News

/

Artikel, Latest News, SDG 10, SDG 17, SDG 3, SDG 4, SDG 9

Alat Cetak Gigi Digital Lebih Nyaman untuk Anak, Riset UGM Buktikannya

Bayangkan seorang anak berusia delapan tahun duduk di kursi dokter gigi, mulutnya dipenuhi adonan alginate berbau menyengat, tray plastik menekan langit-langit mulutnya. Refleks muntah muncul. Matanya berkaca-kaca. Sang dokter berusaha menenangkan, tapi waktu terus berjalan. Prosedur yang seharusnya rutin berubah menjadi pengalaman yang membekas — dan tidak selalu dalam artian yang baik.

Itulah gambaran yang melatarbelakangi sebuah penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K) dari Departemen Kedokteran Gigi Anak FKG UGM, bersama mahasiswa program pascasarjana Rahmi Ayu Budi Amalia dan kolega lintas departemen, menerbitkan scoping review dalam jurnal internasional Jurnal Penelitian Pendidikan IPA (JPPIPA) edisi Agustus 2025. Temuannya sederhana namun berdampak luas: scanner intraoral digital lebih disukai anak-anak, dan tingkat kenyamanannya lebih tinggi dibanding metode konvensional.

Ketika Alginat Bertemu Ketakutan Anak

Metode cetak gigi konvensional menggunakan bahan seperti alginate atau putty telah lama menjadi standar baku dalam kedokteran gigi anak. Namun standar tidak selalu berarti ideal. Bahan-bahan ini kerap memicu refleks gag, menciptakan rasa tidak nyaman, bahkan menimbulkan kecemasan yang bisa memengaruhi persepsi anak terhadap kunjungan dokter gigi di masa depan.

Scanner intraoral digital hadir sebagai alternatif: sebuah alat genggam kecil yang memindai rongga mulut dan menghasilkan model gigi tiga dimensi secara real-time di layar komputer. Tidak ada bahan yang perlu dicampur, tidak ada tray yang menekan jaringan lunak, tidak ada waktu tunggu untuk material mengeras.

Tim peneliti menelusuri literatur dari empat basis data ilmiah utama — Scopus, ScienceDirect, Wiley, dan PubMed — mencakup publikasi antara 2014 hingga 2024. Dari 124 artikel yang teridentifikasi, hanya 11 yang memenuhi kriteria inklusi ketat dan layak dianalisis. Semua studi membandingkan penggunaan scanner intraoral digital dengan metode konvensional pada pasien anak di bawah usia 18 tahun, dengan fokus pada empat variabel: akurasi, preferensi, kenyamanan, dan waktu prosedur.

Empat Pertanyaan, Satu Kesimpulan yang Mengejutkan

Hasil analisis terhadap 11 studi itu menghasilkan peta yang cukup jelas. Dari sisi akurasi, tiga studi menyimpulkan scanner digital lebih unggul dibanding metode konvensional, tiga studi lain menemukan keduanya setara, dan lima studi tidak mengevaluasi parameter ini sama sekali. Kesimpulannya: secara klinis, scanner intraoral digital dapat diandalkan dan hasilnya dapat diterima untuk keperluan diagnosis maupun pembuatan alat ortodontik pada anak.

Yang lebih menarik adalah temuan soal preferensi. Lima dari 11 studi menunjukkan anak-anak secara konsisten memilih scanner digital dibanding metode konvensional. Bahkan satu studi mencatat angka yang mencolok: 100 persen pasien memilih teknik digital. Studi lain melaporkan 75 persen anak-anak berusia 6-11 tahun lebih menyukai pengalaman dengan scanner intraoral. Bukan hanya anak-anak — orang tua dan klinisi pun cenderung lebih percaya pada teknologi ini karena efisiensinya dan berkurangnya kemungkinan pengulangan prosedur.

“Digital scanners eliminate the need for bulky trays and unpleasant materials, providing a more comfortable and stress-free experience. This improvement in comfort significantly enhances patient cooperation.” — Bramanti et al., JPPIPA, 2025

Soal kenyamanan, lima studi melaporkan scanner digital jauh lebih nyaman, satu studi menemukan tingkat kenyamanan yang setara, dan lima studi tidak mengevaluasinya. Anak-anak dapat bernapas lebih bebas, tidak ada bahan asing di mulut, dan beberapa bahkan merasa antusias melihat model gigi mereka muncul secara real-time di layar — sebuah detail kecil yang ternyata berdampak besar pada kerja sama pasien.

Hasil paling beragam justru muncul pada variabel waktu prosedur. Satu studi melaporkan scanning lebih cepat, dua studi menemukan metode konvensional lebih singkat, dua studi menilai keduanya serupa, dan enam studi tidak membahasnya. Variasi ini, menurut para peneliti, disebabkan oleh perbedaan definisi “waktu prosedur” antara studi, jenis scanner yang digunakan, hingga tingkat keahlian operator.

Teknologi Ramah Anak, Tantangan yang Belum Tuntas

Scoping review ini bukan tanpa keterbatasan. Para peneliti secara jujur mengakui bahwa ukuran sampel dalam studi-studi yang dianalisis terbilang kecil, rentang usia anak yang diteliti lebar, dan belum ada standarisasi instrumen evaluasi yang seragam. Faktor-faktor unik pada anak — mulut yang lebih kecil, perhatian yang mudah teralih, gerakan tak disengaja selama pemindaian — tetap menjadi tantangan tersendiri yang memengaruhi kualitas hasil scan, terutama untuk pemindaian lengkap seluruh lengkung gigi.

Meski demikian, penelitian ini membuka perspektif penting: adopsi teknologi digital dalam kedokteran gigi anak bukan sekadar soal modernisasi alat, melainkan soal pengalaman pasien. Anak yang merasa nyaman saat kunjungan pertama lebih mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak takut ke dokter gigi. Itu bukan hal kecil.

Tim peneliti merekomendasikan agar studi lanjutan melibatkan populasi yang lebih besar, rentang usia yang lebih sempit, dan metode pengukuran waktu yang terstandarisasi. Integrasi teknologi CAD/CAM dengan scanner intraoral juga disebut sebagai area yang menjanjikan untuk dieksplorasi lebih jauh.

Sementara penelitian terus berlanjut, satu hal tampak jelas: alat cetak gigi yang tidak membuat anak menangis bukan lagi sekadar mimpi di ruang praktik dokter gigi.

Sumber DOI : 10.29303/jppipa.v11i8.11269

Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
23 July 2026

Saat Orang Tua Rajin Melatih, Anak Tetap Kesulitan Menggosok Gigi

23 July 2026

Konsumsi Karbohidrat Berlebih Tingkatkan Risiko Gigi Berlubang 62 Kali Lipat pada Anak Usia Dini

23 July 2026

Sisi Gelap Kalsium Hidroksida dalam Perawatan Gigi

en_US