News

/

Latest News

Seperti apa Kurikulum Double Degree Magister Kedokteran Gigi?

Program pendidikan magister yang digabung dengan pendidikan dokter gigi spesialis (double degree) membutuhkan batasan kurikulum yang tegas antara keduanya. Tanpa hal tersebut, program magister berisiko hanya menjadi batu loncatan menuju spesialis, sementara program spesialis dokter gigi bisa kehilangan esensi utamanya.

Persoalan itu dibahas dalam Workshop Evaluasi Kurikulum Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Gigi Klinik (IKGK) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM, Rabu (29/7/2026). Prodi Magister IKGK FKG UGM adalah prodi yang dapat memberi dua gelar sekaligus, yakni magister (MDSc) dan spesialis dokter gigi (Sp.KGA/Sp.Perio).

drg. Fimma Naritasari, MDSc., selau narasumber menyebut pentingnya terdapat batasan kurikulum yang jelas dalam program double degree ini. Menurutnya, kurikulum magister harus berfokus pada pengembangan ilmu melalui riset dan inovasi, sedangkan kurikulum spesialis harus berpusat pada praktik klinis, yakni penanganan berbagai kasus pasien.

Ia menjelaskan, penataan kurikulum IKGK mengacu pada sejumlah regulasi terbaru, yaitu Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Permendiktisaintek) Nomor 39 Tahun 2025 serta Peraturan Rektor UGM. Berdasarkan aturan tersebut, rumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) kini dibuat lebih ringkas, dengan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan digabung menjadi satu kesatuan utuh.

“Walau ada batas yang tegas, keduanya tetap bersinergi. Fondasi yang menjembatani magister dan spesialis ini ada pada beberapa mata kuliah seperti metodologi penelitian, evidence-based dentistry, biostatistik, serta etika penelitian,” jelas Fimma. Evidence-based dentistry merujuk pada praktik kedokteran gigi yang mengacu pada bukti ilmiah, sedangkan biostatistik adalah cabang statistik yang diterapkan di bidang kesehatan.

Selain memaparkan konsep tersebut, Fimma turut memandu dosen penanggungjawab mata kuliah sebagai peserta workshop mempraktikkan metode constructive alignment atau penyelarasan konstruktif. Metode ini memetakan CPL ke dalam bahan kajian ilmiah, yang kemudian diturunkan menjadi Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), Rencana Pembelajaran Semester (RPS), hingga rubrik penilaian yang terukur.

Kebutuhan akan kurikulum double degree ini kian mendesak seiring perubahan kebijakan di tingkat nasional. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKG UGM, Prof. drg. Rosa Amalia, M.Kes., Ph.D., mengungkapkan bahwa institusi pendidikan kesehatan tengah menghadapi banyak perubahan aturan, terutama setelah terbitnya Standar Kompetensi Dokter Gigi Spesialis (SKDGI) edisi 2026 oleh Konsil Kesehatan Indonesia.

Rosa Amalia berpesan agar kurikulum baru IKGK mampu menjawab sejumlah tuntutan zaman. Pertama, kurikulum perlu menyelaraskan skill (motorik) mahasiswa dengan berkembangnya teknologi kecerdasan buatan, seperti penggunaan intraoral scanner atau alat pindai kondisi rongga mulut. Kedua, pendekatan pelayanan pasien harus bergeser ke arah holistik untuk menangani pasien dengan penyakit penyerta (komorbid) seperti diabetes dan jantung. Ketiga, masyarakat kini makin melek informasi seputar estetika gigi di media sosial, yang kerap memicu sengketa medikolegal atau sengketa hukum di bidang kedokteran, sehingga kompetensi komunikasi dokter juga perlu ditingkatkan. Terakhir, materi keilmuan magister perlu diperluas untuk mendukung kedokteran gigi presisi, yakni pendekatan pengobatan gigi yang memanfaatkan genetika dan sel punca (stem cell) sesuai kondisi masing-masing pasien.

Sementara itu, Ketua Prodi Magister IKGK FKG UGM, drg. Asikin Nur, M.Kes., Ph.D., menjelaskan bahwa evaluasi kurikulum ini dirancang tanpa mengubah total beban studi yang saat ini sebesar 49 Satuan Kredit Semester (SKS).

Fokus utama penyesuaian ada pada perbaikan matriks Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), yakni target kompetensi lulusan, agar selaras dengan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), atau target capaian tiap mata kuliah. Pihaknya menargetkan penerapan penuh Outcome-Based Education (OBE), yaitu pendekatan pendidikan yang menilai keberhasilan dari capaian akhir mahasiswa, di seluruh mata kuliah.

“Kami tidak melakukan perombakan total. Penyesuaian materi dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) difokuskan agar lulusan benar-benar siap diterjunkan ke lapangan kerja dengan kompetensi yang sesuai regulasi,” pungkas Asikin.

Author and Photo: Fajar Budi Harsakti

Tags

Share News

Related News
30 July 2026

Para Kandidat Dekan FKG UGM, Serap Aspirasi Warga Kampus

29 July 2026

FKG UGM Menerima Kunjungan SMA Negeri 1 Kota Bima

28 July 2026

Kuliah Pakar Prof. Dr. drg. Setyo Harnowo, Sp.B.M.Mf., Subsp. Ortognat-D., FICD., FICCDE bersama Prodi Bedah Mulut & Maksilofasial FKG UGM

en_US