Seorang perempuan berusia 42 tahun mengalami kecelakaan sepeda motor. Salah satu giginya yaitu gigi seri rahang bawah nomor 32 terlepas sepenuhnya dari tempatnya. Ia merawatnya seadanya, dicuci dengan air keran, dilap dengan saputangan, lalu disimpan dalam plastik kering selama 15 jam. Ketika akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Gadjah Mada, harapan untuk menyelamatkan gigi itu tampak tipis Karena gigi disimpan terlalu lama dalam kondisi kering dan tidak fisiologis, sel-sel ligamen periodontal dipastikan sudah tidak dapat bertahan. Namun tim yang dipimpin oleh Dr. drg. Wignyo Hadriyanto, M.S., Sp.KG(K) dari Departemen Ilmu Konservasi Gigi FKG UGM tidak menyerah begitu saja. Mereka merancang pendekatan multidisiplin yang melibatkan spesialis konservasi gigi dan bedah mulut.
Avulsi gigi adalah kondisi di mana gigi terlepas seluruhnya dari soketnya akibat benturan keras. Ini bukan sekadar gigi goyang atau retak, gigi benar-benar keluar dari tulang rahang. Kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, dan cedera olahraga menjadi penyebab paling umum. Angkanya tidak kecil, satu hingga enam belas persen dari seluruh cedera gigi traumatik melibatkan avulsi gigi permanen.
Yang membuat kondisi ini gawat adalah soal waktu. Sel-sel ligamen periodontal, jaringan penyambung antara gigi dan tulang rahang mulai mati dalam hitungan menit setelah gigi terlepas. Sel-sel inilah yang menjadi kunci keberhasilan replantasi, yaitu prosedur penanaman kembali gigi ke dalam soketnya. Idealnya, replantasi dilakukan dalam 20 hingga 30 menit setelah avulsi terjadi. Batas aman bertahan sel ligamen periodontal ditetapkan pada 60 menit dalam kondisi kering.
Langkah pertama adalah perawatan saluran akar secara ekstraoral, prosedur dilakukan di luar mulut pasien. Gigi dibersihkan, saluran akarnya dirawat, dan ujung akar dipotong sepanjang 3 mm. Pengisian akar dilakukan menggunakan teknik retrograde dengan bahan Mineral Trioxide Aggregate (MTA), material biokompatibel yang dikenal mendukung regenerasi jaringan. Setelah itu, soket gigi dikuret dan diirigasi dengan larutan salin normal sebelum gigi ditanam kembali.
Untuk menstabilkan gigi yang baru ditanam, digunakan splint berupa archbar, kawat yang diikatkan ke gigi-gigi di sekitarnya menggunakan ligatur 0,4 mm. Archbar berfungsi sebagai penyangga semi-rigid: cukup kuat untuk menopang gigi, namun tetap memberi ruang gerak fisiologis agar ligamen periodontal dapat pulih dan tidak mengalami ankylosis, yaitu kondisi di mana gigi menyatu langsung dengan tulang tanpa jaringan penghubung.
“Replantation is one of the recommended treatments for preserving avulsion of tooth,” Tulis tim peneliti dalam laporan kasus yang dipublikasikan di KnE Medicine, April 2022.
Pemeriksaan klinis dan radiografis tiga bulan setelah prosedur menunjukkan hasil yang melampaui perkiraan. Gigi 32 tidak menunjukkan tanda-tanda kegoyahan. Gigi 31 yang sebelumnya mengalami luksasi juga kembali stabil. Gambaran radiografis memperlihatkan perbaikan kondisi tulang alveolar di sekitar gigi yang ditanam kembali.
Keberhasilan ini tidak datang tanpa catatan. Para dokter menjelaskan bahwa prognosis jangka panjang tetap bergantung pada respons jaringan periodontal. Ada empat kemungkinan penyembuhan setelah replantasi: pulih dengan ligamen periodontal normal, resorpsi permukaan, ankylosis, atau resorpsi inflamatoris akibat infeksi. Pada pasien ini, tanda-tanda awal menunjukkan penyembuhan yang positif sebuah pencapaian yang tidak biasa mengingat kondisi awal gigi yang sangat tidak ideal.
Faktor keberhasilan lain yang turut berperan adalah kondisi soket yang masih utuh, tidak adanya fraktur tulang, serta kesehatan sistemik pasien yang baik. Penanganan yang tepat dan cepat di tingkat fasilitas rujukan juga menjadi kunci.
Kasus ini menyampaikan pesan yang sederhana namun penting, jika gigi permanen terlepas akibat cedera, jangan dibuang dan jangan dibiarkan mengering. Simpan dalam susu, air kelapa, atau jika tidak ada pilihan lain, maka di dalam mulut di antara pipi dan gusi, dan segera cari pertolongan dokter gigi.
Para peneliti juga mencatat bahwa media penyimpanan alami berbasis tanaman seperti propolis, air kelapa, lidah buaya, dan teh hijau terbukti efektif menjaga viabilitas sel ligamen periodontal, bahkan lebih baik daripada beberapa media sintetis. Pengetahuan ini bukan hanya relevan bagi klinisi, ini adalah informasi yang seharusnya diketahui siapa saja, terutama mereka yang aktif berolahraga atau sering berkendara.
Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes & Annisa Dwi Noviyanti
Foto : FreePik
Sumber DOI : https://doi.org/10.18502/kme.v2i1.10852