Gigi berlubang bukan sekadar masalah estetika pada anak kecil. Bagi jutaan balita di seluruh dunia, kerusakan gigi di usia dini — yang dalam istilah kedokteran gigi disebut early childhood caries (ECC) — bisa berujung pada nyeri kronis, sulit makan, gangguan tidur, hingga risiko malnutrisi. Kini, sebuah penelitian dari Universitas Gadjah Mada mengungkap seberapa besar peran pola makan dan nutrisi dalam memicu kondisi ini: anak yang diberi minum susu botol atau ASI lebih dari tiga kali sehari ternyata berisiko mengalami ECC hingga 3,6 kali lebih tinggi dibandingkan anak yang frekuensi pemberiannya lebih rendah. Temuan ini dipublikasikan dalam The Saudi Dental Journal pada awal 2024, sebagai hasil systematic review dan meta-analisis yang dilakukan oleh Leny Pratiwi Arie Sandy, S.Kp.G., MDSc., bersama tim peneliti dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM.
Dari 443 Studi, Hanya Enam yang Lolos Seleksi Ketat
Penelitian ini tidak dilakukan dengan mengumpulkan anak-anak ke klinik. Tim peneliti menelusuri ribuan artikel ilmiah dari tiga basis data besar — Scopus, MEDLINE via PubMed, dan ScienceDirect — menggunakan metode Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA), standar internasional untuk tinjauan sistematis.
Dari 443 artikel yang ditemukan, hanya enam yang memenuhi seluruh kriteria inklusi: desain kohort, melibatkan anak usia di bawah enam tahun, mengukur hubungan antara faktor nutrisi dan ECC, serta menggunakan analisis multivariat yang dapat mengendalikan variabel perancu. Keenam studi ini berasal dari Jepang, Kanada, Thailand, Brasil, dan Amerika Serikat, mencakup rentang waktu publikasi dari tahun 2000 hingga April 2023.
Dari sana, tim menganalisis tiga faktor nutrisi utama: praktik pemberian makan (feeding practice), asupan gula, dan rendahnya konsumsi buah dan sayur.
Gula dan Susu Botol: Dua Pemicu Terkuat
Hasil meta-analisis menunjukkan angka yang cukup mengejutkan. Praktik pemberian makan — mencakup pemberian ASI eksklusif, durasi menyusui, dan pemberian susu botol di malam hari — menjadi faktor risiko terkuat dengan odds ratio (OR) sebesar 3,64 (95% CI: 2,03–6,55). Artinya, anak yang mendapat asupan susu botol atau ASI lebih dari tiga kali sehari berisiko mengalami ECC 3,6 kali lebih besar.
Mekanismenya bisa dijelaskan secara biologis. Saat malam hari, laju aliran saliva menurun drastis. Ketika anak tertidur sambil mengisap botol susu, cairan manis itu menggenangi permukaan gigi sulung tanpa sempat dibersihkan oleh saliva. Bakteri Streptococcus mutans kemudian memfermentasi karbohidrat dari susu, menghasilkan asam yang mengikis lapisan email dan dentin gigi — proses yang disebut demineralisasi. Kondisi ini makin diperparah bila orang tua menambahkan dua hingga tiga sendok teh gula ke dalam susu botol, sebuah kebiasaan yang ternyata masih umum dijumpai.
Faktor kedua, asupan gula, menunjukkan OR sebesar 3,24 (95% CI: 2,59–4,03). Anak yang mengonsumsi makanan manis lebih dari lima kali sehari berisiko mengalami ECC 3,2 kali lebih tinggi dibanding anak yang mengonsumsinya kurang dari dua kali sehari. WHO sendiri merekomendasikan agar konsumsi gula bebas tidak melebihi 10 persen dari total asupan energi harian — bahkan idealnya di bawah 5 persen.
“Paparan karbohidrat di rongga mulut menyebabkan fermentasi yang menghasilkan asam. Produk asam ini merusak permukaan email gigi, yang pada akhirnya menyebabkan ECC.”
Temuan ini menegaskan kembali apa yang sudah lama diketahui ilmu kedokteran gigi: bukan hanya jumlah gula yang dimakan, tapi frekuensinya yang paling berbahaya. Setiap kali anak mengonsumsi sesuatu yang manis, pH rongga mulut turun dan gigi terpapar asam selama 20 hingga 30 menit setelahnya.
Buah dan Sayur Sebagai Pelindung Alami
Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan faktor yang justru bisa melindungi anak dari ECC: konsumsi buah dan sayur yang cukup. Anak yang mengonsumsi buah dan sayur lebih dari lima kali sehari memiliki risiko ECC 2,7 kali lebih rendah dibanding anak dengan konsumsi yang sedikit (OR: 2,71; 95% CI: 1,47–5,01).
Mekanisme perlindungannya berkaitan dengan stimulasi aliran saliva. Mengunyah buah dan sayur segar meningkatkan produksi saliva, yang berfungsi sebagai sistem pembersih alami rongga mulut — membilas sisa makanan, menetralkan asam, dan membantu remineralisasi email gigi. Meskipun faktor ini memiliki risiko paling rendah dibanding dua faktor lainnya, temuan ini membuka peluang intervensi yang sederhana dan terjangkau: mendorong kebiasaan makan buah dan sayur sejak dini.
Ketika Gigi Berlubang Berdampak Lebih dari Sekadar Sakit Gigi
Yang membuat ECC lebih serius dari yang dibayangkan banyak orang adalah dampak domino yang ditimbulkannya. Anak dengan ECC cenderung menghindari mengunyah karena nyeri, sehingga asupan kalori berkurang. Penelitian yang dirujuk dalam kajian ini menemukan bahwa anak dengan ECC berisiko dua kali lebih besar mengalami malnutrisi dibanding anak tanpa ECC. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan prestasi akademik anak.
Orang tua, menurut para peneliti, seringkali tidak menyadari bahwa kebiasaan memberi makanan manis sebagai hadiah atau menuruti keinginan anak justru menjadi bumerang. Pola asuh yang permisif terhadap konsumsi gula, ditambah kurangnya pemahaman tentang kebersihan gigi bayi, menjadi kombinasi yang berbahaya.
Penelitian yang didukung oleh hibah Rekognisi Tugas Akhir Universitas Gadjah Mada ini menegaskan bahwa pencegahan ECC bukan semata tugas dokter gigi. Ia adalah urusan gizi, pola asuh, dan kebijakan kesehatan publik — sebuah masalah yang membutuhkan perhatian lintas sektor, jauh sebelum anak duduk di kursi periksa dokter gigi untuk pertama kalinya.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Photo: Freepik
Sumber DOI: https://doi.org/10.1016/j.sdentj.2023.12.001