Suara tentang masa depan Indonesia justru datang dari persoalan yang kerap dianggap sepele: gigi anak-anak. Tema yang diangkat, “Saving Children’s Smiles: Are We Treating Disease or Preventing It?”, yang dibawakan oleh Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K)terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan panjang tentang arah kebijakan kesehatan yang belum sepenuhnya berpihak pada pencegahan.
Di balik presentasi akademik dan data epidemiologis, terselip kenyataan yang sulit dibantah: sebagian besar anak Indonesia tumbuh dengan masalah kesehatan gigi. Prevalensi karies yang mencapai lebih dari 80 persen bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari sistem yang belum bekerja utuh.
Di negeri yang tengah menikmati bonus demografi, kualitas kesehatan anak menjadi fondasi yang tak tergantikan. Namun, kesehatan gigi sebagai bagian integral dari tumbuh kembang, sering terpinggirkan. Padahal, rongga mulut adalah pintu masuk berbagai persoalan kesehatan yang lebih luas.
“Banyak penyakit sistemik berawal dari kondisi rongga mulut yang tidak terjaga,” tegas drg.Bramanti demikian salah satu penekanan dalam simposium tersebut.
Karies yang dibiarkan bukan hanya menyebabkan rasa sakit. Ia merambat menjadi gangguan makan, menurunkan kualitas tidur, hingga memengaruhi konsentrasi belajar anak. Dalam jangka panjang, kondisi ini membentuk lingkaran yang sulit diputus: anak dengan gizi buruk rentan karies, sementara karies memperburuk status gizi.
Di titik inilah persoalan kesehatan gigi melampaui ranah medis. Ia menjelma menjadi isu sosial, pendidikan, bahkan pembangunan manusia.
Upaya pemerintah melalui berbagai program sebenarnya telah berjalan. Namun, efektivitasnya masih menyisakan tanda tanya. Rendahnya angka kunjungan anak ke tenaga kesehatan gigi menunjukkan bahwa akses belum sepenuhnya terbuka, atau barangkali belum cukup dipahami oleh masyarakat.
Di sisi lain, kebiasaan sehari-hari justru menjadi penentu yang lebih dominan. Fakta bahwa hampir seluruh masyarakat masih keliru dalam menyikat gigi memperlihatkan bahwa edukasi dasar belum tertanam kuat. Kesehatan gigi & mulut dalam konteks ini, bukan hanya soal layanan, tetapi juga budayanya.
Perubahan zaman turut membawa tantangan baru. Anak-anak kini hidup dalam lingkungan digital yang membentuk kebiasaan dan pola hidup berbeda. Penggunaan gawai yang berlebihan, misalnya, dikaitkan dengan perubahan postur tubuh dan pola pernapasan, yang pada akhirnya berpengaruh pada perkembangan struktur wajah dan gigi.
Sementara itu, faktor psikologis seperti stres juga mulai mendapat perhatian. Kebiasaan menggesekkan gigi (bruxism) pada anak tidak lagi dipandang sebagai gangguan sederhana, melainkan bagian dari respons terhadap tekanan emosional.
Di tengah kompleksitas ini, kesehatan gigi anak tampak sebagai simpul dari berbagai dinamika kehidupan modern.
(Reporter: Andri Wicaksono, S.Sos., M.I.Kom, Fotografi: Fajar Budi Harsakti, SE)