Praktik kedokteran gigi selama ini kerap diidentikkan dengan sterilitas tinggi yang menghasilkan gunungan limbah medis sekali pakai. Mulai dari plastik pelindung, sarung tangan lateks, hingga limbah bahan kimia berbahaya. Namun, sebuah paradigma baru kini tengah didorong untuk mengubah wajah dunia kedokteran gigi menjadi lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan keselamatan pasien. Langkah transformatif menuju “Green Dentistry” (kedokteran gigi hijau) inilah yang menjadi sorotan utama dalam program International Kintar Summer Parcs 2026 yang diselenggarakan atas kerja sama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Filipina.
Dalam pemaparannya, Prof. Michelle Sunico Segara, BDM MOH PhD, Dekan sekaligus Profesor dari University of the Philippines College of Dentistry, menegaskan sebuah kutipan tajam dari dunia medis: “Tidak ada orang yang sehat di planet yang sakit.” Menurutnya, tenaga medis di bidang kesehatan gigi memiliki kewajiban moral untuk tidak sekadar menyembuhkan penyakit, tetapi juga memastikan prosedur yang mereka lakukan tidak merusak bumi.
Tantangan Transisi dan Dilema Plastik
Sebagai bagian dari gerakan global Green and Healthy Hospitals, institusi pendidikan kedokteran gigi kini mulai mengadopsi agenda 10 poin ramah lingkungan. Salah satu pencapaian besar yang disoroti oleh Prof. Michelle Sunico Segara , BDM MOH PhD, adalah keberhasilan Filipina dalam menghapuskan penggunaan dental amalgam (tambalan perak yang mengandung merkuri berbahaya) per tahun 2023. Sekolah kedokteran gigi kini sepenuhnya beralih ke bahan alternatif seperti resin komposit.
Namun, analisis mendalam menunjukkan bahwa setiap solusi lingkungan sering kali melahirkan tantangan baru. Resin komposit yang menggantikan amalgam pada dasarnya adalah plastik. Hal ini menciptakan dilema manajemen limbah baru di mana dunia kedokteran gigi harus mencari cara membuang sisa resin tanpa menimbun lebih banyak sampah plastik di bumi. Solusi terbaik jangka panjang yang ditawarkan bukan lagi sekadar mengganti bahan pengisi, melainkan memperkuat upaya preventif agar masyarakat tidak mengalami gigi berlubang sejak awal.
Digitalisasi sebagai Juru Selamat Lingkungan
Selain mengganti bahan kimia berbahaya seperti glutaraldehyde dengan alternatif yang lebih aman seperti asam parasetat dan hidrogen peroksida, teknologi digital terbukti menjadi pendorong utama Green Dentistry.
Teknologi pencitraan digital (X-ray digital) kini mulai menggeser film X-ray konvensional. Langkah ini tidak hanya memangkas limbah plastik, tetapi juga mengeliminasi limbah timbal (led) dan larutan kimia pencuci film yang sangat beracun bagi tanah. Lebih jauh lagi, penggunaan teknologi scanning digital 3D dan sistem CAD-CAM dalam pembuatan implan atau mahkota gigi berhasil meminimalisasi penggunaan bahan cetak konvensional seperti alginat dan produk gipsum (gypsum) yang pembuangannya masih menyisakan ambiguitas regulasi karena berpotensi mencemari tanah.
Meskipun mengubah budaya organisasi dan kebiasaan sehari-hari di klinik gigi tidaklah mudah, kesadaran kolektif yang dibangun melalui edukasi diharapkan mampu menggeser minat menjadi sebuah aksi advokasi yang nyata. Kedokteran gigi hijau bukan lagi sebuah pilihan masa depan, melainkan urgensi masa kini demi keberlanjutan hidup manusia dan planet bumi.
Reporter ( Nanda , Andri )
Foto : Tangkapan Layar Zoom Meeting