Minuman yang antreannya kerap mengular di pusat perbelanjaan itu ternyata menyimpan pertanyaan ilmiah yang lebih serius dari sekadar soal rasa. Di Klinik Korpagama, Universitas Gadjah Mada, lima belas mahasiswa muda duduk tertib, meneguk bubble tea merek Chatime di hadapan para peneliti, sementara sampel saliva mereka menunggu di dalam freezer bersuhu minus 20 derajat Celsius.
Itulah gambaran dari sebuah uji klinis acak (randomized experimental trial) yang digagas oleh Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal internasional F1000Research pada 2022 dan menjawab pertanyaan yang tampak sederhana namun jarang terpikirkan: apakah mengunyah mutiara tapioka dalam bubble tea bisa memperbaiki kualitas saliva?
Saliva, Garda Depan yang Kerap Diremehkan
Sebelum bicara bubble tea, perlu dipahami dulu mengapa saliva begitu penting. Cairan yang diproduksi kelenjar saliva ini bukan sekadar pelumas mulut. Saliva mengandung protein antibakteri dan antivirus seperti histatin, defensin, musin, dan C-reactive protein (CRP), serta komponen anorganik seperti kalsium (Ca) dan fosfat yang berperan dalam remineralisasi gigi.
CRP dalam saliva berfungsi sebagai penanda inflamasi. Kadarnya yang rendah mencerminkan lingkungan rongga mulut yang sehat, sementara lonjakan CRP mengisyaratkan adanya proses peradangan. Adapun kalsium saliva berperan menjaga integritas mineralisasi jaringan keras gigi. Keduanya, CRP dan kalsium, dipilih oleh tim peneliti sebagai indikator utama “kualitas saliva” dalam studi ini.
Mekanisme di balik penelitian ini logis secara biologis. Aktivitas mengunyah memberikan stimulasi mekanis pada kelenjar saliva, mendorong peningkatan laju sekresi saliva dari sekitar 0,32 ml/menit dalam kondisi tidak terstimulasi menjadi bisa mencapai 3 hingga 4 ml/menit saat terstimulasi. Saliva yang lebih banyak berarti lebih banyak protein pelindung, lebih banyak kapasitas antimikroba, dan lingkungan mulut yang lebih sehat.
Protokol di Balik Gelas Plastik Bertutup
Desain penelitian ini menggunakan rancangan pre-posttest dengan pendekatan crossover. Lima belas subjek, mahasiswa FKG UGM berusia 21 hingga 22 tahun dengan skor Oral Hygiene Index-Simplified (OHI-S) kategori baik, dipilih melalui convenience sampling dan diacak ke kelompok intervensi maupun kontrol.
Pada minggu pertama, kelompok intervensi meminum 100 ml bubble tea lengkap dengan mutiara tapioka selama lima menit per hari, tiga hari berturut-turut. Minggu berikutnya, subjek yang sama beralih ke teh tanpa mutiara sebagai kontrol. Saliva dikumpulkan pada hari pertama sebelum konsumsi (pretes) dan hari ketiga setelah konsumsi (postes), antara pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Setiap subjek diminta meludah ke dalam wadah saliva selama satu menit.
Pengukuran kadar CRP dilakukan menggunakan kit ELISA komersial (Salimetrics), sementara kadar kalsium diukur dengan test strip semikuantitatif (QUANTOFIX Calcium), di Laboratorium Parasitologi FK-KMK UGM. Seluruh analisis statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney karena distribusi data tidak normal.
Satu detail penting: penelitian ini berlangsung di tengah pandemi COVID-19. Sebelum mengikuti studi, setiap subjek wajib menjalani rapid test antigen dengan hasil negatif, pengukuran suhu tubuh, dan pengisian formulir riwayat perjalanan serta gejala klinis melalui Google Forms.
Mutiara yang Membawa Kabar Baik
Hasilnya cukup menarik. Pada kelompok intervensi, kadar CRP saliva turun secara bermakna dari rata-rata 247,06 pg/ml pada hari pertama menjadi 90,97 pg/ml pada hari ketiga. Penurunan ini signifikan secara statistik (p < 0,05). Sementara pada kelompok kontrol yang hanya minum teh tanpa mutiara, penurunan CRP memang terjadi, dari 395,66 pg/ml menjadi 361,91 pg/ml, tetapi tidak mencapai signifikansi statistik.
Kadar kalsium saliva justru meningkat di kedua kelompok. Kelompok intervensi mencatat kenaikan dari 15,33 mg/L menjadi 28,67 mg/L, sedangkan kelompok kontrol naik dari 33,00 mg/L menjadi 45,67 mg/L, keduanya signifikan secara statistik.
“Bubble tea drinks could improve the quality of saliva by decreasing salivary CRP and increasing Ca levels.” — Prof. Dr. drg. Juni Handajani, M.Kes., Ph.D., PBO, dan tim peneliti, dalam kesimpulan publikasi F1000Research 2022
Tim peneliti menduga penurunan CRP pada kelompok intervensi berkaitan dengan dua mekanisme sekaligus: stimulasi mekanis dari mengunyah mutiara tapioka yang mendorong sekresi saliva lebih banyak, dan stimulasi kimiawi dari kandungan polifenol teh, khususnya epigallocatechin gallate (EGCG), yang memiliki sifat antibakteri dan antiviral. Peningkatan kalsium di kedua kelompok, sementara itu, konsisten dengan temuan bahwa laju alir saliva yang lebih tinggi berbanding lurus dengan konsentrasi kalsium saliva.
Ilmu Pengetahuan yang Terus Dipertanyakan
Tidak semua mitra bestari menerima temuan ini dengan tangan terbuka. Reviewer dari University of São Paulo, Paulo H. Braz-Silva, menyatakan keberatan bahwa kesimpulan penelitian tidak sepenuhnya didukung oleh data yang tersedia, dan mempertanyakan kedalaman bagian diskusi. Di sisi lain, Muhammad Sohail Zafar dari Taibah University, Arab Saudi, menilai manuskrip telah disajikan dengan baik dan memenuhi standar ilmiah.
Tim peneliti merespons kritik tersebut dengan merevisi manuskrip: menambahkan penjelasan metode randomisasi dan blinding, menyertakan data volume saliva dalam tabel hasil, serta melengkapi checklist CONSORT sebagai standar pelaporan uji klinis acak. Proses review terbuka ini justru menjadi kekuatan tersendiri dari platform F1000Research, di mana setiap komentar, respons, dan revisi terdokumentasi secara publik.
Penelitian yang didanai oleh Universitas Gadjah Mada ini membuka celah baru dalam kajian biologi oral berbasis makanan dan minuman sehari-hari. Bahwa sebuah tren minuman kekinian bisa menjadi objek penelitian klinis yang ketat, dengan protokol etik, registrasi ClinicalTrials.gov, dan analisis laboratorium yang terstandar, adalah pengingat bahwa sains tidak pernah jauh dari kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya tinggal: siapa yang mau cukup penasaran untuk bertanya.
Sumber DOI : https://doi.org/10.12688/f1000research.28028.1
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.