“Anda semua adalah pemenang. Ketika lahir, Anda menang 1 di antara sekitar 15 juta sperma. Jadi jangan loyo. Jangan malas. Orang yang sudah lahir sebagai pemenang harus memiliki cita-cita yang tinggi.”
-Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K)-
Riuh tepuk tangan memenuhi auditorium FKG UGM ketika Wali Kota Yogyakarta, Dr. Hasto Wardoyo, berdiri di hadapan ratusan mahasiswa baru FKG UGM. Namun, pagi itu ia tidak datang membawa pidato seremonial tentang kesuksesan. Ia justru membuka perjumpaan dengan kisah-kisah sederhana: menggembala kambing di Kulon Progo, menjadi dokter di pedalaman Kalimantan yang hanya bisa dijangkau perahu, hingga pengalaman tidur di atas kandang babi demi melayani masyarakat.
Di balik humor yang mengundang gelak tawa, tersimpan kritik mengenai arah pendidikan tinggi dan tantangan generasi muda saat ini. dr. Hasto mengajak mahasiswa baru FKG UGM untuk tidak hanya mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga membangun karakter, empati, dan integritas sebagai fondasi utama profesi dokter.
“Anda semua adalah pemenang. Ketika lahir, Anda menang satu di antara sekitar 15 juta sperma. Jadi jangan loyo. Jangan malas. Orang yang sudah lahir sebagai pemenang harus memiliki cita-cita yang tinggi.”
Kalimat itu menjadi benang merah kuliah inspiratif yang bukan sekadar memotivasi, tetapi juga mengajak mahasiswa merenungkan kembali makna perjuangan sejak awal kehidupan.
Pendidikan tidak boleh melahirkan dokter yang pintar tetapi gagal menjadi manusia Dalam paparannya, Hasto melontarkan kritik yang relevan terhadap pendidikan kesehatan.
Menurut Kepala BKKBN RI peroide 2019-2024 tersebut, dunia pendidikan sering kali terlalu sibuk mengejar hard skill, sementara pembentukan soft skills justru tertinggal. Ia menceritakan pengalaman panjangnya mendidik dokter spesialis kebidanan dan kandungan di UGM. Dari pengalaman itu, ia menyimpulkan bahwa kemampuan teknis hanya menentukan sebagian kecil keberhasilan seorang dokter ketika berhadapan langsung dengan masyarakat.
“Hard skill yang sudah 100 persen ternyata hanya menentukan sekitar 20 persen keberhasilan di lapangan. Kalau soft skill tidak bagus, dokter yang sangat pintar pun bisa kehilangan kepercayaan pasien.”

dr. Hasto mengisahkan ada dua dokter. Dokter pertama memiliki prestasi akademik sempurna. Diagnosisnya cepat dan akurat, tetapi minim komunikasi dan empati sehingga pasien justru enggan mengikuti pengobatannya.
Sebaliknya, dokter kedua tidak secerdas yang pertama, tetapi mampu membangun hubungan emosional dengan pasien. Pasien merasa didengar, dihargai, dan akhirnya percaya terhadap pelayanan yang diberikan.
Bagi dr. Hasto, keduanya sama-sama tidak ideal. Dokter yang hebat harus mampu menggabungkan kecakapan ilmiah dengan kemampuan memahami manusia.
“Hard skill tanpa soft skills to under-utilized. Sebaliknya, soft skills tanpa hard skill justru berbahaya. Dua-duanya harus berjalan bersama.”
Filosofi “Melipat Waktu”
Salah satu bagian paling menarik dalam kuliah umum itu adalah konsep “melipat waktu.”
Hasto mengaku menemukan konsep tersebut jauh sebelum mengenal teori manajemen waktu.
Sebagai anak desa yang sejak kecil menggembala kambing, ia harus belajar di sela-sela bekerja. Membaca buku dilakukan sambil menjaga ternak, memanfaatkan setiap celah waktu yang tersedia.
Menurutnya, waktu bukan sekadar dijalani, melainkan harus dioptimalkan.
“Kalau mau sukses, waktu itu bisa dilipat. Bukan menambah jam, tetapi mengisi setiap celah dengan hal-hal yang membuat kita bertumbuh.”
Namun, dr. Hasto juga mengingatkan bahwa “melipat waktu” bukan berarti mengorbankan kesehatan.
Menjawab pertanyaan mahasiswa mengenai cara mengatur waktu tanpa kelelahan, ia menegaskan bahwa ritme biologis manusia tetap harus dihormati.
“Silakan melipat waktu. Tidur tetap 6 sampai dengan 8 jam. Yang dilipat adalah waktu-waktu kosong yang selama ini terbuang.”
Resiliensi di Tengah Generasi yang Rentan
Salah satu sesi yang paling mendapat perhatian terjadi ketika mahasiswa bertanya tentang overthinking, kecemasan, dan tekanan akademik. dr. Hasto mengungkapkan bahwa persoalan kesehatan mental pada generasi muda kini jauh lebih besar dibanding generasinya dahulu.
“Hari ini mental disorder pada remaja sekitar 9,8 persen. Lingkungan kalian memang lebih berat. Karena itu mental harus dijaga bersama moral.”
Menurutnya, ada 3 modal utama untuk meraih kesuksesan. Bukan hanya kecerdasan. Bukan pula hanya energi, tetapi juga integritas.
“Orang sukses itu hanya memiliki tiga faktor utama: intellectuality, energy, & integrity. Kalau integritas tidak ada, dua yang lain menjadi tidak berarti.”
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati membangun lingkungan pergaulan.
“Toxic friendship” & “toxic partnership“, menurutnya, perlahan dapat mengikis semangat belajar dan kesehatan mental mahasiswa.
Kepemimpinan Berawal dari Kemauan Menghayati Penderitaan
Dalam sesi lain, dr. Hasto menghubungkan kepemimpinan dengan kemampuan memahami realitas sosial.
Saat menjadi dokter di pedalaman Kalimantan, ia bukan hanya merawat pasien, tetapi juga mengajar anak-anak sekolah, melatih Pramuka, hingga mengantar pasien menggunakan perahu.
Pengalaman itu mengubah cara pandangnya mengenai kepemimpinan. “Pemimpin harus berani melakukan perubahan. Ide besar lahir ketika kita benar-benar menghayati kemiskinan, keterbelakangan, dan persoalan masyarakat.”
Ia bahkan mengaku mendapat pelajaran hidup paling berharga bukan dari ruang kuliah, melainkan dari seorang tokoh masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan.
Kalimat sederhana itu terus diingatnya hingga kini. “Perlakukanlah orang lain dengan perasaan, tetapi perlakukan diri sendiri dengan fisik.”
Bagi dr. Hasto, empati bukan sekadar teori komunikasi, melainkan keterampilan yang harus dilatih sepanjang hidup.

Dokter Gigi Harus Menjadi Pemimpin
Menutup pertemuan, dr. Hasto memberikan pesan khusus kepada mahasiswa baru FKG UGM.
Ia menilai profesi dokter gigi memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang, bahkan hingga ke bidang kepemimpinan dan manajemen pemerintahan.
Menurutnya, yang saat ini juga menjadi Walikota Yogyakarta, di Kota Yogyakarta banyak dokter gigi yang sukses menjadi kepala dinas, kepala puskesmas, hingga pemimpin organisasi pelayanan kesehatan.
“Dokter gigi bukan hanya profesi klinis. Banyak dokter gigi yang berhasil menjadi manajer dan pemimpin pelayanan kesehatan.”
“Semangat harus tinggi. Keterampilan harus dibangun dengan membaca. Dan yang paling penting, hard skill harus berjalan seimbang dengan soft skills.”
Dalam konteks itulah, dr. Hasto menegaskan bahwa pendidikan yang terlalu berorientasi pada aspek teknis patut menjadi bahan refleksi. Universitas tidak cukup hanya mencetak tenaga profesional, tetapi juga harus membentuk manusia yang mampu mendengar, merasakan, dan memimpin dengan hati.
Sebab pada akhirnya, sebagaimana filosofi yang ia sampaikan kepada mahasiswa baru FKG UGM, dokter terbaik bukanlah mereka yang hanya pandai mengobati penyakit, melainkan mereka yang mampu menumbuhkan harapan kesehatan.
(Reporter: Andri Wicaksono, Photo: Fajar Budi Harsakti)