Penelitian dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada membuktikan sesuatu yang menarik. Eugenol, senyawa aktif yang sudah lama dikenal dalam praktik kedokteran gigi, ternyata mampu menurunkan jumlah sel-sel radang pada pulpa gigi yang meradang secara signifikan. Penelitian ini dilakukan oleh drg. Raras Ajeng Enggardipta, MDSc., Sp.KG bersama tim dari Departemen Konservasi Gigi dan Departemen Biologi Mulut FKG UGM, dan dipublikasikan dalam Indonesian Dentistry Magazine edisi Agustus 2016. Menggunakan 30 ekor tikus Sprague Dawley sebagai hewan coba, penelitian ini menjawab pertanyaan yang selama ini menggantung di benak para klinisi, seberapa efektif eugenol dalam meredam peradangan pulpa?
Eugenol bukanlah nama asing di dunia kedokteran gigi. Senyawa kimia bernama lengkap 4-allyl-2-methoxyphenol ini merupakan komponen utama minyak cengkeh yang sudah digunakan selama berabad-abad untuk meredakan sakit gigi. Dalam praktik klinis modern, eugenol digunakan sebagai perawatan sementara bagi pasien yang mengalami pulpitis ireversibel, yaitu kondisi di mana jaringan pulpa atau saraf gigi sudah meradang parah dan tidak dapat pulih sendiri, ditandai dengan nyeri spontan yang intens dan sulit dikontrol dengan obat penghilang rasa sakit biasa.
Sebelum pasien mendapat perawatan saluran akar dari dokter gigi spesialis, eugenol diteteskan pada kapas lalu diletakkan di dalam kavitas gigi sebagai pereda gejala sementara. Kementerian Kesehatan RI bahkan mencantumkan prosedur ini dalam pedoman pengobatan dasar di Puskesmas. Namun bukti ilmiah yang menjelaskan bagaimana eugenol bekerja di tingkat seluler masih terbatas, dan itulah celah yang ingin diisi oleh penelitian ini.
Penelitian dirancang dengan membagi 30 tikus menjadi dua kelompok: kelompok perlakuan yang diberi eugenol, dan kelompok kontrol yang hanya diberi akuades. Gigi molar pertama rahang atas setiap tikus dibor hingga mencapai ruang pulpa, sengaja menciptakan kondisi pulpitis. Setelah perlakuan diberikan, jaringan pulpa diamati pada hari ke-1, ke-3, ke-5, ke-7, dan ke-14. Preparat histologis diwarnai dengan hematoksilin eosin, lalu dihitung jumlah tiga jenis sel radang utama: neutrofil, makrofag, dan limfosit.
Hasilnya cukup mengejutkan dalam arti yang baik. Pada kelompok yang diberi eugenol, jumlah infiltrasi sel radang secara konsisten lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol di setiap titik waktu pengamatan. Perbedaan ini secara statistik bermakna (p<0,05), artinya bukan kebetulan.
“Pemberian eugenol dapat menurunkan jumlah sel inflamasi, yaitu neutrofil, makrofag, dan limfosit, pada pulpa gigi tikus Sprague Dawley yang mengalami inflamasi.” drg. Raras Ajeng Enggardipta, MDSc., Sp.KG, dkk., Majalah Kedokteran Gigi Indonesia, 2016
Neutrofil, sebagai pasukan pertama yang datang ke lokasi cedera, tampak paling banyak pada hari pertama, lalu berangsur menurun. Makrofag mencapai puncaknya pada hari ke-5, sebelum akhirnya berkurang seiring berakhirnya fase radang. Limfosit mengikuti pola serupa. Pada semua fase itu, kelompok eugenol selalu menunjukkan angka yang lebih rendah.
Mekanisme di balik efek antiradang eugenol ini berkaitan dengan kemampuannya menghambat beberapa sinyal kimia kunci dalam proses peradangan. Eugenol diketahui menekan produksi sitokin proinflamasi seperti IL-1 dan TNF-α, dua molekul yang berperan penting dalam melebarkan pembuluh darah dan merekrut sel-sel radang ke lokasi cedera. Tanpa sinyal-sinyal ini, lebih sedikit sel radang yang bermigrasi ke jaringan pulpa yang terluka.
Selain itu, eugenol juga menghambat IFN-γ, yaitu sitokin yang berperan dalam mengubah monosit menjadi makrofag di lokasi peradangan. Dengan terhambatnya jalur ini, jumlah makrofag yang terbentuk di sekitar cedera pun berkurang. Efek berlapis inilah yang menjelaskan mengapa eugenol mampu menekan ketiga jenis sel radang sekaligus, bukan hanya satu.
Yang menarik, pada hari ke-7 dan ke-14, perbedaan jumlah neutrofil dan limfosit antara kedua kelompok sudah tidak lagi bermakna secara statistik. Ini diduga karena fase inflamasi memang sudah mereda secara alami dan tubuh mulai memasuki fase proliferasi atau penyembuhan, baik pada kelompok yang diberi eugenol maupun kontrol. Namun untuk makrofag, perbedaannya tetap bermakna hingga hari ke-14, menunjukkan efek eugenol yang lebih panjang pada sel jenis ini.
Temuan ini bukan sekadar data laboratorium. Dalam konteks layanan kesehatan primer, eugenol adalah salah satu senjata yang mudah diakses, relatif murah, dan sudah tersedia di fasilitas kesehatan dasar seperti Puskesmas. Penelitian ini memberikan landasan ilmiah yang lebih kuat untuk penggunaan eugenol sebagai perawatan sementara pulpitis sebelum pasien dirujuk ke dokter gigi spesialis.
Sebagai perbandingan, bahan alternatif lama yang pernah digunakan untuk mematikan saraf gigi yang sakit adalah arsenik trioksida, yang ternyata bersifat toksik bagi jaringan sekitarnya dan dapat menyebabkan nekrosis gingiva, kerusakan tulang, bahkan osteomielitis rahang. Dengan bukti yang semakin kuat tentang efektivitas eugenol sebagai antiinflamasi, pilihan yang lebih aman ini semakin mendapat pembenaran ilmiah.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa masih perlu penelitian lanjutan untuk mengukur kadar IL-1 dan TNF-α secara langsung, serta menentukan dosis optimal eugenol sebagai antiinflamasi pada pulpa gigi manusia. Artinya, cerita eugenol belum selesai, dan temuan ini baru membuka babak berikutnya.
Penulis : drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes., Annisa Dwi Noviyanti
Foto : FreePik
Sumber DOI : http://dx.doi.org/10.22146/majkedgiind.8730