News

/

Latest News

Kurikulum PPDGS Harus Dinamis

Kurikulum pendidikan spesialis dituntut untuk dinamis dan proaktif menjawab tantangan teknologi medis masa depan. Ketua Program Studi PPDGS RKG UGM, drg. Isti Rahayu Suryani, M.Biotech., Sp.Rad.O.M.(K)., Ph.D., mengatakan pembaruan kurikulum ini difokuskan untuk menghasilkan lulusan spesialis yang mahir dalam mendeteksi manifestasi penyakit degeneratif di area oral maksilofasial. Salah satu inovasi utamanya adalah penerapan mata kuliah lintas disiplin berbasis teknologi.

“Radiografi Kedokteran Gigi Digital dan Deteksi Otomatis merupakan mata kuliah yang diunggulkan di PPDGS RKG UGM,” ungkap drg. Isti pada Workshop Kurikulum Radiologi Kedokteran Gigi, Senin (29/6).

Lebih lanjut, drg. Isti memaparkan bahwa mata kuliah tersebut akan menggabungkan teori dan skills lab dengan melibatkan beberapa dosen pakar di lingkungan UGM seperti dari FMIPA dan Teknik Elektro UGM. Mahasiswa akan dibekali materi machine learning dan teknologi 3D printing dari pakar eksternal lintas kampus.

Pengembangan kompetensi ini juga menyentuh ranah forensik dan inklusivitas pelayanan klinis. Pada mata kuliah Radiologi Forensik Kedokteran Gigi, prodi mendatangkan Adjunct Professor dari Chulalongkorn University, Thailand, serta berkolaborasi dengan radiolog Mabes Polri dan Dokter Spesialis Forensik Polda DIY untuk praktikum rekonstruksi tulang berbasis 3D CBCT. Sementara dalam praktik lapangan, mahasiswa diwajibkan menangani radiografi untuk pasien Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Dinamika dan pengembangan kurikulum di prodi RKG ini mendapat dukungan penuh dari fakultas. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKG UGM, Prof. drg. Rosa Amalisa, M.Kes., Ph.D., mengapresiasi respons cepat prodi terhadap pembaruan layanan kesehatan digital Kemenkes RI yang mengacu pada UU Kesehatan No. 17 Tahun 2023.

Meski kurikulum kini mengadaptasi kecerdasan buatan (AI) dan big data, Prof. Rosa mengingatkan bahwa teknologi tersebut hadir untuk bersinergi, bukan menggeser peran utama tenaga medis.

“Ada narasi yang menyudutkan dokter seolah tergantung AI. Namun, ini bukan kelemahan, karena keputusan klinis tetap ada di tangan dokter,” tegas Prof. Rosa. Ia berharap etika pelayanan dan komunikasi tetap menjadi landasan utama bagi para peserta didik.

Kontributor: Annisa Dwi Noviyanti, Hazra Alifia Muharam
Photo: Fajar Budi Harsakti
Editor: Fajar Budi Harsakti

Tags

Share News

Related News
30 June 2026

Menjaga Etika Penelitian Kesehatan

30 June 2026

Dua Tendik FKG UGM Promosi Jabatan, Dekan Tekankan Pentingnya Penataan Karir

29 June 2026

Mengenal Industri Kesehatan, Mahasiswa FKG UGM Kunjungi PT Cobra Dental Indonesia

en_US