News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Rongga Mulut yang Tumbuh Perlahan: Studi Anak Down Syndrome di Yogyakarta

Angka itu terasa mengejutkan sekaligus menggugah: pada anak-anak dengan Down syndrome usia 6 hingga 8 tahun, rata-rata volume rongga mulut hanya sekitar 15,34 cm³. Bandingkan dengan anak usia 16 hingga 18 tahun yang mencapai 25,13 cm³. Volumenya bertumbuh, ya, tapi pertumbuhannya menyimpan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar angka.

Itulah temuan utama penelitian yang dilakukan oleh dr. Faisal Rizki bersama Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K) dan drg. Indah Titien Soeprihati dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Kesehatan Gigi volume 12 nomor 1 tahun 2025 ini menjadi salah satu upaya serius memetakan kondisi rongga mulut anak berkebutuhan khusus di Yogyakarta.

Trisomi 21 dan Rahang yang Tak Tumbuh Semestinya

Down syndrome terjadi akibat adanya kromosom 21 ekstra, sebuah kelainan genetik yang muncul pada sekitar satu dari setiap 691 kelahiran hidup. Dampaknya tidak berhenti pada penampilan fisik yang khas. Pada wajah bagian tengah, atau yang dikenal sebagai regio midface, terjadi hipoplasia, yakni perkembangan yang kurang sempurna dalam tiga dimensi: vertikal, lateral, dan anteroposterior. Rahang atas tumbuh lebih kecil, lebih sempit, dan lebih pendek dari yang seharusnya.

Langit-langit mulut pada anak Down syndrome cenderung berbentuk tinggi melengkung dan sempit. Kondisi ini bukan semata-mata akibat genetik. Hipotonia lidah, hipotonia otot perioral dan pengunyahan, serta kebiasaan menjulurkan lidah turut menjadi penyebab sekunder yang memperparah penyempitan palatum. Ketika lidah tidak memberikan tekanan penyeimbang dari dalam, tekanan pipi dari luar mendominasi, dan rahang atas pun terbentuk lebih sempit.

Ekspresi berlebih dari gen DSCR4 pada kromosom 21, yang berperan dalam migrasi sel puncak saraf, diyakini menjadi salah satu kunci mengapa morfologi wajah anak Down syndrome berbeda secara spesifik, bukan sekadar akibat pertumbuhan yang terlambat secara umum.

Scanner Digital Masuk Sekolah Luar Biasa

Penelitian ini melibatkan 28 anak dengan Down syndrome dari tiga Sekolah Luar Biasa Negeri di Yogyakarta: SLBN 1 Yogyakarta, SLBN 2 Yogyakarta, dan SLBN 1 Pembina Yogyakarta. Pengambilan data berlangsung dari Agustus hingga November 2024.

Yang menarik adalah metode yang digunakan. Alih-alih cetakan konvensional yang kerap menyulitkan anak-anak berkebutuhan khusus, tim peneliti menggunakan intraoral scanners Shining 3D Dental untuk mencetak rongga mulut secara digital. Pemindaian mencakup rahang atas, rahang bawah, dan area oklusi. Volume rongga mulut kemudian dihitung menggunakan perangkat lunak 3Shape 3D Viewer dan Inventor Professional 2020, dengan mengukur panjang lengkung, lebar interpremolar dan intermolar, serta tinggi palatum hingga dasar mulut.

Pilihan teknologi ini bukan kebetulan. Intraoral scanner terbukti lebih efektif dan efisien untuk anak-anak berkebutuhan khusus, yang seringkali memiliki toleransi rendah terhadap prosedur klinis konvensional.

Korelasi Kuat, Perbedaan Tak Signifikan

Hasil statistik penelitian ini menyajikan paradoks yang menarik untuk dicermati.

Korelasi antara usia dan volume rongga mulut sangat kuat, dengan nilai R mencapai 0,942. Artinya, semakin bertambah usia, volume rongga mulut cenderung meningkat, dengan kenaikan rata-rata sekitar 3,208 cm³ per kelompok usia. Bahkan 88,73% variasi volume rongga mulut dapat dijelaskan oleh faktor usia saja.

Namun, uji-T menunjukkan nilai p sebesar 0,058, yang berada di atas ambang signifikansi 0,05. Secara statistik, perbedaan antar kelompok usia itu tidak bermakna.

“Hubungan antara usia dan volume cavum oris pada anak Down syndrome tidak berbeda secara signifikan (p = 0,058) dengan korelasi positif yang sangat kuat (R = 0,942), sehingga seiring bertambahnya usia, volume cavum oris juga meningkat.”

Kenaikan paling terasa terjadi antara kelompok usia 6-8 tahun dan 9-12 tahun. Setelah itu, pertambahan volume cenderung melambat. Kelompok usia 13-15 tahun mencatat rata-rata 24,12 cm³, sementara kelompok 16-18 tahun hanya sedikit lebih tinggi di angka 25,13 cm³, dengan standar deviasi yang justru semakin besar, mencerminkan variasi individual yang lebar.

Variasi yang lebar itu bukan anomali. Ia justru mencerminkan kompleksitas Down syndrome itu sendiri: ukuran lidah, pola erupsi gigi, kebiasaan buruk oral, hipotonia otot, dan kondisi masing-masing anak berbeda-beda. Tidak ada dua anak Down syndrome yang persis sama dalam manifestasi fisiknya.

Lebih dari Sekadar Data Rongga Mulut

Penelitian ini membuka percakapan yang lebih luas dari sekadar angka volume. Rongga mulut adalah ruang produksi suara. Dimensinya memengaruhi frekuensi dan kualitas ucapan. Anak-anak dengan Down syndrome kerap mengalami gangguan bicara, dan memahami volume rongga mulut mereka secara akurat bisa menjadi dasar yang lebih kuat untuk kolaborasi antara dokter gigi spesialis anak dan terapis wicara.

Bagi dokter gigi anak, data ini memberi gambaran tentang pertumbuhan kraniofasial kompleks yang tidak bisa disamakan begitu saja dengan anak tanpa kondisi khusus. Perencanaan perawatan yang tepat, termasuk kapan intervensi ortodontik perlu dipertimbangkan, membutuhkan pemahaman tentang bagaimana rongga mulut anak Down syndrome tumbuh dan apa batas-batasnya.

Anak-anak di tiga SLB Negeri Yogyakarta itu mungkin tidak tahu bahwa data dari rongga mulut mereka kelak bisa membantu anak-anak lain yang lahir dengan kondisi serupa mendapatkan penanganan yang lebih baik. Tapi begitulah sains bekerja: perlahan, dengan teliti, selangkah demi selangkah.

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
23 July 2026

Terlalu Sering Diberi Susu Botol di Malam Hari, Balita Berisiko Gigi Berlubang 3,6 Kali Lebih Tinggi

23 July 2026

Kenapa Ya Gigi Jadi Sentian Habis Ditambal? Yuk Simak Faktanya.

23 July 2026

Teh Hijau dan Nanoteknologi: Kolaborasi Tak Terduga untuk Penyembuhan Luka Gusi

en_US