News

/

Artikel, Latest News, SDG 3, SDG 9

Ketika 5 Operasi Belum Cukup, 1 Teknik Jahitan Dibutuhkan Untuk Menutup Celah Lelangit Anak

Bocah laki-laki itu baru berusia empat tahun tujuh bulan ketika ia masuk ke poliklinik Bedah Mulut RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, dengan satu keluhan yang sama seperti bertahun-tahun sebelumnya: masih ada celah di lelangitnya. Padahal ia sudah menjalani empat kali operasi sejak usia empat bulan.

Kasus ini kemudian menjadi studi yang dipublikasikan oleh drg. Pingky Krisna Arindra bersama drg. Prihartiningsih dan drg. Bambang Dwi Rahardjo dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM. Temuan mereka menunjukkan bahwa teknik Furlow Double Opposing Z Plasty, yang dikombinasikan dengan insisi relaksasi lateral, mampu menutup celah palatum mole secara komplet bahkan setelah operasi-operasi sebelumnya gagal.

Empat Operasi, Satu Celah yang Tersisa

Riwayat bedah pasien ini panjang dan berlapis. Operasi pertama dilakukan pada 2009 untuk mendekatkan celah bibir bilateral dengan teknik lip adhesion. Setahun kemudian, labioplasti bilateral dikerjakan dengan metode Barsky. Dua operasi berikutnya menyasar lelangit: palatoplasty dengan teknik pushback pada 2012, lalu koreksi dengan z plasty. Keduanya tidak berhasil menutup celah di palatum mole sepenuhnya.

Kondisi ini bukan anomali langka. Komplikasi berupa fistula oronasal, yakni hubungan terbuka antara rongga mulut dan hidung, terjadi pada 10 hingga 20 persen kasus palatoplasty. Celah yang tersisa bukan sekadar masalah estetika: makanan dan minuman bisa masuk ke kavitas nasal, bicara menjadi hipernasalitas, dan perkembangan bahasa anak terganggu.

Tantangan repair pada kasus seperti ini berlipat ganda. Jaringan lokal sudah berkurang akibat operasi sebelumnya, dan bekas luka meninggalkan jaringan fibrous tebal yang membuat flap sulit digerakkan tanpa risiko sobek atau tegang berlebihan.

Transposisi Dua Lapis, Satu Hasil Komplet

Pada 16 Januari 2014, tim bedah merancang ulang pendekatan mereka. Teknik Furlow double opposing z plasty bekerja dengan prinsip transposisi: dua z plasty dibuat saling berhadapan, satu di lapisan mukosa oral dan satu lagi di mukosa nasal yang mencakup otot levator palatini. Sudut flap dibuat 60 derajat. Ketika dipertukarkan posisinya, palatum tidak hanya menutup tetapi juga memanjang, mendekati dinding posterior faring.

Karena jaringan fibrous pasca operasi sebelumnya membuat flap terlalu tegang, tim menambahkan lateral relaxing incision di posterior tuber maksila. Langkah ini terbukti krusial: flap dapat digerakkan bebas, jahitan tidak tegang, dan risiko dehisensi pasca operasi diminimalkan. Penjahitan dilakukan dua lapis dengan benang vicryl 4.0.

“Teknik ini dilaporkan meningkatkan velopharyngeal closure akibat dari penambahan panjang palatum mole sehingga mendekat ke dinding posterior faring,” tulis Arindra dan koleganya dalam laporan kasus tersebut.

Dua minggu pasca operasi, kontrol menunjukkan penutupan komplet. Tidak ada dehisensi. Tidak ada fistula baru.

Lebih dari Sekadar Menutup Celah

Yang membuat teknik Furlow menarik bukan hanya angka keberhasilannya, tetapi mekanisme fungsionalnya. Rekonstruksi levator sling mengubah orientasi serat otot dari vertikal menjadi horizontal, meningkatkan mobilitas palatum secara keseluruhan. Artinya, perbaikan bukan hanya anatomis, tetapi juga fungsional untuk bicara.

Studi ini menegaskan bahwa pada kasus repair palatoplasty dengan jaringan fibrous pasca operasi berulang, teknik Furlow dengan tambahan insisi relaksasi lateral layak dipertimbangkan sebagai pilihan utama. Bagi seorang anak yang telah melewati lima meja operasi sebelum usia lima tahun, satu teknik jahitan yang tepat bisa berarti segalanya.

Reporter: Nanda Ayu – Andri Wicaksono

Tags

Share News

Related News
2 July 2026

Ketika Rahang Patah, Tulang Mana yang Lebih Cepat Pulih?

2 July 2026

Temu Putih Melawan Radang: Bukti dari Laboratorium FKG UGM

2 July 2026

Minyak Temu Putih Turunkan Gula Darah Sekaligus Atasi Gingivitis pada Tikus Hiperglikemia

en_US