News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 3, SDG 4

Mulut yang Tak Bisa Menutup: Ketika Alat Sederhana Bisa Mengubah Tumbuh Kembang Wajah Anak

Sekitar tiga dari sepuluh anak usia sekolah dasar tidak bisa menutup bibirnya dengan mudah saat istirahat. Bukan karena malas, bukan karena kebiasaan, tetapi karena otot di sekitar mulut mereka tidak cukup kuat. Kondisi ini dikenal sebagai lip incompetence (LI), dan dampaknya jauh melampaui penampilan.

Sebuah artikel review yang diterbitkan dalam Journal of International Dental and Medical Research (2024) oleh tim peneliti dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM mengupas tuntas efektivitas berbagai alat mioungsional orofasial (orofacial myofunctional appliances/OMA) untuk mengatasi kondisi ini pada anak-anak. Tim yang dipimpin drg. Anrizandy Narwidina, MDSc, Sp.KGA, Ph.D bersama drg. Ignatius Sulistyo Jatmiko, M.Kes., Sp.KGA.dan kolega menelaah 401 artikel ilmiah, menyaring tujuh studi dengan hasil paling signifikan.

Bibir Terbuka, Masalah yang Mengalir ke Mana-mana

LI bukan sekadar estetika. Ketika bibir tidak mampu menutup rapat dalam posisi istirahat, anak beralih dari pernapasan hidung ke pernapasan mulut. Mulut menjadi kering. Risiko penyakit periodontal dan gingivitis meningkat. Lebih jauh, posisi bibir bawah yang jatuh di bawah gigi seri atas akan mendorong pertumbuhan overjet yang berlebihan, mempersempit lengkung rahang atas, bahkan mengganggu pola menelan dan bicara.

Prevalensinya tidak kecil: sekitar 30,7 persen anak usia 3 hingga 12 tahun mengalami LI, dan angka itu cenderung naik seiring bertambahnya usia. Faktor penyebabnya beragam, dari anatomi nasofaring yang sempit, pembesaran amandel, hingga kondisi alergi rinitis kronis.

Diagnosis klinis LI dilakukan dengan mengukur Lip Closure Strength (LCS), kekuatan penutupan bibir, yang menjadi tolok ukur utama keberhasilan terapi.

Alat Kecil, Hasil yang Terukur

Tiga jenis OMA prefabrikasi mendapat perhatian utama dalam review ini: Oral Screen, Patakara® Lip Trainer (Patakara Co., Ltd., Tokyo, Jepang), dan Lipple Trainer® (SHOFU Inc., Jepang).

Hasilnya cukup mengejutkan dalam kesederhanaannya. Penggunaan Lipple Trainer® selama tiga bulan pada 154 anak Jepang usia 3 hingga 12 tahun menunjukkan peningkatan LCS yang signifikan (p<0,001), dengan lonjakan terbesar terjadi hanya dalam satu bulan pertama pada kelompok usia 7 hingga 12 tahun. Sementara Patakara®, yang digunakan lima menit dua kali sehari selama dua bulan, meningkatkan LCS rata-rata sebesar 4,1 N dan, yang lebih menarik, turut memperbaiki indeks apnea-hipopnea serta saturasi oksigen saat tidur.

Oral Screen, alat yang lebih sederhana dan sudah dikenal sejak dekade 1980-an, terbukti tidak hanya menguatkan otot bibir, tetapi juga meningkatkan lebar lengkung rahang atas dan bawah setelah pemakaian rutin selama sembilan hingga dua belas bulan.

Mekanismenya bekerja pada level otot: alat-alat ini meregangkan serat otot, memicu akumulasi asam laktat saat istirahat, lalu merangsang aliran darah lebih deras saat latihan. Hasilnya, sel-sel yang belum berdiferensiasi berkembang menjadi mioblas dan membentuk serat otot baru pada otot orbicularis oris.

Satu syarat yang tidak bisa diabaikan: kepatuhan pasien dan dukungan orang tua. Tanpa keduanya, alat secanggih apapun tidak akan bekerja optimal di rumah, jauh dari pengawasan klinisi.

Bibir yang kuat bukan hanya soal senyum yang rapi. Ia adalah fondasi dari cara anak bernapas, berbicara, menelan, dan tumbuh.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : ChtGPT

Tags

Share News

Related News
2 July 2026

Mengunyah Apel Setelah Ngemil Cokelat Ternyata Bisa Bersihkan Plak Gigi Anak

2 July 2026

Warna-Warna yang Berbicara: Membaca Respons Tulang Lewat Kaca Pembesar

2 July 2026

Mengunyah Boba Ternyata Mengubah Komposisi Air Liur, Ini Temuannya

en_US