News

/

Artikel, Latest News

Foto Rontgen Gigi Bisa Ungkap Tulang Rapuh: Riset FKG UGM Buktikan Potensinya pada Perempuan Menopause

Bayangkan seorang perempuan berusia 65 tahun datang ke klinik gigi untuk pemeriksaan rutin. Ia tidak tahu bahwa tulang-tulangnya perlahan menipis. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada gejala mencolok. Namun di balik foto rontgen gigi yang diambil dokter, tersimpan petunjuk penting: struktur trabekula rahangnya mulai berubah, dan itu bisa menjadi sinyal awal osteoporosis.

Itulah inti dari penelitian yang dilakukan oleh drg. Silviana Farrah Diba, Sp.RKG., Subsp.RP(K), bersama tim dari Departemen Radiologi Kedokteran Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada. Studi ini diterbitkan dalam Saudi Dental Journal pada 2021 dan menawarkan pendekatan yang sederhana namun menjanjikan: memanfaatkan radiograf periapikal digital, alat yang sudah lazim di hampir semua klinik gigi, untuk menilai kualitas tulang pada perempuan pascamenopause.

Mengapa Rahang Bisa Menjadi Cermin Tulang Belakang?

Osteoporosis adalah penyakit yang diam-diam. Standar emas diagnosisnya, pemeriksaan dual-energy X-ray absorptiometry (DXA), memang akurat, tetapi mahal dan tidak tersedia di semua fasilitas kesehatan. Lebih dari itu, DXA hanya mengukur kepadatan mineral tulang (BMD), tanpa bisa menggambarkan arsitektur trabekula, yaitu jaringan berpola seperti spons di dalam tulang yang justru menjadi lokasi pertama kehilangan massa tulang pada perempuan pascamenopause.

Di sinilah radiograf periapikal masuk. Teknik pencitraan ini sudah lama digunakan dokter gigi untuk melihat kondisi akar gigi dan tulang alveolar. Tim peneliti FKG UGM berhipotesis bahwa gambar yang sama bisa dianalisis lebih jauh untuk menilai struktur trabekula mandibula, dan bahwa perubahan di sana berkorelasi dengan kondisi tulang di bagian tubuh lain.

Penelitian ini melibatkan 31 perempuan pascamenopause berusia 50 hingga 86 tahun, dengan rerata usia 65,2 tahun. Semua subjek menjalani pemeriksaan DXA di RSUP Dr. Sardjito untuk menilai BMD femur (BMDF) dan lumbar (BMDL), lalu diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok: normal, osteopenia, dan osteoporosis. Radiograf periapikal digital diambil pada regio posterior kanan dan kiri mandibula di Rumah Sakit Gigi dan Mulut UGM. Pada setiap gambar, tim menetapkan region of interest (ROI) berukuran 100×100 piksel, diposisikan sekitar 2 mm dari ujung apikal molar pertama rahang bawah.

Analisis trabekula dilakukan menggunakan perangkat lunak ImageJ dan plugin BoneJ, yang mengubah citra radiograf menjadi gambar biner hitam-putih. Dari sana, dua parameter diukur: persentase area tulang terhadap total area (BA/TA) dan ketebalan trabekula (Tb.Th).

Trabekula yang Menipis, Angka yang Berbicara

Hasilnya cukup mengejutkan dalam kesederhanaannya. Kedua parameter trabekula, BA/TA dan Tb.Th, menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok normal dan osteoporosis. Pada kelompok osteoporosis, nilai Tb.Th rata-rata hanya 34,13 piksel, jauh lebih rendah dibanding kelompok normal yang mencapai 60,70 piksel. BA/TA pun turun dari 0,525 pada kelompok normal menjadi 0,436 pada kelompok osteoporosis.

Yang menarik, perbedaan antara kelompok osteopenia dan normal tidak signifikan secara statistik. Artinya, perubahan trabekula baru terdeteksi jelas saat kondisi sudah memasuki tahap osteoporosis, bukan osteopenia.

Dari sisi korelasi, Tb.Th menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan BMD femur (r = 0,508; p < 0,05) dibandingkan BA/TA (r = 0,3796; p < 0,05). Temuan ini konsisten dengan fakta anatomis bahwa femur dan mandibula memiliki proporsi tulang trabekular dan kortikal yang serupa, berbeda dengan lumbar yang lebih didominasi trabekula dengan lapisan kortikal tipis.

“Dental radiography is a simple and affordable bone quality screening tool.” — Silviana Farrah Diba et al., Saudi Dental Journal, 2021

Apa Artinya bagi Klinik Gigi Sehari-hari?

Implikasi praktisnya tidak kecil. Jika radiograf periapikal terbukti bisa menjadi alat skrining awal kualitas tulang, maka kunjungan rutin ke dokter gigi bisa menjadi titik deteksi dini osteoporosis, terutama di daerah-daerah yang tidak memiliki akses mudah ke mesin DXA.

Penelitian ini memang masih memiliki keterbatasan. Jumlah subjek di kelompok normal hanya tiga orang, jauh lebih sedikit dibanding kelompok osteopenia yang berjumlah 22 orang. Distribusi yang tidak merata ini membatasi kekuatan statistik perbandingan antar kelompok. Tim peneliti juga mencatat bahwa ROI berbentuk persegi yang seragam mungkin kurang optimal dibanding ROI dengan bentuk yang mengikuti kontur trabekula secara lebih alami.

Ke depan, studi dengan sampel yang lebih besar dan ROI yang mencakup beberapa gigi posterior mandibula sekaligus diusulkan untuk memperkuat kesimpulan. Namun sebagai langkah awal, penelitian ini membuka jalur yang menarik: bahwa alat yang sudah ada di tangan dokter gigi setiap hari mungkin menyimpan potensi diagnostik yang belum sepenuhnya digali.

Perempuan pascamenopause kerap tidak menyadari perubahan tulang yang terjadi dalam tubuh mereka, sampai sebuah patah tulang terjadi. Foto rontgen gigi yang selama ini dianggap hanya urusan akar dan karies mungkin, suatu hari nanti, bisa menjadi jendela pertama yang memperingatkan kita sebelum terlambat.

Sumber DOI : https://doi.org/10.1016/j.sdentj.2021.07.003

Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.

Foto : Pexels

Tags

Share News

Related News
17 July 2026

Plester Gusi dari Beta-Karoten: Pelindung Tersembunyi Saat Foto Panoramik Gigi

17 July 2026

Saluran Tersembunyi di Balik Gigi Geraham: Temuan Peneliti FKG UGM yang Diterbitkan Jurnal Internasional

17 July 2026

Tulang Baru di Celah Lama: Harapan Ortodontik bagi Pasien Celah Bibir dan Langit-Langit

en_US