Suasana khidmat terasa di Gedung Grha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada, Kamis (12/3/2026), ketika 37 dokter gigi baru resmi dilantik oleh Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM. Makna kuat pelantikan menekankan bahwa profesi dokter gigi bukan sekadar capaian intelektual, melainkan awal dari jalan panjang pengabdian kemanusiaan.
Pelantikan yang dihadiri pimpinan universitas, organisasi profesi, serta keluarga wisudawan itu menjadi penanda berakhirnya perjalanan pendidikan yang panjang sekaligus dimulainya tanggung jawab baru di tengah kompleksitas persoalan kesehatan masyarakat Indonesia.

Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D menegaskan bahwa kelulusan para dokter gigi baru merupakan titik awal pengabdian, bukan garis akhir perjuangan. Ia bahkan menyoroti keberhasilan kelulusan 100 persen pada periode ini sebagai capaian yang patut disyukuri.
“Momentum ini bukan akhir, melainkan awal dari pengabdian profesional kepada masyarakat. Tantangan ke depan jauh lebih kompleks,” ujarnya di hadapan para lulusan dan tamu undangan.
Ia juga mendorong para lulusan untuk berani mengambil peran di daerah-daerah yang masih kekurangan tenaga kesehatan. Menurutnya, distribusi dokter gigi di Indonesia masih timpang, bahkan di wilayah padat penduduk sekalipun.

Sumpah yang Mengikat Nurani
Prosesi pengambilan sumpah menjadi inti dari pelantikan. Dalam sumpah tersebut, para dokter gigi berjanji mengabdikan hidupnya untuk kepentingan kemanusiaan, menjaga martabat profesi, serta mengutamakan kesehatan pasien di atas kepentingan lain.
Sumpah itu tidak hanya bersifat formal, tetapi juga moral. Sumpah dokter gigi menjadi kompas etika yang akan membimbing setiap keputusan klinis dan sosial yang diambil para dokter gigi dalam praktiknya kelak.
Dokter Gigi: Antara Idealisme dan Realitas
Perwakilan dokter gigi baru, drg. Anindita Brataningdyah, menyampaikan refleksi mendalam tentang makna profesi yang kini mereka emban. Ia menegaskan bahwa menjadi dokter gigi adalah tentang menjadi “perantara kebaikan dan kesembuhan.”
“Di antara ambisi mengejar materi, guru-guru kami menunjukkan makna yang lebih dalam dari sekadar uang,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan menuju gelar dokter gigi penuh dengan kegagalan, keraguan, dan air mata. Namun justru dari proses itulah lahir ketangguhan dan empati, dua kualitas yang tak kalah penting dari kompetensi klinis.
Potret Ketimpangan: Pelajaran dari Sumba
Dimensi pengabdian semakin terasa kuat melalui kisah inspiratif alumni FKG UGM, drg. Nabila Hanifah Arifin. Dalam tayangan video, ia menceritakan pengalamannya bertugas di Sumba Timur melalui program Nusantara Sehat.
Di daerah tersebut, keterbatasan fasilitas dan tenaga medis menjadi tantangan utama. Bahkan, banyak anak yang belum pernah memeriksakan gigi hingga usia sekolah.
“Menjadi dokter gigi tidak selalu tentang alat canggih. Kadang justru tentang hadir di tempat yang paling membutuhkan,” ungkapnya.
Ia bersama komunitas lokal kemudian menggagas program “1000 Senyum Sumba” untuk memberikan edukasi dan layanan kesehatan gigi dasar secara rutin.
Harapan Organisasi Profesi
Ketua Pengurus Wilayah Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) DIY, drg. Heni Primasari, menekankan pentingnya integritas, empati, dan pembelajaran sepanjang hayat bagi para dokter gigi muda.
“Profesi ini mulia sekaligus penuh tanggung jawab. Di tangan saudara sekalian terdapat amanah menjaga kesehatan masyarakat,” katanya.
Ia juga mengajak para lulusan untuk aktif berorganisasi dan berkontribusi dalam pengembangan profesi demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Haru Orang Tua: Buah Perjuangan Panjang
Perwakilan orang tua, drg. Prihara Dewanti, tak mampu menyembunyikan rasa haru dan bangga. Ia mengingat kembali perjuangan anak-anak mereka yang harus melewati malam panjang, tekanan akademik, hingga tantangan klinis.
“Hari ini bukan akhir, tetapi awal pengabdian. Jadilah dokter gigi yang berintegritas, rendah hati, dan mencintai pekerjaan,” pesannya.

Menatap Masa Depan
Pelantikan ini melahirkan 37 dokter gigi baru yang diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap realitas sosial. Di tengah ketimpangan layanan kesehatan, mereka ditantang untuk menjadi agen perubahan—menghadirkan senyum sehat hingga ke pelosok negeri.
“Untuk setiap hidup yang kita sentuh, semoga tangan kita membawa sembuh.”
(Reporter: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom, Fotografi: Fajar Budi Harsakti, SE)