Satu saluran kecil yang terlewat saat perawatan saluran akar gigi geraham atas bisa menjadi akar masalah yang berkepanjangan bagi pasien. Itulah inti dari artikel ilmiah yang ditulis drg. Sri Larnani, MDSc., staf pengajar Departemen Biomedika Kedokteran Gigi FKG UGM, bersama tim peneliti dari Seoul National University, Korea Selatan. Artikel ini diterbitkan dalam jurnal internasional International Journal of Morphology edisi April 2024. Penelitian ini mengulas secara mendalam morfologi saluran mesiobucal kedua (MB2) pada molar kedua rahang atas, saluran yang sering luput dari perhatian dokter gigi dan menjadi salah satu penyebab utama kegagalan perawatan saluran akar di seluruh dunia.
Saluran Kecil, Masalah Besar
Molar kedua rahang atas, atau gigi geraham kedua di sisi atas, adalah salah satu gigi dengan struktur paling kompleks dalam rongga mulut manusia. Gigi ini umumnya memiliki tiga akar, dan akar yang menghadap ke sisi pipi bagian depan (akar mesiobucal) sering kali menyimpan lebih dari satu saluran di dalamnya.
Saluran kedua itulah yang disebut MB2. Keberadaannya tidak selalu mudah terlihat, bahkan oleh dokter gigi berpengalaman sekalipun. Jika saluran ini tidak ditemukan dan tidak dirawat secara tuntas, sisa jaringan pulpa yang tertinggal di dalamnya bisa memicu infeksi, nyeri berkepanjangan, bahkan kegagalan total perawatan yang sudah dilakukan.
Artikel review ini mengumpulkan data dari 47 penelitian yang mencakup 20 negara, memetakan seberapa sering MB2 ditemukan, bagaimana bentuk dan konfigurasinya, di mana letaknya di dalam gigi, dan bagaimana cara terbaik untuk menemukannya.
Angka yang Mengejutkan dari 20 Negara
Salah satu temuan paling mencolok dari review ini adalah betapa bervariasinya prevalensi MB2 di berbagai populasi dunia. Secara keseluruhan, MB2 ditemukan pada 7,7% hingga 93% sampel yang diteliti, dengan rata-rata gabungan sebesar 32,74%.
Artinya, hampir satu dari tiga pasien yang menjalani perawatan saluran akar pada molar kedua rahang atas berpotensi memiliki saluran MB2 yang perlu dirawat. Angka ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
Variasi yang lebar ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari perbedaan etnis, metode penelitian, hingga jenis alat yang digunakan. Di Arab Saudi, misalnya, satu studi dengan metode micro-CT menemukan prevalensi setinggi 93%, sementara studi di Taiwan dengan CBCT (cone beam computed tomography) mencatat angka serendah 7,7%.
Dari sisi jenis kelamin, sebagian besar studi melaporkan bahwa MB2 lebih sering ditemukan pada pasien laki-laki dibanding perempuan, meski beberapa studi dari Mesir dan Arab Saudi menunjukkan hasil sebaliknya.
Mengenal Bentuk dan Letak MB2
Tidak semua MB2 memiliki bentuk yang sama. Para peneliti menggunakan dua sistem klasifikasi utama untuk menggambarkan konfigurasi saluran akar ini: klasifikasi Weine yang diperkenalkan tahun 1969 dan klasifikasi Vertucci yang lebih rinci, diperkenalkan tahun 1974 dengan delapan tipe konfigurasi.
Dari seluruh data yang dianalisis, konfigurasi tipe II dan tipe IV Vertucci adalah yang paling umum ditemukan. Tipe II berarti dua saluran terpisah keluar dari ruang pulpa lalu menyatu sebelum mencapai ujung akar, sedangkan tipe IV berarti dua saluran yang benar-benar terpisah dari ruang pulpa hingga ke ujung akar.
Secara anatomi, MB2 memiliki diameter yang sangat kecil, rata-rata hanya 0,19 mm pada arah buccolingual, dengan dinding dentin yang lebih tipis dibanding saluran mesiobucal pertama (MB1). Letaknya berada sekitar 2,2 mm ke arah palatal dan 0,98 mm ke arah mesial dari orifis MB1, meski jarak ini bervariasi antar populasi.
“Hanya menemukan satu orifis di ruang pulpa bukan berarti hanya ada satu saluran di akar mesiobucal. Keberadaan tipe 1-2-1, 1-2, maupun 1-2-1-2 perlu selalu dipertimbangkan,” tulis tim peneliti dalam artikel tersebut.
Cara Menemukan MB2: Dari Kaca Pembesar hingga Teknologi CBCT
Bagian paling praktis dari artikel ini membahas bagaimana dokter gigi bisa menemukan MB2 secara klinis. Beberapa pendekatan terbukti efektif.
Pertama, bentuk kavitas akses disarankan dibuat romboid, bukan persegi biasa, agar orifis MB2 yang tersembunyi di sisi palatal dapat terlihat lebih jelas. Kedua, penggunaan dental operating microscope (DOM) terbukti meningkatkan kemampuan deteksi secara signifikan. Satu studi menunjukkan bahwa kombinasi DOM dengan pengambilan dentin secara selektif (selective dentin removal) berhasil mendeteksi MB2 pada 86% kasus molar kedua rahang atas.
Teknologi CBCT juga memainkan peran penting. Pencitraan tiga dimensi ini memungkinkan dokter gigi melihat anatomi saluran akar secara menyeluruh sebelum memulai perawatan, sehingga peluang melewatkan MB2 dapat diminimalkan.
Penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman mendalam tentang anatomi gigi bukan sekadar pengetahuan akademis, melainkan fondasi langsung dari keberhasilan perawatan klinis. Sebuah saluran sekecil 0,19 milimeter pun bisa menentukan apakah seorang pasien sembuh atau harus kembali ke kursi dokter gigi untuk alasan yang seharusnya bisa dihindari.
Penulis: drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes, Hazra Alifia Muharam
Photo: Pexels