News

/

Artikel, Latest News

Buah Mahkota Dewa Terbukti Hambat Bakteri Penyebab Karies pada Tambalan Gigi

Tambalan gigi resin komposit selama ini dianggap solusi estetik terbaik untuk merestorasi gigi yang rusak. Tapi ada masalah yang jarang dibicarakan: permukaan tambalan itu justru mudah ditempeli bakteri. Penelitian yang diterbitkan di Dentika Dental Journal pada Desember 2014 mengungkap temuan menarik — ekstrak buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) terbukti mampu mengubah sifat permukaan resin komposit sehingga koloni bakteri Streptococcus mutans, biang keladi karies gigi, kesulitan menempel. Penelitian ini dilakukan oleh drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D. Bagian dari Biomedika Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Temuan ini membuka jalan baru pemanfaatan herbal asli Indonesia dalam dunia kedokteran gigi preventif.

Mengapa Tambalan Gigi Bisa Jadi Sarang Bakteri?

Resin komposit adalah material tambalan yang populer karena warnanya mendekati gigi asli dan daya rekatnya baik. Namun secara kimiawi, permukaan resin komposit bersifat hidrofobik — cenderung menolak air, tapi justru ramah terhadap bakteri. Sifat inilah yang membuat S. mutans mudah melekat, membentuk lapisan tipis yang disebut biofilm, lalu memicu karies sekunder di tepi tambalan.

Karies sekunder adalah kerusakan gigi baru yang muncul di sekitar tambalan yang sudah ada. Kondisi ini menjadi salah satu alasan utama mengapa tambalan gigi harus diganti berulang kali. Secara klinis, ini bukan hanya soal biaya, tapi juga soal pengurangan struktur gigi asli setiap kali dilakukan pengeboran ulang.

Pendekatan yang selama ini digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah memodifikasi ukuran partikel pengisi (filler) dalam resin komposit hingga skala nano. Hasilnya memang lebih baik dibanding versi lama, tapi bakteri tetap bisa menempel. Penelitian drg. Dedy dan timnya menawarkan pendekatan berbeda: bukan mengubah komposisi material, melainkan melapisi permukaannya dengan bahan herbal yang mengandung senyawa aktif.

Saponin: Senjata Kimia dari Buah Merah Tropis

Mahkota dewa adalah tanaman asli Papua yang tumbuh subur di iklim tropis. Buahnya yang berwarna merah mengkilat sudah lama dikenal masyarakat sebagai obat tradisional untuk jantung, diabetes, hingga kolesterol. Namun penelitian ini mengeksplorasi khasiatnya dari sudut yang berbeda — sebagai pelapis antibakteri untuk material gigi.

Kunci utamanya ada pada kandungan saponin dalam buah mahkota dewa. Saponin adalah senyawa yang bersifat amphipathic, artinya satu molekul memiliki dua ujung dengan sifat berlawanan: satu ujung suka air (hidrofilik) dan ujung lainnya menolak air (hidrofobik). Sifat inilah yang membuatnya bekerja seperti deterjen alami.

Dalam penelitian ini, ekstrak buah mahkota dewa dibuat dalam tiga konsentrasi — 12,5%, 25%, dan 50% — lalu dioleskan ke permukaan sampel resin komposit berbentuk tablet kecil berdiameter 5 mm. Setelah pelapisan, para peneliti mengukur perubahan sifat permukaan menggunakan parameter yang disebut sudut kontak (contact angle): semakin kecil sudutnya, semakin hidrofilik permukaan tersebut, dan semakin kecil kemungkinan bakteri menempel.

Hasilnya cukup mencolok. Permukaan resin komposit tanpa perlakuan menunjukkan sudut kontak rata-rata 67,31 derajat. Setelah dilapisi ekstrak konsentrasi 50%, sudut kontak turun drastis menjadi hanya 28,91 derajat. Perbedaan ini secara statistik signifikan berdasarkan uji Kruskal-Wallis (p < 0,05).

“Inhibisi perlekatan bakteri dalam lingkungan rongga mulut lebih bermanfaat daripada membunuh, karena inhibisi perlekatan tetap mempertahankan keseimbangan flora normal rongga mulut.” — drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D., dalam paper penelitian ini

Bukti Visual dari Bawah Mikroskop Elektron

Perubahan angka sudut kontak saja mungkin terasa abstrak. Maka tim peneliti melangkah lebih jauh: mereka menguji langsung apakah perubahan sifat permukaan itu benar-benar berdampak pada perlekatan S. mutans.

Sampel resin komposit yang sudah dilapisi dan yang tidak dilapisi sama-sama diinkubasi bersama suspensi bakteri S. mutans selama 72 jam pada suhu 37 derajat Celcius — kondisi yang menyerupai suhu rongga mulut. Setelah itu, permukaan sampel diamati menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM), alat pencitraan yang mampu memperlihatkan detail permukaan pada perbesaran ribuan kali.

Hasilnya terlihat jelas. Pada permukaan yang tidak dilapisi, koloni S. mutans tampak lebih padat dengan rantai bakteri yang panjang — tanda biofilm yang aktif berkembang. Sementara pada permukaan yang dilapisi ekstrak konsentrasi 12,5%, rantai koloni bakteri tampak jauh lebih pendek dan jumlahnya berkurang. Ini menunjukkan bahwa pelapisan ekstrak mahkota dewa berhasil menghambat pembentukan biofilm, meski tidak membunuh bakterinya secara langsung.

Justru di sinilah nilai tambah pendekatan ini. Membunuh seluruh bakteri di rongga mulut bukan tujuan yang bijak — karena banyak bakteri di mulut bersifat normal dan justru melindungi dari masuknya bakteri patogen dari luar. Dengan hanya menghambat perlekatan, keseimbangan flora normal rongga mulut tetap terjaga.

Dari Tanaman Obat ke Klinik Gigi: Jalan Masih Panjang

Penelitian ini memiliki keterbatasan yang perlu dicatat. Evaluasi perlekatan bakteri dilakukan secara kualitatif, bukan kuantitatif — artinya perbedaan yang terlihat dari citra SEM belum dikonversi ke angka yang bisa dibandingkan secara statistik. Selain itu, penelitian ini baru dilakukan dalam kondisi laboratorium (in vitro), sehingga belum bisa langsung diaplikasikan ke pasien.

Namun sebagai studi awal, temuan ini cukup menjanjikan. Ekstrak buah mahkota dewa berhasil memodifikasi sifat permukaan resin komposit secara bermakna dan menunjukkan efek penghambatan terhadap biofilm S. mutans. Langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah uji klinis, pengembangan formula yang stabil untuk diaplikasikan di kursi perawatan, serta kajian keamanan jangka panjangnya.

Indonesia memiliki kekayaan herbal yang belum sepenuhnya dieksplorasi untuk keperluan medis. Buah mahkota dewa, yang selama ini lebih dikenal sebagai ramuan tradisional, kini menunjukkan potensinya sebagai pelapis permukaan material gigi yang ramah lingkungan dan berbasis bahan alami. Jika penelitian lanjutan membuktikan efektivitasnya secara klinis, bukan tidak mungkin suatu hari dokter gigi akan melengkapi perawatan tambalannya dengan lapisan tipis dari buah merah asal Papua itu.

Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam

Foto: Pixabay

Tags

Share News

Related News
13 July 2026

Dharma Wanita Persatuan FKG UGM Salurkan Bantuan untuk Panti Asuhan di Prambanan

13 July 2026

Ketika-Bubble-Tea-Masuk-Laboratorium-Penelitian-FKG-UGM-Ungkap-Manfaat-Mutiara Tapioka bagi Kualitas Saliva

13 July 2026

Boba-dan-Bakteri-Ketika-Gelembung-Tapioka-Melawan-Streptococcus-mutans

en_US