News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 3, SDG 4

Ketika Gigi Susu Patah: Pulpektomi Vital Selamatkan Senyum Anak 4 Tahun

Dua hari setelah terjatuh saat berlari di halaman rumah, seorang anak perempuan berusia 4 tahun tiba di RSGM Prof. Soedomo FKG UGM dengan kondisi yang membuat orang tuanya cemas: kedua gigi seri atas patah, berdarah, dan terasa nyeri. Ia menangis, menolak makan, bahkan takut menyikat gigi. Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai — bukan hanya soal gigi yang patah, tetapi bagaimana merawatnya pada anak yang ketakutan.

Kasus ini kemudian didokumentasikan oleh Suci N. Rahmadani dan drg. Putri K. W. Mahendra dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM, dan diterbitkan dalam jurnal e-GiGi (2024). Laporan kasus ini menawarkan pelajaran penting tentang penanganan trauma gigi pada anak usia prasekolah.

Ketika Pulpa Terbuka, Waktu Adalah Kunci

Pemeriksaan intraoral menunjukkan fraktur mahkota kompleks pada gigi 51 dan 61 — keduanya dengan pulpa yang sudah terbuka, masih vital, tetapi meradang. Rontgen OPG dan periapikal mengonfirmasi tidak ada fraktur tulang alveolar, dan yang lebih melegakan: benih gigi permanen di bawahnya masih dalam kondisi baik.

Diagnosis: complex crown fracture et causa traumatic injury gigi 51 dan 61.

Pilihan perawatannya tidak sederhana. Pulpotomi — yang hanya mengangkat pulpa koronal — tidak cukup karena pasien sudah mengalami nyeri spontan dan perdarahan berlanjut selama dua hari, tanda inflamasi ireversibel. Tim memilih pulpektomi vital: pengangkatan seluruh jaringan pulpa, baik di bagian koronal maupun radikuler, lalu mengisi saluran akar dengan bahan pengganti.

“Keuntungan dilakukan pulpektomi vital pada gigi desidui yang mengalami fraktur mahkota dengan pulpa terbuka ialah untuk mencegah terjadinya maloklusi akibat premature loss, menjaga fungsi mastikasi, mencegah munculnya masalah dalam berbicara, mencegah efek psikologis, dan mencegah gangguan erupsi gigi permanen.” — Rahmadani & Mahendra, e-GiGi 2024

Tingkat keberhasilan pulpektomi vital pada kasus fraktur mahkota kompleks mencapai 96%, lebih tinggi dibanding pulpotomi yang hanya 75%.

Dua Kunjungan, Satu Pelukan Ibu

Tantangan terbesar bukan teknis, melainkan perilaku. Pasien menangis histeris dan menolak semua tindakan — masuk kategori “sangat negatif” dalam skala Frankl. Solusinya: manajemen perilaku non-farmakologis berupa body restrain, di mana sang ibu duduk di kursi gigi, mendudukkan anaknya di pangkuan, lalu mendekap tubuh, tangan, dan kaki si kecil agar operator bisa bekerja dengan aman.

Perawatan yang idealnya selesai dalam satu kunjungan terpaksa dibagi dua. Kunjungan pertama: anestesi infiltrasi dan intrapulpa, pengambilan pulpa dengan barbed broach, preparasi saluran akar dengan K-File #35 dan #40, irigasi NaOCl 2,5%, lalu aplikasi dressing kalsium hidroksida. Kunjungan kedua: obturasi menggunakan pasta Metapex (kalsium hidroksida-iodoform), diikuti restorasi akhir dengan GIC tipe II.

Pada gigi 51 terjadi over filling — bahan obturasi sedikit melampaui apeks. Namun karena Metapex bersifat resorbable dan tidak toksik terhadap jaringan periapikal maupun benih gigi permanen, kondisi ini dipantau tanpa intervensi tambahan.

Empat minggu setelah perawatan, anak itu sudah bisa menggigit makanan dengan nyaman. Tidak ada keluhan, tidak ada kelainan klinis.

Kasus ini mengingatkan bahwa gigi susu bukan sekadar “gigi sementara” yang bisa diabaikan. Kehilangannya terlalu dini bisa memicu efek domino — dari maloklusi hingga gangguan bicara — yang justru lebih mahal dan kompleks untuk ditangani kelak.

Sumber DOI : https://doi.org/10.35790/eg.v12i1.47582

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : ChtGPT

Tags

Share News

Related News
2 July 2026

Mulut yang Tak Bisa Menutup: Ketika Alat Sederhana Bisa Mengubah Tumbuh Kembang Wajah Anak

2 July 2026

Mengunyah Apel Setelah Ngemil Cokelat Ternyata Bisa Bersihkan Plak Gigi Anak

2 July 2026

Warna-Warna yang Berbicara: Membaca Respons Tulang Lewat Kaca Pembesar

en_US