara pun ditutup dengan sebuah refleksi penting dari moderator: bahwa kedokteran gigi berkelanjutan (sustainable dentistry) bukan sekadar gerakan keren-kerenan untuk mengurangi sampah, melainkan komitmen berbasis validasi sains tingkat tinggi demi menjaga keselamatan pasien sekaligus menyembuhkan bumi yang kian menua.
(Reporter: Nanda, Any, Andri)