News

/

Latest News

Pembukaan Simposium Internasional 78 Tahun FKG UGM, Wujudkan Peran Sociopreneur & Teknologi dalam Transformasi Kesehatan Gigi

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) resmi membuka rangkaian Annual Symposium dalam rangka Dies Natalis ke-78 dengan mengusung tema “Empowering Dental Sociopreneurs: Education & Technology for Oral Health Transformation” (17/04/2026). Kegiatan ini menjadi ajang strategis untuk mempertemukan akademisi, praktisi, dan mahasiswa dalam membahas masa depan kesehatan gigi berbasis inovasi dan kewirausahaan sosial.

Ketua panitia simposium, Dr. drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.BM.M.Subsp.T.M.T.M.J (K), dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi klinis, tetapi juga mendorong lahirnya dokter gigi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan memiliki jiwa kewirausahaan sosial.

“Tema ini dipilih untuk mendorong para tenaga kesehatan gigi agar tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan sosial berbasis teknologi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 420 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa S1 hingga doktoral, dokter gigi umum dan spesialis, hingga praktisi kesehatan.

“Selama dua hari ke depan, peserta akan mengikuti simposium ilmiah, pelatihan hands-on, serta kompetisi inovasi mahasiswa melalui 3-minute pitch competition,” jelasnya.

Seluruh rangkaian acara dipusatkan di Yogyakarta sebagai ruang kolaborasi dan pertukaran ilmu lintas disiplin dan negara.

Dorongan Integrasi Ilmu, Teknologi, dan Dampak Sosial

Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D menekankan pentingnya forum ilmiah seperti ini sebagai sarana berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat jejaring profesional.

“Saya sangat berharap forum ini menjadi ruang berbagi ilmu yang bermanfaat serta memperkuat kolaborasi di bidang kedokteran gigi,” tuturnya.

Ia juga menyoroti keberagaman peserta yang hadir sebagai kekuatan utama dalam menciptakan diskursus ilmiah yang komprehensif.

“Peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan dan profesi, mulai dari mahasiswa hingga dokter gigi spesialis. Ini menunjukkan antusiasme yang luar biasa,” tandasnya

UGM: Sociopreneurship Jadi Arah Baru Profesi Kedokteran Gigi

Mewakili Rektor UGM, Direktur Kajian dan Inovasi Akademik, Dr. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., menegaskan bahwa tema simposium sejalan dengan visi UGM dalam mengintegrasikan keunggulan akademik dengan dampak sosial.

“UGM berkomitmen memastikan bahwa keunggulan akademik dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, profesi dokter gigi kini dituntut tidak hanya menguasai aspek klinis, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui inovasi berbasis teknologi.

“Kedokteran gigi saat ini didorong untuk tidak hanya memiliki keahlian klinis, tetapi juga menyentuh aspek sociopreneurship yang menjembatani kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara teknologi digital dan kecerdasan buatan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan kesehatan gigi global.

“Forum ini diharapkan menjadi katalisator lahirnya ide-ide baru dan kemitraan strategis dalam membentuk masa depan perawatan gigi,” imbuhnya.

Tantangan Etika dan Komunikasi di Era Digital

Sementara itu, Wakil Ketua IV Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), drg. Gagah Daru Setiawan, MM menyoroti dinamika profesi dokter gigi di tengah perkembangan teknologi dan media sosial.

“Dokter gigi saat ini tidak cukup hanya mengandalkan ilmu yang diperoleh saat kuliah, tetapi harus terus mengembangkan diri seiring kemajuan teknologi dan praktik pelayanan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga etika profesi, terutama dalam penggunaan media sosial dan interaksi dengan pasien.

“Komunikasi yang kurang baik sering kali menjadi pemicu masalah, bahkan berujung pada tuntutan hukum. Karena itu, informed consent harus selalu dilakukan dengan baik,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti meningkatnya kesadaran masyarakat yang kini semakin kritis terhadap layanan kesehatan.

“Di era digital, sedikit kesalahan bisa langsung viral. Ini menjadi tantangan sekaligus pengingat bagi tenaga kesehatan untuk selalu profesional,” katanya.

Momentum Penguatan Inovasi dan Kolaborasi

Simposium internasional ini tidak hanya menghadirkan narasumber dari dalam negeri, tetapi juga pakar internasional, menjadikannya sebagai forum pertukaran pengetahuan global.

Dengan usia ke-78 tahun, FKG UGM diharapkan terus menjadi pelopor dalam pengembangan ilmu kedokteran gigi di Indonesia.

“Kami berharap kegiatan ini membawa manfaat besar bagi kemajuan kedokteran gigi di Indonesia dan dunia,” papar Ketua Panitia.

Simposium ini menjadi bukti bahwa transformasi kesehatan gigi tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada kemampuan sumber daya manusia dalam beradaptasi, berinovasi, dan memberikan dampak sosial yang luas.

(Reporter: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom | Photo: Fajar Budi Harsakti, SE)

Tags

Share News

Related News
20 April 2026

Menata Ulang Arah Kesehatan Gigi & Mulut Anak, Menyelamatkan Senyum Masa Depan Bangsa

20 April 2026

Gelombang Lansia Mengubah Wajah Praktik Kedokteran Gigi

20 April 2026

Revolusi Radiologi Dentomaksilofasial: Sinergikan Inovasi Digital & Peran AI

en_US