Kesenjangan12Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab17Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Bayangkan seorang anak usia lima tahun duduk di kursi gigi dengan gigi susu yang sudah membusuk hingga ke akar. Pulpa giginya telah mati, dan di dalam saluran akar kecil itu, bakteri anaerob berkembang biak dalam gelap. Pertanyaannya bukan lagi soal mencabut atau tidak — melainkan obat apa yang paling efektif membunuh mikroorganisme yang bersembunyi di sana.
Sebuah penelitian dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada menjawab pertanyaan itu dengan cara yang tak terduga: filtrat bawang putih, bukan kalsium hidroksida yang selama ini menjadi andalan, justru menunjukkan zona hambat yang lebih luas terhadap bakteri isolat klinis dari gigi susu nekrosis.
Bakteri Tersembunyi di Balik Gigi yang Membusuk
Penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Human and Health Sciences (Vol. 04 No. 04, Oktober 2020) ini melibatkan 26 anak usia 4 hingga 7 tahun yang berkunjung ke Klinik Kedokteran Gigi Anak Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo UGM Yogyakarta. Semua anak tersebut akan menjalani perawatan endodontik dengan diagnosis nekrosis pulpa.
Dari sampel bakteri aerob dan anaerob yang diambil langsung dari saluran akar mereka, peneliti berhasil mengidentifikasi tiga bakteri isolat klinis utama: Prevotella bivia, Clostridium innocum, and Serratia marcescens. Dua bakteri pembanding juga diikutsertakan, yaitu Streptococcus mutans ATCC35688 dan Clostridium perfringens.
Identifikasi dan isolasi dilakukan berdasarkan CLSI Standardized Method 2012 dan Biochemical Identification by Thermo Scientific RapID Systems 2010. Seluruh protokol penelitian telah mendapat persetujuan dari Komisi Etik dan Advokasi FKG UGM.
Tim peneliti dipimpin oleh IAIA Krisna Kencana Dewi, mahasiswa Program Pascasarjana FKG UGM, bersama Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K), dosen Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak FKG UGM yang juga menjadi korespondensi utama penelitian ini.
Saat Bawang Putih Melampaui Obat Konvensional
Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi. Kalsium hidroksida dibandingkan dengan ekstrak bawang putih varietas “Tawangmangu Baru” dalam konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80%, serta filtrat bawang putih yang diperoleh dari bawang yang dihaluskan lalu disaring menggunakan kain kasa steril.
Hasilnya membuat mata terbuka lebar.
Terhadap Prevotella bivia, kalsium hidroksida menghasilkan zona hambat berdiameter 30 mm, sementara filtrat bawang putih mencapai 49 mm. Terhadap Clostridium perfringens, kalsium hidroksida menghasilkan 34 mm, sedangkan filtrat bawang putih kembali unggul dengan 46 mm. Bahkan terhadap Serratia marcescens, filtrat bawang putih mencatat 31,5 mm dibanding 23 mm dari kalsium hidroksida.
Ada satu temuan yang lebih mengejutkan: terhadap Clostridium innocum, kalsium hidroksida sama sekali tidak menunjukkan zona hambat (0 mm), sementara filtrat bawang putih tetap menghasilkan hambatan sebesar 28 mm.
Adapun ekstrak bawang putih dalam bentuk konsentrasi etanol menunjukkan hasil yang jauh lebih rendah. Pada konsentrasi 20% hingga 60%, zona hambat terhadap hampir semua bakteri adalah nol. Hanya pada konsentrasi 80% terhadap Serratia marcescens ekstrak ini menunjukkan aktivitas, itupun hanya 10 mm.
“Kalsium hidroksida memang memiliki efek hambat lebih besar dibandingkan ekstrak bawang putih, tetapi lebih rendah jika dibandingkan dengan filtrat bawang putih.”
Demikian simpulan yang dituliskan tim peneliti, termasuk Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K), dalam artikel tersebut.
Allicin dan Mekanisme yang Belum Tuntas Dipahami
Kalsium hidroksida bekerja melalui pelepasan ion hidroksil yang menciptakan lingkungan sangat basa (pH sekitar 12,5). Kondisi ini merusak membran sel bakteri, mendenaturasi protein, dan merusak DNA mikroorganisme. Mekanisme ini sudah lama dikenal dan menjadi alasan utama kalsium hidroksida dipercaya sebagai medikamen saluran akar pilihan.
Namun bawang putih menyimpan senjata berbeda. Allicin, senyawa aktif utama dalam bawang putih, dipercaya efektif melawan bakteri gram-positif maupun gram-negatif. Proses pengolahan menjadi filtrat tampaknya mempertahankan allicin lebih utuh dibanding proses maserasi etanol yang digunakan untuk membuat ekstrak. Dalam proses ekstraksi, sejumlah komponen aktif kemungkinan hilang atau berkurang, sehingga filtrat justru menunjukkan aktivitas antibakteri yang lebih superior.
Meski begitu, para peneliti mengakui bahwa mekanisme pasti allicin dalam melawan bakteri saluran akar gigi susu masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Komponen mana yang paling berperan, dan bagaimana formulasi optimal agar filtrat bawang putih bisa diaplikasikan secara klinis, masih menjadi pertanyaan terbuka.
Dari Laboratorium Menuju Kursi Gigi Anak
Temuan ini bukan berarti kalsium hidroksida akan segera tergantikan. Keamanan klinis dan rekam jejak panjang kalsium hidroksida dalam dunia endodontik tetap menjadi pertimbangan penting. Namun penelitian ini membuka ruang diskusi yang relevan: bahwa bahan herbal seperti bawang putih, khususnya dalam bentuk filtrat, berpotensi menjadi alternatif atau pelengkap medikamen saluran akar, terutama untuk kasus di mana kalsium hidroksida gagal memberikan efek hambat yang memadai.
Di Indonesia, di mana 93% anak usia 5 hingga 6 tahun tercatat mengalami karies gigi berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018, dan sebagian besar kasus tidak tertangani hingga berkembang menjadi nekrosis pulpa, pencarian medikamen yang efektif, terjangkau, dan mudah diakses bukan sekadar kepentingan akademik. Ini soal kesehatan jutaan anak yang tumbuh dengan rasa sakit yang seharusnya bisa dicegah.
Bawang putih ada di dapur hampir setiap rumah di Indonesia. Pertanyaannya tinggal: berapa lama lagi ia bisa masuk ke ruang praktik dokter gigi anak?
Sumber DOI : http://dx.doi.org/10.31344/ijhhs.v4i4.214
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels