Upaya jurnal-jurnal ilmiah Indonesia menembus indeksasi internasional bereputasi seperti Scopus ternyata tidak semata ditentukan kualitas artikel. Di baliknya, terdapat pertarungan panjang soal identitas jurnal, spesialisasi keilmuan, kualitas tata kelola editorial, hingga strategi geopolitik akademik. Hal itu mengemuka dalam Workshop Menuju Indeksasi Internasional Bereputasi yang digelar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) yang dibuka oleh Kepala Unit Penelitian & Publikasi FKG UGM drg. Silviana Farrah Diba, Sp. RKG., Sub.Sp.RP(K) beserta jajaran pengelola jurnal ilmiah FKG UGM.
Dalam forum yang berlangsung cair dan penuh evaluasi kritis tersebut, Editor in Chief Journal of Tropical Biodiversity and Biotechnology (JTBB), Dr. Miftahul Ilmi, S.Si., M.Si.membagikan pengalaman bagaimana jurnal yang dirintisnya berhasil masuk Scopus meski berangkat dari keterbatasan sumber daya dan kompetisi ketat antar jurnal internasional.
“Scopus itu suka sesuatu yang unik. Kalau jurnal kita terlalu umum, mereka akan berpikir untuk apa jurnal ini ada kalau yang serupa sudah banyak?” ujar Ilmi dalam paparannya.
Pernyataan itu menjadi kritik langsung terhadap banyak jurnal di Indonesia yang masih mengusung cakupan terlalu luas tanpa kekhasan akademik yang jelas. Menurut Ilmi, era “mega journal” telah berakhir. Jurnal-jurnal baru harus menemukan ceruk spesifik agar memiliki nilai tawar di mata lembaga indeksasi internasional.
Ia mencontohkan JTBB yang sejak awal secara sadar membatasi fokus hanya pada biodiversitas tropis Asia Tenggara. Kebijakan itu bahkan memengaruhi pemilihan editor, reviewer, hingga asal naskah. “Kalau saya bilang fokus ASEAN, maka editor, author, dan tema riset harus mencerminkan ASEAN,” tegasnya.

Persoalan MKGI: Nama, Cakupan, dan Identitas
Diskusi workshop banyak menyoroti perjalanan Indonesian Dentistry Magazine (MKGI), salah satu catatan evaluator adalah cakupan jurnal yang dianggap terlalu luas dan kurang memiliki diferensiasi dibanding jurnal kedokteran gigi lain yang telah lebih dahulu terindeks.
Pengelola MKGI mengungkapkan bahwa reviewer Scopus sempat menilai tujuan jurnal “masih membingungkan”, terutama terkait fokus regenerasi berbahan alami yang dianggap belum terdefinisi kuat.
“Kami akhirnya mulai berpikir untuk lebih berani menspesifikkan tema jurnal. Karena ternyata itu menjadi isu utama saat direview,” ungkap salah satu pengelola MKGI.
Ilmi menilai langkah itu tepat. Menurutnya, perubahan nama jurnal bukan solusi utama karena justru dapat merusak rekam jejak administrasi dan sitasi yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Ia bahkan menilai kekayaan biodiversitas dan karakter kesehatan masyarakat Asia Tenggara dapat menjadi kekuatan khas jurnal kedokteran gigi Indonesia.
“Kebiasaan makan kita berbeda dengan Eropa, mikrobiotanya berbeda, budaya kesehatan giginya berbeda. Itu sebenarnya bisa menjadi kekuatan scientific uniqueness kita,” ujarnya.
Kritik terhadap Tata Kelola Jurnal di Indonesia
Selain membahas substansi ilmiah, workshop juga membuka persoalan pelik pengelolaan jurnal di Indonesia. Ilmi secara terbuka mengkritik praktik sebagian jurnal nasional yang terlalu berorientasi bisnis dan meloloskan artikel demi pemasukan article processing charge (APC).
JTBB, kata Ilmi, menerapkan tingkat penolakan hingga 70 persen demi menjaga kualitas. Meski demikian, keputusan tersebut berdampak pada beban kerja editorial yang sangat tinggi.
“Yang paling penting itu technical editor. Mereka yang mengejar reviewer, mengingatkan author, memastikan layout dan bahasa benar. Ini kerja basah yang sering tidak terlihat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti masih minimnya dukungan institusi terhadap pengelola jurnal ilmiah. Banyak kampus, kata dia, masih membebankan pengelolaan jurnal kepada pustakawan atau staf administratif tanpa tim khusus.
“Jurnal itu pekerjaan penuh waktu. Tidak bisa dirangkap begitu saja,” katanya.
Persaingan Regional dan Strategi ASEAN
Workshop juga mengungkap fakta bahwa persaingan jurnal ilmiah kini semakin bergeser ke level regional. Negara-negara seperti Malaysia dan Thailand disebut telah memiliki banyak jurnal kedokteran gigi bereputasi internasional yang lebih matang secara ekosistem.
Karena itu, Ilmi mendorong FKG UGM membangun jejaring ASEAN terlebih dahulu sebelum membidik Eropa atau Amerika.
“Tidak usah jauh-jauh dulu. Malaysia, Thailand, Filipina dulu. Itu lebih realistis dan lebih dekat secara tema riset,” katanya.
Menurut dia, konferensi internasional kawasan dapat menjadi sumber strategis untuk mendapatkan naskah luar negeri sekaligus memperluas jejaring reviewer dan editorial board.

Antara Idealime Akademik dan Tekanan Finansial
Di tengah dorongan internasionalisasi, workshop juga memperlihatkan dilema besar pengelola jurnal Indonesia: menjaga idealisme akademik sekaligus bertahan secara finansial.
Ilmi mengaku sempat menolak penerapan APC karena percaya ilmu pengetahuan seharusnya dapat diakses bebas. Jurnal mandiri secara ekonomi membuat JTBB akhirnya menerapkan biaya publikasi sebesar 250 dolar AS.
“Awalnya saya idealis, ilmu pengetahuan harus gratis. Tapi fakultas mendorong kami untuk bisa self sufficient,” katanya.
Kini, setelah berhasil mandiri secara finansial dan masuk Scopus, JTBB mulai membidik target lebih tinggi, naik ke kuartil Q1 melalui kolaborasi asosiasi ilmiah internasional.
Bagi FKG UGM, workshop ini menjadi refleksi bahwa jalan menuju indeksasi internasional bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan transformasi tata kelola materi jurnal. Di tengah persaingan jurnal ilmiah di kancah global yang semakin spesifik dan kompetitif, jurnal di Indonesia dituntut untuk tidak hanya hadir, namun juga memiliki identitas ilmiah yang khas & benar-benar kuat secara substansi.
(Reporter: Andri Wicaksono, Photo: Fajar Budi Harsakti)