News

/

Artikel, Latest News

Gigi Patah Bukan Akhir: Bikuspidisasi Selamatkan Geraham yang Hampir Dicabut

Tiga hari setelah menggigit makanan keras, seorang pria berusia 46 tahun merasakan nyeri tajam di geraham kanan bawahnya. Gigi itu sudah pernah dirawat saluran akar dua tahun sebelumnya, dipasangi pasak logam, dan ditambal. Ia merasa ada sesuatu yang patah. Pemeriksaan di klinik Konservasi Gigi RSGM Prof. Soedomo FKG UGM mengonfirmasi kekhawatirannya: garis retakan terlihat dari sisi distoklusal, menembus hingga ke bawah garis gusi.

Kasus ini kemudian didokumentasikan dalam studi yang ditulis oleh Dr.drg. Raphael Tri Endra Untara, M.Kes., Sp.KG(K) dan drg. Putu Mariati Kaman Dewi, Sp.KG dari Departemen Konservasi Gigi FKG UGM, dan dipublikasikan dalam MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) UGM edisi April 2017.

Ketika Pasak Pelindung Justru Menjadi Biang Masalah

Gigi yang telah menjalani perawatan saluran akar (PSA) secara alamiah lebih rapuh. Elastisitasnya berkurang, morfologinya berubah, dan ia kehilangan kemampuan merasakan tekanan melalui propriosepsi. Struktur koronal yang terkikis akibat karies, trauma, dan prosedur PSA sendiri membuat gigi makin rentan terhadap fraktur.

Untuk menopang restorasi pada gigi dengan kerusakan luas, pasak intraradikular dipasang. Pasak jenis Radix Anchor, yang digunakan pada kasus ini, berbentuk paralel dan dikenal lebih retentif dibanding pasak logam berbentuk tapered. Namun pasak ini memiliki modulus elastisitas yang tinggi dan diameter yang besar, sehingga justru mengurangi resistensi gigi terhadap fraktur.

Pada pasien ini, fraktur melibatkan bagian distoklusal mahkota hingga mencapai sepertiga koronal akar dan bifurkasi. Selain itu, ditemukan lesi furkasi derajat II yang diperparah oleh penumpukan karang gigi dan titik kontak yang buruk antara gigi 46 dan 47. Diagnosis ditegakkan: gigi 47 non-vital pasca PSA dengan fraktur Ellis kelas VI disertai lesi furkasi derajat 2.

Membelah untuk Menyelamatkan

Di sinilah keputusan klinis yang menarik diambil. Alih-alih mencabut gigi, tim dokter memilih prosedur bikuspidisasi, yakni tindakan bedah yang memisahkan akar mesial dan distal geraham bawah tepat pada furkasi, lalu mempertahankan keduanya di dalam rongga mulut dalam bentuk yang menyerupai dua gigi premolar.

“Bikuspidisasi merupakan pilihan terapi yang cukup baik untuk mempertahankan gigi yang memiliki prognosis hopeless dalam konteks periodontal.”

Prosedur ini dikombinasikan dengan crown lengthening, yaitu tindakan bedah untuk mengekspos bagian dentin yang solid di bawah garis gusi, guna mendapatkan ferrule effect yang adekuat. Ferrule effect, yakni cincin logam 360 derajat yang mengelilingi dinding dentin paralel, berperan penting dalam mengurangi gaya ungkit dan tekanan lateral pada mahkota.

Setelah separasi gigi dan crown lengthening dilakukan, pasak fiber (Fiberpost, Dentsply) dipasang pada saluran akar mesiobukal. Pasak fiber dipilih karena modulus elastisitasnya yang rendah dan mendekati dentin, yakni sekitar 18-42 GPa, sehingga tekanan terdistribusi lebih merata tanpa risiko fraktur akar. Restorasi akhir berupa mahkota penuh porselin fusi metal yang disementasi dengan semen resin, membentuk dua unit mahkota yang menyerupai premolar.

Satu Bulan Kemudian: Gigi yang Kembali Berfungsi

Kontrol satu bulan pascaoperasi membawa kabar yang menggembirakan. Pasien tidak lagi merasakan nyeri saat mengunyah. Pemeriksaan klinis tidak menemukan kemerahan pada gingiva sekitar. Lebih dari itu, gambaran radiografis menunjukkan area radiolusen pada bifurkasi mulai mengecil, pertanda penyembuhan jaringan tulang yang berjalan ke arah yang baik.

Keberhasilan perawatan ini, menurut Raphael Tri Endra Untara dan Putu Mariati Kaman Dewi, bergantung pada tiga faktor utama: stabilitas tulang alveolar dalam menopang gigi yang telah dibelah, tidak adanya galur parah pada sisi mesial akar distal maupun sisi distal akar mesial, serta separasi akar yang cukup untuk menciptakan embrasur yang memungkinkan pembersihan yang optimal.

Studi kasus ini menegaskan bahwa fraktur mahkota-akar dengan lesi furkasi bukan serta-merta vonis cabut. Dengan pendekatan endodontik bedah yang terencana, gigi yang tampaknya sudah “tanpa harapan” masih bisa dipertahankan, berfungsi, dan bahkan pulih. Sebuah pengingat bahwa dalam kedokteran gigi, mempertahankan gigi asli selalu layak diperjuangkan selama kondisi biologis memungkinkan.

Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes. & Annisa Dwi Noviyanti

Sumber : Pict generate by Gemini AI

Tags

Share News

Related News
2 July 2026

Ketika Rahang Patah, Tulang Mana yang Lebih Cepat Pulih?

2 July 2026

Temu Putih Melawan Radang: Bukti dari Laboratorium FKG UGM

2 July 2026

Minyak Temu Putih Turunkan Gula Darah Sekaligus Atasi Gingivitis pada Tikus Hiperglikemia

en_US