Siapa sangka bumbu dapur yang harganya tak lebih dari beberapa ribu rupiah itu menyimpan potensi medis yang cukup untuk mengalahkan obat paten? Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K) dari Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada justru menemukan jawabannya di lapisan epitelium gingiva tikus Wistar.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of Medical Sciences (Volume 45, No. 2, Juni 2013), Bramanti bersama koleganya dari Departemen Farmakologi dan Terapi FK UGM, Ngatidjan dan Setyo Purwono, membuktikan bahwa gel ekstrak etanol bawang putih (Allium sativum L) mampu mempercepat penyembuhan luka gingiva, khususnya dengan meningkatkan ketebalan epitelium jaringan luka.
Luka Kecil, Pertanyaan Besar
Penelitian ini berangkat dari problem yang tampak sederhana namun menyentuh kebutuhan nyata masyarakat: obat-obatan penyembuh luka rongga mulut yang tersedia di pasaran relatif mahal dan tidak jarang menimbulkan efek samping serius. Bawang putih, yang secara tradisional telah digunakan sejak lebih dari 5.000 tahun lalu, termasuk oleh masyarakat Yunani kuno untuk meredakan nyeri gigi, menjadi kandidat yang logis untuk diteliti lebih jauh.
Tim peneliti membuat luka eksisi berdiameter 2,5 mm menggunakan punch biopsy pada gingiva labial rahang bawah, tepat di antara gigi insisivus kanan dan kiri tikus. Tiga puluh tikus jantan Wistar berusia 10 minggu dibagi menjadi lima kelompok perlakuan: kontrol negatif (gel Na CMC), kontrol positif (gel Benzydamine®), serta tiga kelompok yang mendapatkan gel ekstrak etanol bawang putih dengan konsentrasi 20%, 40%, dan 80%. Gel dioleskan tiga kali sehari selama tujuh hari, dan jaringan luka diambil pada hari ke-5 dan ke-7 untuk pemeriksaan histologis.
Sebelum uji pada hewan, tim juga memverifikasi kandungan aktif ekstrak menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Hasilnya, allicin dan alliin, dua senyawa aktif utama bawang putih, teridentifikasi jelas dalam ekstrak maupun sediaan gel.
Epitelium yang Lebih Tebal, Harapan yang Lebih Nyata
Temuan paling menonjol muncul pada hari ke-5: ketebalan epitelium jaringan luka pada semua kelompok yang mendapat gel ekstrak bawang putih secara signifikan lebih tinggi dibanding kelompok kontrol negatif (p<0,05). Bahkan, efeknya setara dengan Benzydamine® yang merupakan obat komersial.
“Pemberian ekstrak etanol bawang putih topikal mempercepat proses penyembuhan luka gingiva tikus dengan meningkatkan ketebalan epitelium.” — Bramanti et al., Journal of Medical Sciences, 2013
Namun hasil ini datang dengan catatan penting. Jumlah pembuluh darah baru dan jumlah fibroblas pada kelompok perlakuan tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibanding kontrol negatif (p>0,05). Artinya, mekanisme kerja bawang putih dalam penyembuhan luka gingiva tampaknya lebih terfokus pada re-epitelisasi, bukan pada angiogenesis atau proliferasi fibroblas.
Peneliti menduga efek ini dimediasi oleh kandungan antiinflamasi dalam bawang putih, yakni allicin, flavonoid, dan triacremonone. Senyawa-senyawa tersebut menekan fase inflamasi sehingga fase proliferatif, termasuk re-epitelisasi, dapat berlangsung lebih cepat.
Antara Dapur dan Klinik
Ekstrak bawang putih untuk penelitian ini diperoleh dari pasar tradisional di Tawangmangu, Jawa Tengah, kemudian diproses melalui maserasi dengan etanol 70% dan dikonsentrasikan menggunakan rotary evaporator di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM. Proses formulasi gelnya dilakukan di Departemen Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi UGM, menjadikan penelitian ini benar-benar lintas departemen.
Temuan ini membuka percakapan yang relevan bagi praktik kedokteran gigi: apakah fitofarmaka berbasis tanaman lokal bisa menjadi alternatif yang valid, terutama untuk komunitas yang aksesnya terhadap obat-obatan modern terbatas? Penelitian Bramanti et al. belum menjawab pertanyaan itu secara klinis pada manusia, tetapi memberikan landasan ilmiah yang cukup kuat untuk langkah selanjutnya.
Luka gingiva yang sembuh lebih cepat, dengan bahan yang tumbuh di kebun sendiri. Sederhana, tapi implikasinya jauh dari itu.
Penulis : Nanda Ayu , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels