News

/

Artikel, Latest News

Menyeruput Bubble Tea, Meningkatkan Kualitas Saliva: Temuan Mengejutkan dari Laboratorium FKG UGM

Siapa sangka minuman kekinian yang kerap dianggap sekadar camilan manis itu menyimpan potensi medis? Sebuah uji klinis acak yang diterbitkan di jurnal F1000Research mengungkap bahwa mengunyah tapioka pearl dalam minuman bubble tea dapat menurunkan kadar C-reactive protein (CRP) dan meningkatkan kadar kalsium dalam saliva — dua penanda penting kualitas cairan pelindung mulut manusia.

Penelitian ini bukan spekulasi ringan. Ia dirancang, dijalankan, dan dianalisis oleh tim Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, dipimpin Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, bersama kolega dan mahasiswa Program Studi Higiene Gigi FKG UGM.

Saliva Bukan Sekadar Air Ludah

Sebelum memahami mengapa hasil ini penting, perlu sedikit berhenti pada fakta yang sering terlewat: saliva adalah cairan biologis yang luar biasa kompleks. Ia mengandung protein, enzim, dan komponen anorganik yang berfungsi sebagai benteng pertama tubuh melawan bakteri, virus, bahkan jamur.

Di antara komponen itu, CRP adalah penanda inflamasi. Dalam kondisi normal, kadarnya sangat rendah. Saat peradangan akut terjadi, ia bisa melonjak ratusan kali lipat. Sementara kalsium (Ca) berperan menjaga integritas mineralisasi gigi — proses remineralisasi yang mencegah kerusakan email.

Pertanyaan yang diajukan Prof. Juni Handajani dan tim cukup sederhana namun belum pernah benar-benar dijawab sebelumnya: apakah mengunyah tapioka pearl dalam bubble tea dapat memperbaiki dua penanda kualitas saliva ini?

Bubble Tea di Klinik Korpagama

Penelitian ini berlangsung di Klinik Korpagama, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, melibatkan 15 subjek berusia 18–25 tahun, seluruhnya mahasiswa FKG UGM. Mengingat riset ini dijalankan di tengah pandemi COVID-19, setiap subjek wajib menjalani rapid test terlebih dahulu sebelum diperbolehkan berpartisipasi.

Desainnya menggunakan pre/posttest dengan dua kondisi berbeda. Pada minggu pertama, subjek meminum 100 ml bubble tea merek Chatime lengkap dengan tapioka pearl selama lima menit per hari, tiga hari berturut-turut. Minggu berikutnya, subjek yang sama mengonsumsi teh tanpa pearl sebagai kontrol. Sampel saliva dikumpulkan pada hari pertama sebelum konsumsi dan hari ketiga setelah konsumsi, antara pukul 09.00–12.00.

Enam puluh sampel saliva berhasil dikumpulkan. Kadar CRP diukur menggunakan kit ELISA komersial, sedangkan kadar kalsium diuji dengan strip semi-kuantitatif. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney.

Hasilnya cukup mengejutkan.

Angka yang Berbicara

Pada kelompok intervensi, kadar CRP turun drastis: dari rata-rata 247,06 pg/ml pada hari pertama menjadi 90,97 pg/ml pada hari ketiga. Penurunan ini signifikan secara statistik. Sementara kelompok kontrol — yang hanya minum teh tanpa pearl — juga menunjukkan penurunan CRP, namun tidak mencapai signifikansi statistis.

Kadar kalsium meningkat di kedua kelompok. Pada kelompok intervensi, rerata kalsium naik dari 15,33 mg/L menjadi 28,67 mg/L. Kelompok kontrol mencatat kenaikan lebih tinggi, dari 33,00 mg/L menjadi 45,67 mg/L — menunjukkan bahwa teh sendiri pun berkontribusi pada peningkatan kalsium saliva.

“Bubble tea drinks could improve the quality of saliva by decreasing salivary CRP and increasing Ca levels.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dalam kesimpulan riset

Mekanisme yang diusulkan: mengunyah tapioka pearl memberikan stimulasi mekanis pada kelenjar saliva, mendorong produksi saliva yang lebih banyak. Saliva yang meningkat volumenya membawa serta protein antimikroba — mucin, α-amylase, lisozim, peroksidase — yang pada akhirnya menekan mikroba penyebab inflamasi, sehingga CRP ikut turun. Adapun teh sendiri mengandung epigallocatechin gallate, senyawa polifenol dengan aktivitas antibakteri dan antivirus yang sudah didokumentasikan dalam literatur ilmiah, termasuk potensinya terhadap COVID-19.

Temuan Menarik di Tengah Keterbatasan

Penelitian ini tidak lepas dari sorotan para reviewer internasional. Seorang reviewer dari Universidade de São Paulo mempertanyakan kedalaman bagian diskusi dan apakah kesimpulan cukup didukung data. Reviewer dari Taibah University, Arab Saudi, meminta klarifikasi soal metode randomisasi dan blinding. Tim Prof. Juni merespons dengan revisi pada versi kedua makalah — menambahkan penjelasan proses randomisasi, alokasi tersembunyi, serta menggunakan CONSORT checklist sebagai standar pelaporan uji klinis.

Jumlah subjek yang relatif kecil — 15 orang — memang menjadi catatan. Namun sebagai studi eksploratif yang membuka jalur penelitian baru, kontribusinya tidak bisa diabaikan begitu saja. Ini adalah salah satu sedikit riset yang secara langsung menguji efek minuman populer terhadap biomarker saliva dalam desain uji klinis terkontrol.

Pertanyaan yang tersisa justru menggoda: jika tiga hari saja sudah cukup menggeser kadar CRP secara bermakna, apa yang terjadi bila kebiasaan ini berlangsung lebih lama? Dan apakah efek serupa bisa ditemukan pada populasi yang lebih beragam — mereka yang lebih tua, atau yang punya kondisi sistemik tertentu?

Bubble tea mungkin tidak akan pernah masuk resep dokter. Tapi ilmu yang lahir dari gelas plastik berpipa besar itu ternyata bisa memperluas cara kita memahami saliva — cairan yang selama ini sering dianggap remeh.

Sumber DOI : https://doi.org/10.12688/f1000research.28028.1

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pixels

Tags

Share News

Related News
15 July 2026

Biji Kelor Melawan Bakteri Pembandel di Saluran Akar Gigi

15 July 2026

Ketika Gigi Anak Bisa Bercerita Tentang Usianya

15 July 2026

Lubang di Lantai Kamar Pulpa: Perawatan Gigi Justru Menciptakan Masalah Baru

en_US