Bagi siapa pun yang pernah menjalani operasi gigi bungsu, beberapa hari pertama setelahnya terasa seperti ujian ketahanan: pipi membengkak, mulut kaku sulit dibuka, nyeri berdenyut yang tidak mau pergi. Sebagian besar penderitaan itu, ternyata, bisa dipengaruhi oleh satu keputusan teknis yang dibuat dokter bedah sebelum pisau bedah menyentuh gusi: desain flap, atau potongan jaringan lunak yang dibuat untuk mengakses gigi.
Penelitian dari Departemen Bedah Mulut dan Maksilofasial FKG UGM menguji sebuah modifikasi desain flap yang belum banyak dilaporkan sebelumnya, yaitu reverse triangular flap (flap segitiga terbalik), dan membandingkannya dengan dua desain konvensional yang selama ini lazim digunakan.
Tiga Desain, Tiga Pendekatan
Penelitian yang diterbitkan di Intisari Sains Medis (2018) ini menggunakan rancangan single-blind randomized clinical trial dengan 30 pasien yang dibagi rata ke dalam tiga kelompok: envelope flap, triangular flap, and reverse triangular flap. Semua pasien memiliki gigi molar ketiga mandibula yang erupsi sebagian, dan seluruh operasi dilakukan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo FKG UGM.
Reverse triangular flap merupakan modifikasi dari desain segitiga konvensional. Bedanya, insisi pelepas vertikal dibuat di sisi distal, memanjang dari sisi lingual ke sisi bukal melewati linea obliqua eksterna di area retromolar. Hasilnya adalah flap yang lebih konservatif, tetapi tetap memberikan lapangan pandang yang cukup bagi operator.
Pasien dievaluasi pada hari pertama, ketujuh, dan keempat belas pascaoperasi. Parameter yang diukur meliputi pembengkakan wajah, derajat trismus (keterbatasan buka mulut), dehisensi luka, skala nyeri VAS, dan kemunculan alveolar osteitis (dry socket).
Luka yang Lebih Rapi, Pemulihan yang Lebih Baik
Hasil paling mencolok muncul pada pengukuran dehisensi. Pada hari ketujuh dan keempat belas, kelompok envelope flap menunjukkan lebar dehisensi tertinggi, yaitu rata-rata 5,83 mm pada hari ketujuh, jauh di atas kelompok triangular (3,65 mm) dan reverse triangular (3,03 mm). Uji post hoc ANOVA mengonfirmasi bahwa envelope flap berbeda signifikan dari kedua desain lainnya, sementara triangular and reverse triangular tidak menunjukkan perbedaan bermakna satu sama lain.
Untuk pembengkakan dan trismus, tidak ada perbedaan signifikan antar kelompok pada sebagian besar titik pengukuran. Menariknya, kelompok triangular flap justru menunjukkan nilai pembengkakan rata-rata tertinggi pada hari ke-14, mengindikasikan bahwa insisi vertikal tambahan pada desain ini memicu respons inflamasi lebih besar. Tidak ada satu pun pasien dari ketiga kelompok yang mengalami alveolar osteitis selama periode observasi.
Penulis pertama penelitian ini, drg. Pingky Krisna Arindra, menyimpulkan bahwa reverse triangular flap dapat menjadi alternatif desain flap karena memberikan hasil setara dengan triangular flap sekaligus lebih unggul dari envelope flap dalam hal penyembuhan luka.
Temuan ini relevan terutama untuk kasus gigi bungsu yang erupsi sebagian, kondisi yang justru paling sering ditemui dalam praktik sehari-hari. Di sinilah pilihan desain sayatan bukan sekadar preferensi teknis, melainkan keputusan klinis yang langsung dirasakan pasien saat bangun tidur keesokan harinya.
Reporter: Nanda Ayu – Andri Wicaksono