Bayangkan seorang anak usia sembilan tahun yang baru saja menghabiskan biskuit cokelat di sela waktu makan siang. Lengket, manis, kariogenik. Sisa-sisanya menempel di celah gigi, menjadi ladang subur bagi bakteri pembentuk plak. Tapi bagaimana jika setelah itu ia mengunyah sepotong apel segar?
Pertanyaan sederhana itu menjadi dasar sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM. Hasilnya, yang dipublikasikan di Interdental: Jurnal Kedokteran Gigi edisi Juni 2022, membuktikan bahwa mengunyah buah apel setelah makan biskuit cokelat secara signifikan menurunkan skor plak gigi pada anak usia 8–10 tahun — bahkan lebih efektif dibanding mengunyah buah pir.
Ketika Tekstur Buah Jadi Alat Sikat Alami
Penelitian yang melibatkan 24 siswa SD Negeri Jongkang, Ngaglik, Sleman ini menggunakan desain eksperimen semu dengan metode crossover. Anak-anak dibagi ke dalam tiga kelompok: mengunyah 50 gram apel, mengunyah 50 gram pir, atau hanya berkumur air mineral setelah mengonsumsi biskuit cokelat. Skor plak diukur menggunakan indeks PHP-M modifikasi Martens dan Meskin, sebelum dan sesudah perlakuan.
Hasilnya cukup mencolok. Kelompok yang mengunyah apel mencatat selisih penurunan skor plak rata-rata sebesar 17,45 poin, jauh melampaui kelompok pir yang hanya 11,58 poin. Sementara kelompok kontrol justru mengalami peningkatan skor plak sebesar 2,91 poin — memperlihatkan bahwa berkumur air saja tidak cukup mengatasi sisa makanan kariogenik.
Perbedaan ini bukan kebetulan. Uji kekerasan yang dilakukan di Laboratorium Rekayasa Proses dan Pengolahan Pangan Fakultas Teknologi Pertanian UGM menunjukkan bahwa apel memiliki kekerasan 14,13 N, sementara pir hanya 7,39 N. Semakin keras buah yang dikunyah, semakin kuat stimulasi mekanik pada otot masseter, yang letaknya berdekatan dengan kelenjar parotis. Efeknya: sekresi saliva meningkat. Saliva inilah yang bekerja sebagai agen pembersih alami, membilas dan menetralisir sisa makanan di permukaan gigi.
Rasa apel yang lebih asam dibanding pir juga turut berperan. Rasa asam diketahui menjadi stimulus paling kuat untuk merangsang produksi saliva, mengungguli rasa asin, manis, dan pahit.
Camilan Anak, Masalah Lama yang Butuh Solusi Praktis
Karies gigi pada anak usia sekolah di negara berkembang seperti Indonesia mencapai prevalensi 60–85 persen. Salah satu penyumbang utamanya adalah kebiasaan mengonsumsi makanan ringan kariogenik di antara waktu makan. Biskuit cokelat, dengan teksturnya yang lengket dan kandungan sukrosanya, adalah salah satu pelakunya.
drg. Ignatius Sulistyo Jatmiko, M.Kes., Sp.KGA., peneliti utama studi ini, menyimpulkan bahwa intervensi berbasis buah segar bisa menjadi strategi kontrol plak mekanis yang mudah diterapkan.
“Mengunyah buah apel (Malus sylvestris Mill) setelah makan biskuit cokelat lebih menurunkan skor plak gigi pada anak usia 8–10 tahun daripada buah pir (Pyrus bretschneideri).”
Temuan ini relevan justru karena kesederhanaannya. Tidak membutuhkan alat, tidak membutuhkan obat kumur. Hanya sebuah apel — yang mudah didapat, disukai anak-anak, dan ternyata menyimpan manfaat yang selama ini luput dari perhatian meja makan keluarga Indonesia.
Sumber DOI : 10.46862/interdental.v18i1.4314
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : ChtGPT