News

/

Artikel, Latest News, SDG 3, SDG 9

Ketika Klopidogrel Membuat Luka Tak Mau Berhenti Berdarah

Bayangkan seorang pasien jantung yang harus menjalani pencabutan gigi. Ia rutin mengonsumsi klopidogrel, obat antiplatelet lini pertama untuk penyakit kardiovaskular. Yang terjadi kemudian bukan sekadar perdarahan biasa: darah terus mengalir, membeku sebentar, lalu keluar lagi. Kasa steril biasa tidak cukup. Epinefrin, agen hemostatik yang lazim dipakai, justru berbahaya bagi pasien dengan riwayat jantung karena dapat melonjakkan tekanan sistolik dan memacu detak jantung. Di sinilah dilema itu bermula, dan dari dilema itulah penelitian tim Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM bersemi.

Bismuth dari Dapur Farmasi, Diuji di Meja Operasi

Tim yang dipimpin drg. Poerwati Soetji Rahajoe bersama drg. Amelia Elizabeth Pranoto dan drg. Cahya Yustisia Hasan menguji bismuth subgallate, senyawa yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan pasta periodontal dan agen hemostatik setelah tonsilektomi, sebagai alternatif penghenti perdarahan pada kondisi agregasi trombosit yang terhambat oleh klopidogrel.

Dua puluh delapan tikus wistar jantan dibagi menjadi empat kelompok: kelompok normal dengan larutan salin, kelompok normal dengan bismuth subgallate, kelompok klopidogrel dengan salin, dan kelompok klopidogrel dengan bismuth subgallate. Ekor masing-masing tikus diamputasi 10 mm dari ujung distal. Perdarahan kemudian dikendalikan dengan kasa yang direndam larutan bismuth subgallate 1 g/ml selama 60 detik. Tiga parameter diukur: waktu perdarahan, volume perdarahan, dan perdarahan sekunder.

Hasilnya cukup mencolok. Kelompok klopidogrel tanpa bismuth subgallate mencatat waktu perdarahan rata-rata 1.116 detik dan volume perdarahan 160 miligram. Seluruh anggota kelompok ini, 100 persen, mengalami perdarahan sekunder. Sebaliknya, kelompok klopidogrel yang diberi bismuth subgallate hanya berdarah rata-rata 213 detik dengan volume 37 miligram, dan tidak satu pun mengalami perdarahan ulang.

Gumpalan Buatan yang Meniru Kerja Trombosit

Mekanisme di balik keberhasilan ini bukan sekadar efek fisik kasa yang menekan luka. Bismuth subgallate bekerja lebih dalam: ion bismuth berikatan dengan reseptor metallothionein pada permukaan sel pembawa tissue factor dan eritrosit. Ikatan ini memicu eryptosis, yakni kematian terprogram sel darah merah, yang kemudian membentuk gumpalan artifisial sebagai pengganti sumbat hemostasis awal. Bersamaan dengan itu, pembentukan reactive oxygen species meningkatkan ekspresi tissue factor, mempercepat pembentukan trombin dan fibrin.

Dengan kata lain, bismuth subgallate membangun “jembatan darurat” pembekuan darah, bahkan ketika klopidogrel sudah memblokade jalur agregasi trombosit yang normal.

Para peneliti mengakui batas studi ini: model ekor tikus tidak sepenuhnya merepresentasikan kondisi rongga mulut, di mana saliva mengandung aktivator plasminogen dan gerakan mengunyah dapat memperpanjang perdarahan. Uji klinis lanjutan masih diperlukan.

Namun temuan ini membuka pintu yang selama ini tertutup rapat: pasien jantung yang membutuhkan tindakan bedah mulut mungkin tidak lagi harus memilih antara risiko kardiovaskular dan risiko perdarahan yang tak terkendali.

Reporter: Nanda Ayu – Andri Wicaksono

Tags

Share News

Related News
2 July 2026

Ketika Gigi Susu Patah: Pulpektomi Vital Selamatkan Senyum Anak 4 Tahun

2 July 2026

Mulut yang Tak Bisa Menutup: Ketika Alat Sederhana Bisa Mengubah Tumbuh Kembang Wajah Anak

2 July 2026

Mengunyah Apel Setelah Ngemil Cokelat Ternyata Bisa Bersihkan Plak Gigi Anak

en_US