Praktik pemberian antibiotik secara rutin setelah pencabutan gigi mulai dipertanyakan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa manfaat antibiotik dalam mencegah komplikasi pasca-ekstraksi tidak sebanding dengan risiko jangka panjang berupa resistensi antibiotik. Gagasan ini mengemuka dalam forum ilmiah bertajuk “Rethinking Post-Extraction Care: Toward Antibiotic-Sparing Protocols in Dentistry”, dibawakan oleh drg. Muhammad Reza Pahlevi, Ph.D yang menyoroti perlunya perubahan paradigma dalam praktik kedokteran gigi modern.

Antara Risiko Infeksi dan Ancaman Resistensi
Selama ini, antibiotik kerap diresepkan sebagai langkah preventif pasca pencabutan gigi, terutama pada operasi molar ketiga (gigi bungsu). Padahal, bukti ilmiah menunjukkan tidak ada keuntungan signifikan dalam mempercepat penyembuhan luka atau mencegah komplikasi.
“Banyak dokter gigi masih meresepkan antibiotik bukan karena indikasi klinis yang kuat, tetapi karena kebiasaan dan kekhawatiran terhadap infeksi,” ujar drg. Nandika Desta, peneliti klinis di bidang bedah mulut.
Padahal, menurut berbagai studi (Choi et al., 2020; Lodi et al., 2021), infeksi pasca-ekstraksi bukanlah fenomena universal. Risiko komplikasi seperti alveolar osteitis (dry socket), nyeri, edema, dan trismus memang ada, tetapi tidak selalu membutuhkan intervensi sistemik berupa antibiotik.
Lebih jauh, penggunaan antibiotik yang tidak tepat justru mempercepat munculnya resistensi bakteri, sebuah ancaman global yang kini menjadi perhatian serius dunia kesehatan.
“Ketika antibiotik digunakan tanpa indikasi jelas, bakteri akan beradaptasi. Dari toleransi, mereka berkembang menjadi resisten. Ini bukan lagi isu individu, tapi krisis kesehatan masyarakat,” tegas drg. Reza.
Bukti Baru: Antiseptik Lebih Efektif
Sebagai alternatif, pendekatan berbasis antiseptic, khususnya penggunaan chlorhexidine (CHX) muncul sebagai solusi yang lebih aman dan efektif.
Penelitian klinis menunjukkan bahwa kelompok pasien yang menggunakan chlorhexidine mengalami:
- Penyembuhan luka lebih baik pada hari pertama dan ketujuh pasca operasi.
- Penurunan signifikan marker inflamasi seperti IL-6 dan CRP.
- Insiden alveolar osteitis lebih rendah dibanding kelompok control.
“Chlorhexidine bekerja secara lokal, menekan beban bakteri tanpa memicu resistensi seperti antibiotik sistemik,” jelas drg. Reza
Temuan ini diperkuat oleh meta-analisis terbaru (Pahlevi et al., 2026) yang menunjukkan bahwa chlorhexidine efektif mencegah komplikasi pasca operasi bahkan tanpa penggunaan antibiotik.
Tantangan di Lapangan: Kebiasaan dan Ekspektasi
Meski bukti ilmiah semakin kuat, implementasi pendekatan “tanpa antibiotik” masih menghadapi sejumlah kendala.
Pertama, pedoman klinis nasional belum sepenuhnya mengadopsi strategi ini. Kedua, ekspektasi pasien yang masih menganggap antibiotik sebagai “obat wajib” pasca tindakan. Ketiga, faktor psikologis dokter yang khawatir terhadap potensi komplikasi.
Perubahan praktik klinis tidak cukup hanya dengan bukti. Dibutuhkan edukasi, baik kepada tenaga medis maupun pasien.
Menuju Paradigma Baru
Para peneliti menekankan bahwa pemberian antibiotik harus berbasis pada penilaian risiko individual, bukan rutinitas.
Rekomendasi utama yang disoroti meliputi:
- Evaluasi faktor risiko sebelum meresepkan antibiotic.
- Mengutamakan intervensi lokal seperti antiseptic.
- Menghindari penggunaan antibiotik jika tidak ada indikasi jelas.

Perubahan paradigma dalam perawatan pasca pencabutan gigi menjadi keniscayaan di tengah ancaman resistensi antibiotik. Bukti ilmiah kini mengarah pada pendekatan yang lebih rasional, aman, dan berkelanjutan.
Jika praktik lama bertumpu pada pencegahan dengan antibiotik, maka masa depan kedokteran gigi tampaknya akan bergerak menuju prinsip yang lebih presisi: berbasis bukti, minim intervensi sistemik, dan berfokus pada terapi lokal.
(Reporter: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom. Fotografi: Fajar Budi Harsakti, SE)