Bayangkan bakteri yang selama ini hidup tenang di rongga mulut Anda, tiba-tiba berubah menjadi ancaman mematikan di hati. Bukan fiksi ilmiah. Itulah yang bisa dilakukan Streptococcus intermedius, mikroba komensal yang dikenal jinak, namun menyimpan kemampuan merusak sel manusia lewat racun yang ia produksi sendiri.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Indonesian Journal of Cancer Chemoprevention mengungkap temuan mengejutkan: dua obat imunosupresan yang sudah lama dikenal luas, yakni Cyclosporine A (CsA) dan tacrolimus (FK506), ternyata mampu memblokir secara penuh jalur aktivasi peradangan yang dipicu oleh racun bakteri tersebut. Penelitian ini dipimpin oleh Prof. drg. Heni Susilowati, M.Kes., Ph.D., PBO, dari Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bersama tim peneliti dari The University of Tokushima Graduate School, Jepang.
Dari Mulut ke Hati: Perjalanan Racun yang Tak Terduga
S. intermedius bukan bakteri asing. Ia menghuni rongga mulut, saluran cerna, dan saluran urogenital manusia secara normal. Namun sejumlah strain bakteri ini memproduksi protein bernama intermedilysin (ILY), sebuah toksin sitolitik yang spesifik menyerang sel manusia dan menjadi penyebab utama virulensnya.
Yang membuat ILY berbahaya adalah kemampuannya memicu lonjakan kalsium di dalam sel. Kenaikan kalsium intraseluler ini mengaktifkan enzim calcineurin, yang kemudian mendorong translokasi faktor transkripsi NFAT1 (Nuclear Factor of Activated T Cells 1) ke inti sel. Begitu NFAT1 masuk ke nukleus, ia menghidupkan gen-gen yang mengatur respons imun dan peradangan. Dalam konteks infeksi bakteri, aktivasi berlebihan jalur ini justru bisa memperparah kerusakan jaringan.
Dalam studi ini, tim peneliti menggunakan sel karsinoma saluran empedu manusia (HuCCT1), yang merupakan model relevan karena S. intermedius kerap ditemukan pada kasus abses hati dan penyakit bilier. Sel-sel tersebut dipapar ILY dalam berbagai konsentrasi, lalu diamati perubahan morfologinya.
Hasilnya cukup mengganggu untuk dilihat. Sel yang terpapar ILY 40 ng/ml menunjukkan penyusutan ukuran, kehilangan prosesus sitoplasma, dan kondensasi nukleus yang merupakan tanda-tanda kematian sel. Lebih jauh, NFAT1 terdeteksi berpindah masuk ke inti sel secara bergantung dosis: semakin tinggi konsentrasi ILY, semakin banyak sel yang menunjukkan translokasi positif.
Dua Obat Lama, Satu Temuan Baru
Di sinilah bagian yang paling menarik dari penelitian ini.
Tim Prof. Heni kemudian menguji apakah CsA dan FK506, dua inhibitor calcineurin yang sudah puluhan tahun dipakai dalam transplantasi organ dan pengendalian autoimun, bisa menghentikan aktivasi NFAT1 yang dipicu oleh ILY. Sel HuCCT1 diberi pretreatment dengan CsA atau FK506 selama 30 menit sebelum dipapar ILY, lalu diamati dengan mikroskop imunofluoresensi.
Hasilnya tegas: keduanya berhasil memblokir translokasi nukleus NFAT1 secara penuh. CsA efektif pada konsentrasi 100 nM, sementara FK506 bekerja pada konsentrasi 5 ng/ml. Yang menarik, FK506 terbukti sekitar 16 kali lebih poten dibanding CsA dalam mencegah aktivasi NFAT1 yang diinduksi ILY.
“Mengingat kemampuan CsA dan FK506 mencegah aktivasi NFAT1 pada sel HuCCT1 yang terinfeksi ILY, kami menyarankan bahwa inhibitor calcineurin ini berpotensi berfungsi sebagai regulator kuat respons inflamasi dalam infeksi yang disebabkan oleh S. intermedius penghasil ILY.”
Perbedaan potensi antara keduanya dijelaskan melalui mekanisme kerja yang berbeda. FK506 bekerja dengan berikatan pada protein FKBP, membentuk kompleks FK506-FKBP yang stabil, dan kompleks inilah yang kemudian menghambat calcineurin. Mekanisme ini juga memengaruhi jalur aktivasi yang tidak sensitif terhadap CsA, sehingga cakupan penghambatannya lebih luas.
Mengapa Ini Penting bagi Kedokteran Gigi
Studi ini bukan sekadar biologi molekuler yang rumit di balik meja laboratorium. Ada implikasi klinis yang nyata, terutama bagi profesi kedokteran gigi.
S. intermedius adalah penghuni setia rongga mulut. Infeksi odontogenik, atau infeksi yang berasal dari gigi dan jaringan pendukungnya, dapat menjadi pintu masuk bakteri ini ke sirkulasi sistemik. Dari sana, ia bisa mencapai hati, otak, bahkan sistem saraf pusat. Kasus-kasus abses otak dan abses hati akibat bakteri ini sudah pernah dilaporkan dalam literatur medis.
Temuan bahwa jalur inflamasi akibat toksin bakteri mulut ini bisa dikendalikan secara farmakologis membuka peluang baru. Penelitian ini memberikan landasan molekuler untuk memahami bagaimana infeksi S. intermedius memicu penyakit bilier dan bagaimana respons peradangannya bisa dimoderasi.
Tentu, perjalanan dari temuan laboratorium ke aplikasi klinis masih panjang. Namun jarang ada studi yang berhasil menghubungkan bakteri komensal rongga mulut, jalur sinyal kalsium-calcineurin, dan potensi terapi anti-inflamasi dalam satu rangkaian eksperimen yang bersih. Penelitian Prof. Heni dan timnya melakukan tepat itu, dan hasilnya layak untuk diperhatikan lebih lanjut.
Sumber DOI : http://dx.doi.org/10.14499/indonesianjcanchemoprev1iss2pp67-73
Penulis : Anny Anggraini , drg. Achmad Zam Zam Aghasy, M.Kes.
Foto : Pexels