News

/

Artikel, Latest News

Komposit Baru dari FKG UGM Tunjukkan Harapan untuk Regenerasi Pulpa Gigi

Angka karies gigi anak Indonesia yang menembus 92,6 persen pada kelompok usia 5-9 tahun bukan sekadar statistik. Di baliknya ada jutaan pulpa gigi yang terancam — dan selama ini, bahan andalan dokter gigi untuk menanganinya, kalsium hidroksida, menyimpan kelemahan yang sudah lama diketahui namun belum terpecahkan.

Tim peneliti dari Departemen Biologi Oral FKG UGM mencoba mengubah itu.

Dalam studi yang dipublikasikan di Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences (Juni 2024), Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO. bersama tim lintas institusi menguji komposit baru berbahan gelatin, kitosan, Tetraethyl orthosilicate (TEOS), dan kalsium hidroksida (Ca(OH)₂) sebagai bahan perawatan pulpa terbuka. Hasilnya memberi sinyal yang menjanjikan.

Ketika Nestin Berbicara soal Regenerasi

Kunci penelitian ini ada pada protein bernama Nestin. Bukan nama yang familiar di telinga awam, tapi di dunia biologi pulpa, Nestin adalah penanda penting: ia muncul ketika odontoblas — sel pembentuk dentin — aktif merespons iritasi atau kerusakan. Semakin terstimulasi pulpa, semakin kuat ekspresi Nestin terdeteksi.

Tim Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO. menggunakan 30 tikus Wistar yang dibagi dua kelompok. Pada kelompok perlakuan, pulpa yang terbuka diaplikasikan komposit gelatin-kitosan-TEOS-Ca(OH)₂. Kelompok kontrol menerima Ca(OH)₂ konvensional. Pengamatan dilakukan pada hari ke-1, 3, 5, 7, dan 14 menggunakan metode imunohistokimia.

Kedua kelompok menunjukkan ekspresi Nestin positif, tampak sebagai warna cokelat pada odontoblas dan prosesnya, sel pulpa di dekat odontoblas positif, serta sel pipih yang melekat pada dentin. Artinya, proses regenerasi berlangsung di keduanya. Namun ada perbedaan yang justru menjadi temuan utama: ekspresi Nestin pada kelompok komposit lebih lemah dibanding kelompok kontrol Ca(OH)₂.

Lebih Lemah, Justru Lebih Baik

Paradoks ini punya penjelasan logis. Ca(OH)₂ konvensional memiliki pH sangat tinggi (11-12), yang bila tidak terkontrol justru dapat menginduksi nekrosis jaringan pulpa dan memicu respons pertahanan sel yang berlebihan. Ekspresi Nestin yang lebih kuat di kelompok kontrol kemungkinan mencerminkan kerusakan yang lebih intens, bukan regenerasi yang lebih baik.

Komposit baru ini bekerja dengan cara berbeda. TEOS membentuk jaringan ikatan siloksan (Si-O-Si) yang melindungi partikel Ca(OH)₂ dari pelepasan spontan. Gelatin mendukung pertumbuhan sel, sementara kitosan menyumbang kekuatan mekanis dan sifat antibakteri. Hasilnya: pH komposit hanya berkisar 9,44-9,55 — jauh lebih rendah dari Ca(OH)₂ murni — sehingga pelepasan mineral berlangsung lebih terkendali dan iritasi terhadap pulpa berkurang.

Ekspresi Nestin yang lebih lemah namun tetap positif pada kelompok perlakuan menunjukkan bahwa regenerasi tetap berjalan, hanya dengan tekanan yang lebih minimal terhadap jaringan pulpa.

Penelitian ini memang masih berlangsung pada model hewan, dan jalan menuju aplikasi klinis masih panjang. Tapi komposit ini membuka pertanyaan yang layak dikejar: apakah bahan yang bekerja lebih halus justru mampu melindungi pulpa lebih baik dari bahan konvensional yang selama ini menjadi standar emas?

Penulis: Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto: ChatGPT

Tags

Share News

Related News
2 July 2026

Minyak Temu Putih Turunkan Gula Darah Sekaligus Atasi Gingivitis pada Tikus Hiperglikemia

2 July 2026

Ketika Klopidogrel Membuat Luka Tak Mau Berhenti Berdarah

2 July 2026

Ketika Gigi Susu Patah: Pulpektomi Vital Selamatkan Senyum Anak 4 Tahun

en_US