News

/

Artikel, Latest News, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Bawang Putih di Luka Gusi: Bukti di Balik Klaim Nenek Moyang

Selama ribuan tahun, bawang putih sudah jadi bahan andalan pengobatan rumahan. Tapi apa yang terjadi ketika klaim tradisional itu diuji dengan protokol ilmiah ketat, di laboratorium, pada jaringan gingiva yang sengaja dilukai?

Itulah pertanyaan yang dijawab oleh Dr. drg. Indra Bramanti dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM bersama koleganya dari Departemen Farmakologi dan Terapi FK UGM. Hasilnya dipublikasikan di Journal of Medicine Science edisi Juni 2013, dan temuannya cukup mengejutkan: gel ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum L.) terbukti mempercepat penyembuhan luka gingiva, setidaknya dalam satu parameter krusial.

Luka Kecil, Pertanyaan Besar

Tiga puluh tikus Wistar jantan berusia 10 minggu menjadi subjek penelitian ini. Pada gingiva labial rahang bawah masing-masing tikus, dibuat luka eksisi berdiameter 2,5 mm menggunakan punch biopsy. Luka itu kemudian diolesi gel ekstrak bawang putih dengan konsentrasi berbeda, 20, 40, dan 80%, tiga kali sehari selama tujuh hari. Sebagai pembanding, satu kelompok diberi gel Benzydamine sebagai kontrol positif, dan satu kelompok lain hanya diberi gel dasar tanpa bahan aktif.

Bawang putih yang digunakan bukan sembarang pilihan. Umbi-umbi itu dibeli dari pasar tradisional di Tawangmangu, Jawa Tengah, lalu diidentifikasi secara botanikal di Fakultas Farmasi UGM sebelum diekstraksi melalui proses maserasi dengan etanol 70%.

Analisis kromatografi lapis tipis mengonfirmasi kehadiran dua senyawa aktif utama: allicin, yang dikenal memiliki aktivitas antibakteri dan antiinflamasi, serta alliin. Keduanya hadir baik dalam ekstrak mentah maupun dalam sediaan gel akhir.

Epitel Bicara, Fibroblas Diam

Saat preparat histologi diperiksa pada hari ke-5, hasilnya tegas. Ketebalan epitelium pada kelompok yang diberi gel bawang putih secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol negatif (p<0,05). Efek ini bahkan sebanding dengan Benzydamine, obat antiinflamasi yang sudah diakui klinis. Reepitelisasi, proses penutupan kembali permukaan luka oleh sel-sel epitel, berlangsung lebih cepat dengan bantuan bawang putih.

“Dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol bawang putih topikal mempercepat proses penyembuhan luka gingiva tikus dengan meningkatkan ketebalan epitelium.”

Namun penelitian ini juga jujur soal batasannya. Untuk dua parameter lain yang diamati, jumlah pembuluh darah baru dan jumlah fibroblas, perbedaan antara kelompok bawang putih dan kontrol negatif tidak signifikan secara statistik (p>0,05). Artinya, manfaat bawang putih dalam studi ini spesifik pada fase reepitelisasi, bukan pada angiogenesis maupun fibroplasia secara keseluruhan.

Temuan ini membuka pertanyaan berikutnya yang belum terjawab: apakah efek serupa akan konsisten pada jaringan manusia, dengan kompleksitas biologis yang jauh lebih tinggi? Bawang putih mungkin sudah digunakan selama 5.000 tahun, tapi perjalanan dari dapur ke formularium klinis masih panjang.

Penulis : Nanda Ayu,drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : ChtGPT

Tags

Share News

Related News
2 July 2026

Ketika Rahang Patah, Tulang Mana yang Lebih Cepat Pulih?

2 July 2026

Temu Putih Melawan Radang: Bukti dari Laboratorium FKG UGM

2 July 2026

Minyak Temu Putih Turunkan Gula Darah Sekaligus Atasi Gingivitis pada Tikus Hiperglikemia

en_US