This workshop Pengembangan Proposal Disertasi dirancang sebagai ekosistem pembelajaran intensif yang mengintegrasikan aspek kebaruan ilmiah, metodologi penelitian, etika riset, translasi hasil penelitian, hingga hilirisasi inovasi agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ketua Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran Gigi FKG UGM, Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D didampingi salah satu dosen homebase Dr. drg. Alma Linggar Jonarta, M.Kes. menegaskan bahwa pendidikan doktor tidak boleh berhenti pada pencapaian gelar akademik semata.
“Seorang doktor bukan hanya menghasilkan disertasi. Ia harus melahirkan Solusi tepat. Penelitian doktoral harus memiliki arah yang jelas, menjawab persoalan bangsa, dan memberi manfaat bagi ilmu pengetahuan maupun masyarakat.”
Pernyataan tersebut selaras dengan tujuan workshop yang menekankan pentingnya membangun penelitian yang berkelanjutan, berdampak signifikan, memenuhi standar etik, serta mampu menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat.

Mengubah Cara Berpikir Peneliti
Salah satu pesan paling kuat dalam rangkaian workshop adalah perubahan paradigma penelitian. Mahasiswa didorong untuk tidak lagi memulai penelitian dari sekadar rasa ingin tahu, tetapi dari kebutuhan nyata masyarakat atau konsep “starting from the end” memikirkan terlebih dahulu dampak akhir yang ingin dicapai sebelum merancang penelitian.
Pendekatan ini mengajarkan bahwa setiap tahapan penelitian harus memiliki benang merah menuju luaran yang jelas, baik berupa teori baru, invensi, teknologi kesehatan, maupun rekomendasi kebijakan.
Dalam konteks inilah, workshop menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan teknik menyusun proposal, tetapi juga melatih mahasiswa membangun visi sebagai ilmuwan masa depan.

Road Map Menjadi Kompas Penelitian
Materi workshop juga menekankan pentingnya memiliki road map penelitian sebagai arah perjalanan ilmiah seorang doktor.
Dalam sesi diskusi, Prof. Dr. drg. Widowati Siswomihardjo, M.S. sebagai salah satu narasumber mengingatkan bahwa banyak mahasiswa gagal memahami “roh” penelitiannya karena tidak memiliki gambaran besar mengenai posisi riset yang sedang dikerjakan.
“Kalau kalian tidak mempunyai road map, kalian tidak akan memahami roh dari riset yang sedang dilakukan. Road map adalah kompas yang menjaga agar setiap langkah penelitian tetap menuju tujuan akhirnya.”
Road map dipandang bukan hanya sebagai dokumen administratif, melainkan instrumen berpikir strategis yang membantu mahasiswa melihat hubungan antara penelitian saat ini dengan pengembangan ilmu pengetahuan dalam jangka panjang.

Logbook: Catatan Kecil Yang Menentukan Kredibilitas
Selain kemampuan konseptual, workshop juga memberi perhatian besar terhadap budaya dokumentasi penelitian melalui penggunaan logbook laboratorium.
Para pembimbing menilai masih banyak mahasiswa yang menganggap pencatatan hanya sebagai formalitas, padahal logbook merupakan fondasi utama integritas riset.
Mahasiswa diingatkan untuk mencatat secara rinci setiap aktivitas laboratorium, mulai dari nama bahan kimia, konsentrasi, kondisi eksperimen, hasil pengamatan, hingga lokasi penyimpanan data digital.
“Logbook sangat membantu ketika kita harus mengkurasi hasil riset. Jangan sampai publikasi tertunda hanya karena kita lupa data disimpan di mana atau bagaimana proses eksperimen dilakukan.”
Lebih jauh, logbook juga menjadi media komunikasi antar pembimbing.
“Kalau kalian tidak melaporkan kegiatan penelitian, yang rugi adalah kalian sendiri. Pembimbing akan memiliki persepsi berbeda karena tidak memperoleh informasi yang sama. Catatan penelitian adalah jembatan komunikasi ilmiah.”
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa integritas akademik dibangun dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Proposal Menjadi Inovasi
Workshop tidak berhenti pada teori. Mahasiswa diberi kesempatan mempresentasikan ide riset, memperoleh umpan balik dari dosen homebase, memperbaiki kerangka penelitian, hingga menyusun Bab I proposal secara bertahap.
Seluruh rangkaian dirancang agar pada akhir program mahasiswa telah memiliki proposal riset yang siap memasuki seminar pra-komprehensif maupun komprehensif.
Salah satu contoh gagasan penelitian yang dipresentasikan dalam workshop menunjukkan orientasi translasi yang kuat, yakni pengembangan kombinasi nano chitosan & nano curcumin sebagai retainer biologis untuk mencegah kekambuhan (relapse) pasca-perawatan ortodonti. Penelitian tersebut tidak hanya menelaah aspek biologis secara in vitro dan in vivo, tetapi juga diarahkan menghasilkan inovasi material yang memiliki potensi aplikasi klinis.

Membangun Ekosistem Doktor yang Berdampak
Serial Workshop Pengembangan Proposal Disertasi S3 mencerminkan perubahan paradigma pendidikan doctor ilmu kedokteran gigi di Indonesia. Jika selama ini penyusunan proposal sering dipandang sebagai tahapan administratif menuju penelitian, FKG UGM justru menjadikannya sebagai proses pembentukan identitas seorang ilmuwan.
Mahasiswa tidak hanya belajar menulis proposal, tetapi juga ditempa untuk berpikir sistemik, menjaga integritas data, membangun komunikasi ilmiah dengan pembimbing, menyusun peta jalan penelitian, serta merancang inovasi yang memiliki nilai kebermanfaatan bagi masyarakat.
Model pembinaan seperti ini menunjukkan bahwa kualitas penelitian tidak lahir secara sekejap pada saat publikasi, melainkan dibangun melalui proses pendampingan yang konsisten sejak perumusan ide.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang doktor bukan hanya banyaknya halaman disertasi yang ditulis, melainkan seberapa besar dampak ilmu yang dihasilkannya bagi kehidupan manusia.
(Reporter & Fotografer: Andri Wicaksono)