Seorang anak perempuan berusia tiga tahun tujuh bulan datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut UGM Prof. Soedomo ditemani ibunya. Giginya rusak hampir menyeluruh di bagian depan atas. Ini kunjungan pertamanya ke dokter gigi, dan ia menangis begitu melihat ruang periksa.
Kisah ini bukan sekadar laporan klinis. Ia adalah gambaran nyata betapa Early Childhood Caries (ECC), penyakit gigi yang menyerang anak di bawah enam tahun, masih kerap dianggap sepele. Padahal dampaknya jauh melampaui kerusakan gigi itu sendiri.
Ketika Gigi Susu Membusuk Sebelum Waktunya
ECC didefinisikan sebagai munculnya satu atau lebih lesi karies, kehilangan gigi akibat karies, atau permukaan gigi yang telah direstorasi pada gigi susu anak usia 71 bulan atau lebih muda. Penyakit ini bukan sekadar masalah estetika. Ia bisa memicu nyeri kronis, abses, demam, pembengkakan bibir, hingga penurunan nafsu makan yang berujung pada gangguan tumbuh kembang.
Pada pasien yang dilaporkan oleh drg. Finsa Tisna Sari, M.Biomed., Ph.D. bersama koleganya Shoimah Alfa Makmur dan Putri Kusuma Wardhani dalam Journal of Oral Health Care edisi Juli 2024, pemeriksaan klinis menemukan karies dentin pada sepuluh gigi sekaligus: gigi nomor 52, 54, 62, 63, 64, 71, 74, 75, 81, dan 85. Dua gigi lainnya, nomor 51 dan 61, bahkan sudah mengalami nekrosis pulpa, kondisi di mana jaringan dalam gigi telah mati.
Penyebab kondisi ini sering berakar dari kebiasaan sehari-hari yang tampak tidak berbahaya. Membiarkan anak tidur sambil minum susu atau minuman manis membuat cairan itu menggenang di permukaan gigi atas. Saat tidur, produksi saliva menurun drastis, sehingga sisa minuman tidak tersapu bersih. Bakteri kariogenik pun berkembang tanpa hambatan, menggerogoti email gigi yang masih tipis dan rentan.
Dari Tangisan ke Kursi Gigi: Pendekatan Psikologis sebagai Kunci
Tantangan pertama bukan soal teknis kedokteran, melainkan soal kepercayaan.
Pada kunjungan pertama, tidak ada tindakan perawatan yang dilakukan. Dokter menggunakan metode Tell-Show-Do, yakni menjelaskan prosedur dengan bahasa yang sesuai usia anak, memperlihatkan alat, lalu baru melakukan tindakan. Orang tua dan anak diajarkan teknik menyikat gigi yang benar. Mereka bersepakat bahwa perawatan akan dilakukan secara bertahap, tidak terburu-buru.
“Pendekatan psikologis diperlukan agar pasien dapat kooperatif dan komunikatif.”
Hasilnya terlihat pada kunjungan kedua. Sang anak sudah berani membuka mulut. Perawatan pun dimulai.
Lima kali kunjungan dijalani secara terstruktur. Pada kunjungan pertama, gigi 54 dibersihkan dari karies dan ditambal dengan Glass Ionomer Cement (GIC), sementara gigi 52 direstorasi menggunakan teknik sandwich, kombinasi GIC sebagai liner dan resin komposit, dilengkapi strip crown untuk hasil estetik. Kunjungan kedua difokuskan pada gigi 51 dan 61 yang nekrosis pulpa, keduanya menjalani pulpektomi satu kunjungan dengan irigasi salin, pengisian kalsium hidroksida dan iodoform (Metapex®), lalu ditutup strip crown. Kunjungan berikutnya menyusul restorasi gigi-gigi lain secara sistematis, hingga pada kunjungan kelima seluruh perawatan tuntas dengan aplikasi fluoride topikal sebagai perlindungan akhir.
Mengapa GIC dan Fluoride Jadi Pilihan Utama
Pilihan material bukan kebetulan. GIC dipilih karena sifatnya yang melepaskan ion fluoride secara perlahan, toleran terhadap kelembapan tinggi dalam mulut anak, dan mudah diaplikasikan bahkan ketika pasien kurang kooperatif. Pada anak dengan hipersalivasi atau yang sulit diajak bekerja sama, GIC menjadi andalan.
Fluoride topikal yang diberikan di akhir sesi bekerja dengan cara menghambat demineralisasi email sekaligus memperkuat proses remineralisasi. Lapisan kalsium fluorida yang terbentuk pada permukaan email akan melepaskan ion fluoride secara gradual, memberikan perlindungan jangka panjang.
Hasil akhir perawatan menunjukkan perbaikan yang signifikan, baik secara fungsional maupun estetik. Gigi anterior atas yang semula hancur kini tampak utuh kembali berkat strip crown. Lebih dari itu, sang anak menunjukkan kepatuhan yang baik terhadap rutinitas kebersihan mulut yang diajarkan.
Gigi Susu Bukan Sekadar Sementara
Ada anggapan yang masih beredar luas di masyarakat: gigi susu tidak perlu dirawat toh akan tanggal sendiri. Anggapan ini keliru dan berbahaya.
Kehilangan gigi susu terlalu dini akibat karies yang tidak ditangani dapat mengganggu pertumbuhan gigi permanen, mengubah pola bicara, menyulitkan pengunyahan, hingga memengaruhi kepercayaan diri anak. Studi yang dikutip dalam laporan ini menunjukkan bahwa prevalensi karies tertinggi justru ditemukan pada anak di bawah lima tahun, kelompok yang paling sering luput dari perhatian.
Kasus si kecil dari RSGM UGM ini membuktikan bahwa dengan deteksi dini, kolaborasi antara dokter gigi, pasien, dan orang tua, serta kesabaran pendekatan perilaku yang tepat, gigi susu pun bisa diselamatkan. Dan bersama gigi yang pulih, kepercayaan diri seorang anak ikut tumbuh kembali.
Sumber DOI : http://10. 29238/ohc.v12i1.2390
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels